Kemendikbud: Orang tua perlu beri keteladanan dalam penggunaan gawai

Kemendikbud: Orang tua perlu beri keteladanan dalam penggunaan gawai

Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hendarman dalam webinar di Jakarta, Sabtu (21/11/2020). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hendarman mengatakan orang tua perlu menunjukkan keteladanan dalam penggunaan gawai.

“Orang tua harus menunjukkan keteladanan agar tidak menggunakan gawai di depan anak-anaknya pada waktu yang telah disepakati,” ujar Hendarman di Jakarta, Sabtu.

Baik orang tua dan anak perlu membuat kesepakatan mengenai pembatasan penggunaan gawai. Kesepakatan itu merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kerja sama di dalam keluarga.

Dia menambahkan hal itu menjadi tantangan bagaimana orang tua dapat mengajak anak-anaknya untuk patuh pada kesepakatan. Hal itu mensyaratkan kemampuan komunikasi orang tua.

Baca juga: Rani Pancarani beri pendidikan bahaya telepon genggam bagi anak

Baca juga: KPAI: Perlu pendampingan ketika anak menggunakan telepon genggam

Dalam kesempatan itu, Hendarman menambahkan bahwa orang tua perlu membatasi anaknya dalam bermain gawai. Terutama pada saat pandemi COVID-19, yang mana pembelajaran juga dilakukan secara daring sehingga intensitas penggunaan gawai semakin tinggi.

“Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengawasi hal itu. Pemerintah tidak punya kewenangan, begitu juga sekolah dan guru, karena saat di rumah yang menjadi orang tua adalah guru. Orang tua merupakan guru utama dan pertama.

Seyogyanya, orang tua mengajarkan dan mendidik anak dengan disiplin waktu atau pembatasan penggunaan gawai.

Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, mengatakan para orang tua harus memberi teladan agar tidak kecanduan pada gawai.

“Sekarang, bagaimana anak tidak kecanduan pada gawai, jika ayah dan ibunya juga asik berinternet saban malam. Padahal anaknya ingin ngobrol, curhat tentang sekolah dan temannya, atau diskusi yang agak berat," ujar Satriwan 

Harus ada waktu momentum bersama anak di sore atau malam hari dimana gawai harus ditaruh dan tidak digunakan saat mendengarkan anak.

Jika hal itu tidak dipraktikkan maka jangan heran jika anak akan meniru idolanya di media sosial tanpa filter. Sebab karakter mereka dibentuk oleh idola dan media sosialnya bukan oleh orang tua dan gurunya.*

Baca juga: Studi: radiasi telepon genggam bisa perlemah kinerja ingatan pada remaja

Baca juga: Mensos luncurkan nomor pengaduan kekerasan terhadap anak 1-500-771

Pewarta : Indriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020