Masa tanggap darurat bencana di Lembata diperpanjang

Masa tanggap darurat bencana di Lembata diperpanjang

Pengungsi erupsi gunung api Ili Lewotolok sedang beristirahat di salah satu tenda pengungsi di halaman kantor perpustakaan daerah Lembata, NTT, Rabu (2/12/2020).Pemerintah Kabupaten Lembata menyatakan bahwa hingga saat ini kebutuhan akan masker bagi para pengungsi erupsi gunung Ili Lewotolok sangat mendesak . ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lembata kembali memperpanjang masa tanggap darurat bencana di kabupaten Lembata setelah pihaknya mendapatkan rekomendasi dari pihak pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi (PVBMG) bahwa gunung Ili Lewotolok masih terus mengeluarkan material vulkaniknya.

"Iya kami perpanjang lagi masa tanggap darurat bencananya karena memang saat ini status gunung sesuai yang dikeluarkan oleh PVBMG) masih dalam status siaga," kata Sekda NTT Paskalis Ola Tapobali kepada ANTARA saat dihubungi dari Kupang, Sabtu.

Hal ini disampaikan berkaitan dengan perkembangan status tanggap darurat bencana di kabupaten Lembata setelah sejak tanggal 29 November hingga Sabtu (12/12) hari ini pascaerupsi gunung Ili Lewotolok.

Ia mengatakan bahwa perpanjangan masa tanggap darurat bencana tersebut akan berlangsung selama dua pekan sambil melihat kondisi gunung Ili Lewotolok yang hingga saat ini masih terus mengeluarkan material vulkaniknya.

Baca juga: Waspadai lahar dingin dari Gunung Ili Lewotolok saat hujan lebat

Baca juga: Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok masih terus berlangsung


"Ya sesuai dengan aturannya masa tanggap darurat ini dua minggu. Tetapi kita lihat lagi kondisi di lapangan kalau dalam perjalanan status gunungnya turun dari Siaga ke Waspada maka masa tanggap daruratnya akan dicabut," tambah dia.

Hingga saat ini ujar dia, jumlah pengungsi yang masih berada di lokasi pengungsian dan di rumah-rumah keluarga di Lembata mencapai 8.097 ribu jiwa. Sementara yang ditampung oleh Pemda di 20 titik lokasi pengungsian hanya mencapai 3 ribuan pengungsian.

Lebih lanjut Paskalis menambahkan bahwa mereka yang masih berada di lokasi pengungsian itu adalah warga rumah mereka berada di kawasan rawan bencana (KRB) baik itu KRB 2 dan KRB 3.

"Mereka ini adalah warga yang rumah mereka berada di kawasan rawan bencana dan radiusnya sekitar 2-4 kilometer dari puncak gunung. Sehingga mereka juga belum bisa dipulangkan," tambah dia.

Sementara itu laporan dari pos pemantauan gunung Ili Lewotolok sejak pukul 06.00 wita hingga pukul 12.00 wita jumlah letusan yang terjadi di puncak gunung itu mencapai 16 kali letusan dan mengeluarkan asap berwarna putih kelabu setinggi 200-300 meter di sertai dengan gemuruh-dentuman lemah-sedang.

Baca juga: Puluhan suku di lereng Gunung Ili Lewotolok gelar ritual

Baca juga: Erupsi gunung Ili Lewotolok tak ada kaitan dengan gunung api lain

 
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020