Epidemiolog: Patuhi prokes meski vaksin akan dijalankan

Epidemiolog: Patuhi prokes meski vaksin akan dijalankan

Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr Windhu Purnomo. ANTARA/Willy Irawan.

Surabaya (ANTARA) - Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr Windhu Purnomo mengingatkan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan COVID-19 meskipun program vaksinasi akan dijalankan.

"Masyarakat jangan hanya mengandalkan vaksin. Protokol kesehatan seperti '3M' (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) harus tetap dipatuhi agar pandemi ini segera berlalu," ujarnya di Surabaya, Kamis.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair itu menjelaskan program vaksinasi baru efektif mengendalikan pandemi kalau cakupannya minimal mencapai 70 persen populasi.

"Itupun, jika tidak ada varian baru COVID-19 yang lebih ganas," ucapnya.

Baca juga: Epidemiolog: Informasikan kejadian pascaimunisasi pada masyarakat

Semakin tinggi kemungkinan penularan COVID-19, kata dia, maka herd imunity harus semakin tinggi proporsi yang harus divaksin.

"Masalahnya kita tidak tahu kapan akan tercapai 70 persen atau 189 juta orang yang divaksin itu. Padahal ketersediaan vaksin tergantung dari luar negeri karena kita belum bisa memproduksi vaksin sendiri. Kita baru bisa memproduksi tahun 2022," katanya.

Saat ini, lanjut dia, di dunia masih tersedia 11 vaksin yang telah menyelesaikan uji tahap ketiganya, atau jumlah tersebut sangat kecil jika melihat kebutuhan dari 200 negara yang terkena COVID-19.

Sementara Indonesia butuh sekitar 400 juta dosis vaksin jika termasuk vaksin yang tidak terpakai karena rusak.

Baca juga: Epidemiolog: Ketersediaan vaksin bukan berarti abai protokol kesehatan

Windhu memperkirakan dalam satu bulan, Indonesia hanya mampu menyuntikkan 35 juta dosis vaksin.

"Jumlah itu dalam sebulan meng-cover 15 juta orang. Sementara vaksinasi membutuhkan waktu lebih setahun. Artinya pandemi baru akan berakhir lebih dari setahun atau 18 bulan," tuturnya.

"Jadi, jangan mengandalkan vaksin. Kita harus tiru negara lain, seperti Australia, Vietnam, China sudah terkendali sebelum vaksin ada. Vaksin itu supaya mencegah wabah baru. Kita harusnya bisa," katanya menambahkan.

Dia kembali menyatakan kunci dari pengendalian COVID-19 ialah disiplin protokol kesehatan atau 3M.

"Pemerintah harus testing dan tracing. Pandemi ini berhasil dikendalikan jika dapat mengisolasi orang yang positif. Mereka bisa dilihat jika dites. Vaksin hanya mempercepat tapi bukan andalan. Masyarakat harus 100 persen 3M, paling penting adalah menjaga jarak," kata Windhu.

Baca juga: Epidemiolog: Mobilitas warga perlu dibatasi seperti awal pandemi
Baca juga: Wiku: Perlu tekan penularan COVID-19 untuk kelancaran vaksinasi
Pewarta : Fiqih Arfani/Willy Irawan
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021