Anemia pada remaja berisiko meningkat hampir dua kali saat hamil

Anemia pada remaja berisiko meningkat hampir dua kali saat hamil

Pakar gizi Prof dr. Endang Achadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) berbicara dalam acara temu media secara virtual untuk memperingati Hari Gizi Nasional ke-61, Jakarta, Jumat (22/1/2021). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Prevalensi penyakit anemia atau kurang darah pada usia remaja berisiko meningkat hampir dua kali lipat pada saat menjadi ibu hamil, yaitu dari 22,7 persen menjadi 37,1 persen atau meningkat sekitar 15,8 persen atau hampir dua kali lipat.

"Jadi sebenarnya tidak bisa dihitung secara matematis. Tapi kalau dilihat, remaja putri prevalensinya 22,7 persen. Pada saat hamil prevalensinya itu menjadi 37,1 persen," kata pakar gizi Prof dr. Endang Achadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dalam acara temu media secara virtual untuk memperingati Hari Gizi Nasional ke-61, Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan bahwa pada saat menjadi ibu hamil, ada peningkatan prevalensi risiko anemia yang lebih besar atau hampir dua kali lipat dibandingkan pada saat perempuan tersebut masih remaja.

Peningkatan itu, katanya, dipengaruhi oleh adanya defisiensi zat besi atau berkurangnya zat besi dalam darah karena kebutuhan yang cukup tinggi pada saat hamil.

Walaupun perempuan tersebut pada masa remajanya tidak mengalami anemia, tetapi saat hamil dia bisa menjadi anemia, karena zat besi dalam darahnya sudah habis untuk memenuhi kebutuhan zat besinya sendiri saat hamil dan juga kebutuhan zat besi bayi yang dikandungnya.

Baca juga: Manfaat buah naga, cegah anemia hingga jaga kesehatan mata

Baca juga: Anemia saat hamil dan asap rokok dapat akibatkan "stunting" bayi

Dan pada seseorang yang sejak remajanya sudah mengalami anemia, maka prevalensi risiko anemianya bisa cenderung meningkat hampir dua kali lipat pada saat menjadi ibu hamil, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami anemia saat remaja.

Sementara itu, untuk kebutuhan zat besi bagi tubuh, Endang mengatakan bahwa tubuh dapat menyerap zat besi antara 1 - 2 miligram setiap hari.

"Jadi intinya kebutuhan besi itu yang diserap oleh tubuh lebih kurang 1 - 2 miligram," katanya.

Kemudian, untuk mengatasi kekurangan gizi pada remaja selama pandemi COVID-19, Endang mengatakan bahwa selain perlu memenuhi kebutuhan zat besi dengan asupan gizi yang seimbang dari makanan yang dikonsumsi, para remaja juga bisa mendapatkan tablet tambah darah (TTD) dari Puskesmas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, atau juga bisa membeli TTD tersebut di apotek.

"Sebenarnya kalau bisa mendapatkan dari Puskesmas. Itu bisa diambil sekaligus. Atau boleh beli di apotek. Yang penting dilihat itu ada (kandungan) 60mg zat besi elementalnya," demikian kata Endang.

Baca juga: 5 cara cegah anemia yang mudah dilakukan

Baca juga: Seberapa umum kejadian anemia defisiensi besi di Indonesia?

 
Pewarta : Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021