Pakar: Hidden Hunger, persoalan gizi yang harus dientaskan

Pakar: Hidden Hunger, persoalan gizi yang harus dientaskan

Pakar Gizi Prof Dr Ir Dodik Briawan pada peringatan virtualdalam memperingati Hari Gizi Nasional, Senin (25/1/2021). ANTARA/Suriani Mappong.

Makassar (ANTARA) - Pakar Gizi Prof. Dr. Ir Dodik Briawan, MCN yang merupakan alumni Institut Pertanian Bogor mengatakan, hidden hunger atau kelaparan tersembunyi merupakan pesoalan gizi yang harus dientaskan bersama.

Hal itu dikemukakan Dodik dalam merefleksikan peringatan Hari Gizi Nasional pada pertemuan virtual dengan pelaku media di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, Senin.

Pada pertemuan virtual yang mengusung tema "Kelezatan Makanan Begizi Seimbang dengan Iodium" itu, dia mengatakan kelaparan tersembunyi ini dapat terjadi pada lintas generasi.

"Hidden hunger atau kelaparan yang tersembunyi ini disebabkan kekurangan asupan gizi dari kekurangan vitamin, mineral dan Iodium," katanya.

Baca juga: Mencegah bayi stunting dari calon ibu

Baca juga: Pemprov Sulsel alokasikan anggaran Rp8 miliar tangani "stunting"


Kondisi itu, dapat terjadi pada anak balita, remaja dan dewasa alias lintas generasi.

Sementara kondisi Indonesia ditinjau dari Global Hidden Hunger Index, kata Dodik, Indonesia berada pada urutan ke-70 dari 107 negara.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat perlu memperbaiki gizi secara global maupun nasional.

Sekarang ini, remaja harus bebas anemia karena masih banyak yang kekurangan kebutuhan pangan zat besi. Begitu pula dengan iodium. Berdasarkan hasil survei, defisiensi iodium secara survei nasional itu sekitar 14,9 persen ini pada balita dan ibu hamil

"Bahkan bisa mencapai 20-30 persen pada anak dan ibu hamil bisa sampai 50 persen," katanya.

Dari semuanya itu, Dodik mengatakan, dari jumlah populasi yang ada bisa 20-40 persen mengalami defisiensi zat mikro tadi (zat besi, Iodium).

Sejak awal 1990an atau hampir 30 tahun silam, sebenarnya istilah kelaparan tersembunyi itu sudah dikenal, tapi nampaknya masalah global ini belum bisa terselesaikan dengan baik, karena rata-rata pemahaman dan kesadaran masyarakat masih kurang.

"Kebanyakan ibu-ibu kalau melihat anaknya bisa main, bisa sekolah itu sudah senang. Padahal jika gizinya tidak mencukupi, pertumbuhannya tidak akan optimal, juga prestasi akademiknya tidak bagus. Itu ciri-ciri hidden hunger tadi," katanya.

Karena itu, persoalan ini bukan tugas pemerintah saja, namun semua pihak khususnya peran keluarga sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.*

Baca juga: Dinkes Mataram pantau empat penderita gizi buruk

Baca juga: Ratusan anak balita di kota Kupang menderita gizi buruk

 
Pakar Gizi Prof Dr Ir Dodik Briawan pada peringatan virtualdalam memperingati Hari Gizi Nasional, Senin )(25/1/2021). ANTARA Foto/ Suriani Mappong
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021