Dikti dukung penanganan stunting di Tanah Air

Dikti dukung penanganan stunting di Tanah Air

Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita saat kegiatan Posyandu balita khusus daerah pedalaman di Desa Matabundu, Kecamatan Laonti, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Jumat (13/11/2020). ANTARA FOTO/Jojon/wsj/am.

Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendukung program penanganan kasus stunting atau gangguan pertumbuhan fisik dan otak pada anak karena kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, yang digalakkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Program ini bertujuan menggerakkan perguruan tinggi untuk mendorong mahasiswa dalam delapan aktivitas Kampus Merdeka yang dilakukan di luar kampus demi membantu penanganan stunting,” ujar Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, Aris Junaidi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Ahli: Anemia dapat sebabkan sejumlah persoalan gizi

Baca juga: Wamen Desa optimistis angka stunting turun jadi 14 persen pada 2024

Dukungan tersebut terwujud dalam program Kampus Siaga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Bidang Gizi (AIPGI).

“Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, memberikan peluang bagi mahasiswa kesehatan untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan mengenai stunting. Mahasiswa selama satu semester dapat mendampingi kasus stunting, namun harus dilakukan diseminasi dan pengarahan oleh dosen sebelum terjun ke lapangan,” kata Aris.

Awalnya, program Kampus Merdeka terkait hak belajar tiga semester di luar program studi memang tidak berlaku bagi program studi kesehatan. Namun, seiring berkembangnya waktu sudah banyak praktik yang sudah diimplementasikan oleh bidang kesehatan.

Misalnya, dalam kegiatan Kampus Merdeka berupa proyek kemanusiaan dan program relawan menggerakkan puluhan ribu mahasiswa kesehatan dalam penanganan COVID-19.

Menurut Aris, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka saat ini lebih fleksibel bagi mahasiswa kesehatan, mengingat kondisi sekarang.

Menurut Aris, pendidikan tinggi juga berperan memberikan rekomendasi dari hasil kajian atau penelitian dalam penanganan stunting. Tidak kalah penting, implementasi praktik penanganan percepatan penurunan stunting di tingkat wilayah dengan melakukan edukasi dan promosi kepada masyarakat melalui pendekatan keluarga melalui kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga terkait merupakan kebijakan dari pendidikan tinggi.

Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Kartini Rustandi mengungkapkan adanya peran perguruan tinggi yang sangat penting dalam meyakinkan para pemimpin daerah bahwa stunting bukan hanya urusan kesehatan.

Selain itu, juga membantu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai permasalahan gizi dan isu gizi, serta pengabdian masyarakat perguruan tinggi dapat membantu mendata mengenai kasus yang ada, sehingga dapat menjadi data yang utuh, lengkap dan terpadu.

Baca juga: Presiden tekankan BKKBN pegang kendali pencegahan stunting

Baca juga: Kepala BKKBN ungkap penyebab stunting di Indonesia

Ketua Forum Rektor Indonesia Arif Satria mengatakan generasi muda harus mampu memberikan peran penting terutama di bidang gizi, sehingga mampu membawa nama baik Indonesia dalam memperbaiki permasalahan gizi terutama dalam permasalahan anemia pada remaja dan stunting.

“Ini dapat dilakukan dengan mengedukasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai stunting, terutama kepada penduduk miskin,” kata Arif.

Pewarta : Indriani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021