BKKBN Kalbar mengajak masyarakat cegah stunting

BKKBN Kalbar mengajak masyarakat cegah stunting

Dokumentasi - Kegiatan sosialisasi materi dan media KIE bersama mitra kerja dalam rangka pencegahan stunting di masa pandemi COVID-19 di Desa Mak Rampai, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalbar. ANTARA/HO.

Pontianak (ANTARA) - Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Barat (Kalbar) Tenny C Soriton mengajak seluruh masyarakat dalam mencegah stunting (kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis) dengan selalu menghindari empat terlalu, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak.

"Kalbar masih masuk 10 provinsi terbesar kasus stunting, untuk itu mari seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam menurunkannya, karena bila tidak ditangani dengan baik maka mengganggu kemajuan pembangunan keluarga dan SDM yang berkualitas serta mandiri," kata Tenny C Soriton, di Pontianak, Rabu.

Dia menjelaskan, masalah stunting seharusnya menjadi perhatian penting dan tidak dapat diremehkan.

"Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga periode awal kehidupan anak (1.000 hari pertama kehidupan)," ujarnya.

Dia menambahkan, dengan usaha bersama untuk menghindari anak-anak dari terpapar stunting, karena anak adalah aset dan menjadikan generasi Kalbar yang sehat, maju, dan mandiri.

Menurutnya, masih tingginya angka stunting di Kalbar disebabkan beberapa faktor, di antaranya masih tingginya "empat terlalu", seperti angka perkawinan usia muda dan jarak melahirkan masih terlalu dekat, termasuk kurangnya asupan gizi pada anak-anak pada 1.000 hari pada usia pertama kehidupan.

Selain itu, enam langkah pola asuh 1.000 hari pertama kehidupan yang wajib diketahui dan diterapkan, yaitu selama kehamilan ibu harus mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, kemudian harus melakukan pemeriksaan minimal empat kali selama kehamilan, serta memberikan stimulasi pada janin dalam kandungan, katanya pula.

Para ibu juga harus memberikan Inisiasi Menyusui Dini Air Susu Ibu (IMD-ASI) eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping (MP) ASI sampai dengan usia anak dua tahun, serta memperkenalkan makanan bergizi pada anak sesuai dengan usia.

Terakhir memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sesuai dengan usianya, serta memantau perkembangan anak dengan Kartu Kembang Anak (KKA), katanya lagi.

"Kaitan dengan hal itu, BKKBN bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalbar dan OPDKB kabupaten/kota serta pihak-pihak terkait telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, salah satunya melakukan pelayanan KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ke seluruh pelosok Kalbar," kata dia pula.
Baca juga: Kalbar kembangkan 960 hektare padi Inpari Nutri Zinc, cegah stunting
Baca juga: Kekurangan asupan gizi pada ibu hamil berdampak stunting pada anak
Pewarta : Andilala dan Slamet Ardiansyah
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021