Ketua PMI Sulbar: Sosialisasi COVID-19 ke penyintas gempa masih minim

Ketua PMI Sulbar: Sosialisasi COVID-19 ke penyintas gempa masih minim

Ketua PMI Provinsi Sulawesi Barat Enny Anggraeni Anwar, pada rapat monitoring dan evaluasi bersama Tim Satgas Transisi Darurat ke Pemulihan Pascagempa di Sulbar, yang berlangsung di Markas Kodim 1418/Mamuju, Selasa (2/3). (ANTARA/HO/Diskominfo Sulbar)

Mamuju (ANTARA) - Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sulawesi Barat Enny Anggraeni Anwar menyampaikan bahwa sosialisasi terkait COVID-19 kepada para pengungsi korban gempa di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene masih minim.

"Saya yang juga kebetulan sebagai Ketua PMI Sulbar menemukan masih banyak warga di pengungsian yang kurang mendapatkan sosialisasi terkait COVID-19," kata Enny Anggraeni Anwar, pada rapat monitoring dan evaluasi bersama Tim Satgas Transisi Darurat ke Pemulihan Pascagempa di Sulbar, yang berlangsung di Markas Kodim 1418/Mamuju, Selasa.

Rapat tersebut dipimpin Asisten Deputi Kementerian dan Manajamen Pascabencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Nelwan Harahap yang juga diiikuti perwakilan sejumlah kementerian terkait, diantaranya Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Sosial.

Enny Anggraeni Anwar yang juga sebagai Wakil Gubernur Sulbar mengatakan, telah mengunjungi beberapa titik pengungsian dan mendapati sejumlah warga yang ketakutan menjalani "rapid test" atau es cepat antigen.

Ketakutan warga menjalani tes cepat itu lanjut Enny Anggraeni Anwar, akibat masih minimnya sosialisasi terkait COVID-19 kepada para pengungsi.

Baca juga: Ketua DPD RI minta ada ruang isolasi COVID-19 di pengungsian bencana

Baca juga: Tim transisi pemulihan pascagempa Sulbar satukan penanganan COVID-19


"Kami (PMI) berupaya melakukan tes cepat antigen terhadap para pengungsi untuk melakukan penelusuran kasus COVID-19 pascagempa. Namun, begitu tahu kalau mereka (pengungsi) akan di tes cepat, tenda-tenda pengungsian tersebut langsung kosong karena mereka ketakutan," ujarnya.

"Kami menemukan salah satu titik pengungsi di Desa Bottong dan membawa 100 orang pengungsi, tetapi yang mau di tes cepat hanya 20 orang. Dari 20 orang yang menjalani tes cepat itu, ada dua orang yang positif. Jadi, dari 20 orang itu, sebesar dua persen yang positif. Bisa dibayangkan jika semua pengungsi yang dites cepat, berapa banyak kasus COVID-19 di Sulbar pascagempa," jelas Enny Anggraeni Anwar.

Ia menyampaikan bahwa pasgagempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang wilayah Kabupaten Mamuju dan Majene, kasus COVID-19 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Sebelum gempa bumi kata Enny Anggraeni Anwar, COVID-19 di Sulbar sekitar 2.000 kasus dan pascagempa meningkat menjadi lebih 5.000 kasus.

Ia mengajak semua pihak, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar agar secara masif mensosialisasikan pencegahan penularan COVID-19 kepada para pengungsi, termasuk program vaksinasi COVID-19.

"Harus ada upaya secara masif mensosialisaikan terkait COVID-19, termasuk program vaksinasi," harap Enny Anggraeni Anwar.

Baca juga: 136.957 penyintas bencana gempa Sulbar terima manfaat dari PMI

Baca juga: PMI edukasi pengungsi pentingnya penerapan prokes
Pewarta : Amirullah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021