Wamen BUMN berharap IBC bisa produksi baterai hingga 140 GWh pada 2030

Wamen BUMN berharap IBC bisa produksi baterai hingga 140 GWh pada 2030

Ilustrasi - Karyawan mengganti baterai sepeda motor listrik di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), Gedung Direktorat Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), Jakarta, Senin (21/12/2020).. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury berharap total kapasitas baterai yang dihasilkan mencapai 140 GwH dari Indonesia Battery Corporation (IBC) pada tahun 2030.

"Bagaimana total kapasitasnya? Indonesia ingin memiliki suatu hari nanti total kapasitas baterai yang dihasilkan sekitar 140 GWh pada tahun 2030. Sekitar 50 GWh dari produksi daripada battery cell ini mungkin nanti akan diekspor sedangkan sisanya diharapkan bisa digunakan di industri baterai yang nanti akan digunakan memproduksi kendaraan listrik yang ada di Indonesia," ujar Pahala dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Menurut Pahala, pada tahap pertama yang akan pihaknya coba lihat adalah bagaimana memproduksi antara 10 sampai dengan 30 GWh untuk memproduksi baterainya

Seiring perkembangan nantinya tentu dengan jumlah mitra yang dimiliki dan makin banyak yang bisa diproduksi secara domestik dari masing-masing bagian diharapkan total kapasitas baterai yang diproduksi oleh IBC bisa terus ditingkatkan.

Baca juga: IBC berdiri, Erick akan sambangi Jepang dan AS jajaki kerja sama EV

Wamen BUMN itu mengungkapkan hal yang ingin dilakukan melalui pembentukan IBC ini adalah bagaimana Indonesia bisa memiliki sebuah industri baterai yang terintegrasi.

Indonesia bukan hanya membangun satu pabrik saja, tetapi bagaimana Indonesia memiliki mulai dari sektor hilirnya yakni tambangnya sampai dengan smelter nikel, kemudian memproduksi precursor-nya hingga battery cell, bahkan kita ingin memiliki juga energy storage, stabiliser, ataupun juga recycling daripada industrinya.

Dengan demikian investasi yang dibutuhkan sangat besar bisa mencapai 17 miliar dolar AS, dan memang profil daripada IBC ini nantinya aka dimiliki dengan total komposisi saham yang sama antara Antam, MIND ID, Pertamina, dan PLN.

Tujuan utamanya supaya kekuatan yang Indonesia miliki di hulu dan hilir terkait industri baterai kendaraan listrik bisa disatukan. Maka dari itu keempat BUMN tersebut bersatu membentuk sebuah industri IBC yang nanti masing-masing bagian daripada rantai pasok industri baterai ini akan memiliki joint venture.

Baca juga: Erick: Indonesia Battery Corporation untuk jadikan RI pemain global

Pahala menilai potensi daripada kendaraan listrik di Indonesia sangat besar, di mana terdapat kendaraan roda dua dan roda empat. Untuk motor saat ini diperkirakan diproduksi sekitar 10 juta unit sedangkan untuk mobilnya atau kendaraan roda empat di atas 4 juta unit pada tahun 2030.

"Bagaimana nanti dari total mining nanti yang akan memproduksi nikel ore, lemonite dan sebagainya yang dihasilkan paling tidak 70 persen keinginan kita betul-betul nanti bisa diproduksi di Indonesia hingga menjadi battery cell dengan total kapasitas 140 GwH," kata Pahala.

Baca juga: Erick ingin Indonesia jadi "leading sector" di baterai motor listrik

Baca juga: Pemerintah incar investasi baterai kendaraan listrik


 
Pewarta : Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021