Bio Farma minta Kemenlu bantu diplomasi India soal embargo vaksin

Bio Farma minta Kemenlu bantu diplomasi India soal embargo vaksin

Botol vaksin COVID-19 Oxford/AstraZeneca. ANTARA/REUTERS/Yves Herman/aa.

Jakarta (ANTARA) - PT Bio Farma (Persero) meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk bisa melakukan diplomasi dengan India terkait embargo vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Novavax.

Langkah itu dinilai perlu dilakukan guna memastikan pasokan dua vaksin tersebut bisa masuk ke Indonesia guna menjaga laju program vaksinasi nasional.

"Kami sedang koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk juga bisa melakukan diplomasi, bagaimana seandainya suplai ke Indonesia yang sudah terjadwal bisa dilakukan sesuai jadwal," kata Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin.

Honesti menjelaskan, menyusul lonjakan kasus Covid-19 di Eropa dan India, utamanya India yang merupakan produsen vaksin terbesar dunia, maka negara tersebut tengah melakukan pemenuhan kebutuhan untuk dalam negeri mereka.

Dengan kondisi tersebut, pengiriman vaksin ke Indonesia akan mengalami keterlambatan. Padahal suplai vaksin dari fasilitas Covax-GAVI itu dinilai krusial terhadap pasokan vaksin di Indonesia dan mempengaruhi laju kecepatan vaksinasi.

Baca juga: Pengiriman vaksin AstraZeneca Maret dan April tertunda akibat embargo

Baca juga: Pembelian vaksin AstraZeneca dan Novavax langkah awal akhiri pandemi


"Kita tidak mau terganggu karena kecepatan vaksinasi menunjukkan sekarang yang dilakukan pemerintah menunjukkan kenaikan. Tadinya 100 ribu-200 ribu per hari, sekarang menuju 500 ribu vaksinasi per hari," katanya.

Di sisi lain, Honesti memastikan rencana pengiriman vaksin Covid-19 Sinovac dari China akan berjalan sesuai target.

"Yang dari Sinovac atau China, sampai hari ini kita masih commit dengan jadwalnya," katanya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sesuai rencana awal, Indonesia memperoleh 2,5 juta dosis vaksin AstraZeneca pada 22 Maret serta tambahan 7,5 juta lebih dosis vaksin pada April 2021.

Baca juga: Pemerintah waspadai keterbatasan stok vaksin COVID-19 karena embargo

Namun, jadwal itu ternyata ditunda, karena ada embargo dari negara produsen di negara India yang sedang mengalami kenaikan kasus Covid-19, sehingga tidak mengizinkan vaksin tersebut keluar dari negara mereka. Akibat situasi itu, kata Budi, ketersediaan vaksin COVID-19 di Indonesia akan menipis jumlahnya pada kurun April 2021.

Covax-GAVI selaku penyedia vaksin AstraZeneca di Indonesia, kata Budi, sedang berupaya menjadwalkan ulang pengiriman vaksin AstraZeneca ke sejumlah negara.

Menteri Kesehatan bersama Kementerian Luar Negeri dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna mengupayakan vaksin AstraZeneca bisa dikirim ke Indonesia pada Mei atau Juni 2021.

"Nanti saya bersama Menlu segera membicarakan ini dengan WHO, dan mudah-mudahan Mei atau Juni sudah bisa lagi dilakukan pengiriman," katanya.

Baca juga: 10 juta bulk vaksin yang baru tiba di Bio Farma diproduksi 13 Februari

Baca juga: Biofarma sebut tak ada kendala distribusi vaksin ke seluruh Indonesia

 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021