Cetak barista, perkuat industri kopi di Bali

Cetak barista, perkuat industri kopi di Bali

Pelatihan meracik kopi dan mencetak barista yang digelar Pemkab Gianyar, Provinsi Bali, untuk menunjang dan memperkuat bisnis warung kopi, kedai kopi, dan kafe kopi yang sedang booming. ANTARA/Dok Humas Gianyar.

Gianyar, Bali (ANTARA) - Adi Sastrawan berulangkali mencium aroma racikan kopinya untuk meyakinkan siap diseruput dan memberikan rasa nikmat serta aroma kopi yang kuat.

Ia merupakan salah satu dari 17 peserta pelatihan barista yang digelar Pemkab Gianyar, Provinsi Bali, antara 17 Maret - 5 April 2021. Sebenarnya, Adi seorang bartender di kapal pesiar, tapi karena pandemi COVID-19 menghancurkan industri pariwisata dunia mengakibatkan dirinya dan sebagian besar pekerja pariwisata di PHK atau dirumahkan.

Langkah Pemkab Gianyar memberikan pelatihan barista sangatlah tepat, karena di daerah itu, bahkan di Provinsi Bali dan provinsi lainnya di seluruh Indonesia, sedang marak bermunculan warung kopi, kedai kopi, kafe kopi yang umumnya dikelola oleh anak muda.

Minum kopi saat kumpul bersama teman-teman, saat kerja di kantor, dan saat belajar kian menjadi tren dan merupakan salah satu peluang usaha. Apalagi saat pandemi COVID-19 menghantam ekonomi daerah, nasional hingga dunia, telah menyebabkan jutaan orang menjadi pengangguran.

Membuka warung kopi telah menjadi salah satu solusi. Apalagi Bali, sebagai destinasi wisata kelas dunia, pariwsata merupakan tulang punggung ekonomi. Begitu sektor pariwisatanya hancur akibat pandemi COVID-19 maka semua sektor usaha ikut hancur.

Menjamurnya kedai kopi di berbagai pelosok Bali sudah tentu harus segera dibantu agar usaha ini berkelanjutan, dan menjadi salah satu penopang industri pariwisata jika sudah kembali normal dan pulih.

Apalagi pulau dewata ini merupakan produsen kopi. Ada enam dari sembilan kabupaten di Bali merupakan penghasil kopi yakni Kabupaten Bangli, Buleleng, Badung, Karangasem, Tabanan, dan Gianyar. Hal ini menunjukan bahwa banyak petani yang hidupnya bergantung pada hasil kopi.

Kopi Bali punya citra rasa istimewa dibandingkan kopi daerah lain. Mengapa? Karena tanaman kopi dikembangkan dengan teknik tumpang sari bersama buah-buahan. Hal itu membuat para penikmat kopi Bali makin kecanduan dengan rasa dan aromanya.

Bali bukan hanya produsen kopi, tapi juga eksportir kopi ke mancanegara. Itu menunjukan bahwa kopi Bali itu berkualitas dan rasanya enak bisa diterima penikmat kopi di berbagai negara. Artinya, membangun industri kopi di Bali sangatlah cocok karena daerah penghasil kopi, kopinya digemari masyarakat setempat, masyarakat dalam negeri dan luar negeri.

Namun, kopi berkualitas, rasanya enak, dan aromanya kuat belum tentu membuat penikmat kopi dan masyarakat makin gemar dengan kopi Bali, jika tidak disajikan dengan baik. Oleh karena itu pelatihan barista, mencetak barista peracik kopi itu sangat penting. Langkah ini tentu akan memperkuat industri kopi di pulau Dewata.

Baca juga: PDIP gaungkan kopi dan arak Bali untuk pasar internasional

Produsen Kopi

Indonesia merupakan produsen kopi terbesar ke-4 di dunia. Negara dengan kekayaan kopi yang melimpah, beragamnya jenis tanah serta cara pengolahan kopi di setiap daerah menghasilkan cita rasa kopi Indonesia yang beragam pula.

Kopi Bali menjadi salah satu bintang di antara beragamnya kekayaan kopi di Indonesia, karena memiliki aroma dan cita rasa asam segar yang khas.

Di Bali, para petaninya menanam dua jenis kopi yaitu kopi arabika dan robusta. Menurut data Badan Pusat Statistik, luas areal tanam perkebunan kopi jenis arabika di Bali pada tahun 2018 naik 1,47 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sebesar 12.410 Ha. Pada tahun 2017 hanya mencapai 12.230 Ha.

Kabupaten Bangli menduduki peringkat pertama dengan luas areal tanam perkebunan kopi jenis arabika terbesar dengan 5.886 Ha. Sedangkan, untuk jenis kopi robusta justru mengalami penurunan luas areal tanam di tahun 2018 menjadi 22.800 Ha dimana sebelumnya pada tahun 2017 luas areal tanam perkebunan kopi jenis robusta mencapai 22.970 atau mengalami penurunan sebesar 0,74 persen.

Kabupaten dengan luas areal tanam terbesar untuk jenis kopi robusta adalah Kabupaten Buleleng dengan luas areal tanam sebesar 10.473 Ha.

Ada satu yang menarik yang terjadi di pertanian kopi di Bali. Jika dilihat dari segi produksi, kopi arabika yang sebelumnya pada tahun 2017 produksinya hanya sebesar 3.473 ton, pada tahun 2018 meningkat pesat hingga mencapai 4.217 ton atau mengalami peningkatan sebesar 21,42 persen.

Bali merupakan propinsi eksportir kopi ke mancanegara. Bahkan di saat pandemi COVID-19, ekspor kopi meningkat dan menjadi penyelamat ekonomi daerah, terutama bagi para petani kopi.

Berdasarkan data Balai Karantina Pertanian Denpasar ekspor biji kopi pada 2020 meningkat drastis hingga 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy). Ekspor biji kopi mencapai 95 ton atau senilai Rp7,6 miliar, jumlah ini meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 50 ton dengan nilai ekspor Rp3,9 miliar.

Adapun negara tujuan ekspor biji kopi seperti Amerika, Uni Emirat Arab, Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Saudi Arabia, dan Hongkong. Sementara pada 2020 ekspor terus merambah hingga Belanda dan Australia.

Baca juga: Pengelola kopi Bali optimis tingkatkan pemasaran

Peran Barista

Pelatihan untuk mencetak barista, peracik kopi, di warung kopi, kedai kopi dan kafe kopi yang sedang “booming” di Bali merupakan langkah tepat dan jitu. Pelatihan barista perlu diperluas ke seluruh kabupaten di Bali. Karena barista akan memberikan nilai tambah pada hasil pertanian tanaman kopi.

Walaupun kopinya berkualitas, cita rasa yang nikmat, aroma kopi yang kuat, masyarakat awam belum tentu bisa membuat kopi yang enak dengan aroma yang kuat. Diperlukan banyak barista guna meningkatkan minum kopi di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Dengan mencetak barista yang banyak dan handal di Bali dapat membuat sektor pertanian kopi hidup berkelanjutan. Menjamurnya kedai kopi, warung kopi, kafe kopi makin membuat petani terus bergairah mempertahankan, bahkan menambah luas, areal tanaman kopinya.

Jika kedai kopi, warung kopi, dan kafe kopi dikelola dengan barista yang terlatih akan menopang industri pariwisata. Jika pariwisata di Bali menghadapi masalah, misalkan aksi terorisme atau pandemi maka bisnis warung kopi dan kafe kopi dapat menjadi salah satu katup pengaman ekonomi dan sosial.

Ekspor kopi Bali ke mancanegara juga memiliki landasan yang kuat di tempat asalnya. Kita ketahui, pasar ekspor memiliki persaingan yang ketat. Indonesia yang tadinya merupakan eksportir kopi terbesar ketiga di dunia, kini merosot ke posisi ke enam. Oleh karena itu sangatlah penting memperkuat industri kopi di dalam negeri, khususnya Bali. Jawabannya, perbanyak pelatihan dan mencetak barista.

Baca juga: Kedai Kopi Indonesia pertama dibuka di Altstadt Jerman

Pewarta : Adi Lazuardi
Editor: Apep Suhendar
COPYRIGHT © ANTARA 2021