Pakar: Sentak kesadaran masyarakat untuk ingatkan bahaya COVID-19

Pakar: Sentak kesadaran masyarakat untuk ingatkan bahaya COVID-19

Pelaksanaan tes usap COVID-19 secara lantatur (layanan tanpa turun) di Banjarmasin. (ANTARA/Firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Nasrullah S.Sos.I, MA mengatakan pemerintah harus unjuk kekuatan guna menyentakkan kesadaran masyarakat bahaya COVID-19.

"Perlu ada show of force dari pemerintah menggambarkan situasi nasional dan daerah yang kini gawat terpapar COVID-19, masyarakat harus disadarkan betul COVID-19 masih terjadi dan mengancam siapa saja," kata dia di Banjarmasin, Senin.

Nasrullah menilai sebagian masyarakat masih tidak terlalu mengkhawatirkan adanya penularan COVID-19. Hal itu dapat dilihat dari pengabaian protokol kesehatan baik tanpa masker maupun kerap berkerumun ataupun berkumpul pada suatu kegiatan.

Untuk itulah, Nasrullah menyarankan pengerahan kembali armada mobil penyemprot disinfektan menjadi salah satu opsi agar masyarakat bisa melihat bahwa upaya pemerintah menunjukkan COVID-19 benar-benar dilakukan secara serius.

Baca juga: Kaum milenial di Banjarmasin antusias ikuti vaksin COVID-19

Baca juga: Kesembuhan COVID-19 di Banjarmasin 95,07 persen hingga akhir April


Kemudian pemerintah daerah perlu memberikan labeling terhadap status daerah masing-masing. Meskipun saat ini terdapat istilah zona merah, kuning atau hijau, agaknya tidak membuat masyarakat begitu peduli.

Maka istilah lain yang menyentakkan kesadaran warga perlu ditampilkan. Seperti istilah gelombang kedua, ketiga atau keempat COVID-19 atau pilihan lain yang menggambarkan situasi nasional dan daerah barangkali lebih mengena untuk menyentakkan kesadaran bersama bahwa COVID-19 masih ada.

"Larangan mudik Lebaran juga sangat tepat. Sedangkan daerah dapat membuat aturan lanjutan sesuai dengan situasi daerah masing-masing. Pastinya, harus ada ketegasan dan jangan sampai larangan ini hanya formalitas dan macan kertas tanpa aplikasi nyata di lapangan," ujar Magister Antropologi jebolan Universitas Gadjah Mada itu.

Ditegaskan Nasrullah, isu mutasi virus COVID-19 dari India ke Indonesia seyogianya dapat menjadi momentum menguatkan kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan. Ini peristiwa serius dan bukan drama Bollywood.

Mengganasnya COVID-19 di India, menurut dia, tidak bisa dipandang jauh secara geografis. Apalagi sudah ada beberapa orang di Indonesia yang terinfesksi COVID-19 varian baru tersebut.

Sementara masyarakat saat ini kondisi seolah kondusif yang tidak mempedulikan angka-angka kenaikan COVID-19. Kerumunan massa dalam berbagai momentum keagamaan terus saja berlangsung.*

Baca juga: Dinkes Banjarmasin vaksinasi ribuan karyawan hotel dan restoran

Baca juga: Prokes masyarakat perairan di Kalsel rendah, TNI-AL beri edukasi
Pewarta : Firman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021