Larangan mudik, Universitas Al Azhar larang mahasiswa dan dosen mudik

Larangan mudik, Universitas Al Azhar larang mahasiswa dan dosen mudik

Ketua Satgas COVID-19, Doni Monardo, di Jakarta, Senin (10/5). ANTARA/Indriani.

Jakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof Asep Syaifuddin melarang mahasiswa dan dosen untuk mudik pada libur Lebaran untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Tanah Air.

“Sejak tahun lalu, kami sangat ketat dengan protokol kesehatan dan mengikuti regulasi pemerintah termasuk di antaranya melarang mudik Lebaran,” ujar Asep di Jakarta, Senin.

Dia menambahkan larangan mudik harus disikapi sebagai upaya untuk pencegahan penyebaran COVID-19. Masyarakat harus memahaminya dengan baik.

“Kita semua harus berusaha sebaik mungkin agar penyebaran COVID-19 ini dapat dihentikan melalui upaya manusia secara individu dan masyarakat. Adapun pemerintah berhak membuat regulasi untuk kebaikan masyarakat,” terang dia.

Baca juga: Ridwan Kamil sebut 99 persen warga Jabar tak mudik

Ketua Satgas COVID-19, Doni Monardo, mengatakan kasus COVID-19 aktif selama dua bulan terakhir cenderung melandai. Kondisi itu berbeda pada akhir Desember 2020, Januari dan awal Februari 2021 kasus COVID-19 cenderung tinggi.

“Kasus aktif di Pulau Jawa sudah di bawah 40 persen. Namun kondisi ini cenderung terbalik dengan keadaan di Pulau Sumatera, yang mengalami peningkatan kasus. Banyak provinsi yang kasus aktif di atas 60 persen,” kata Doni.

Doni menambahkan peningkatan kasus tersebut di Pulau Sumatera disebabkan kegiatan sebelum Ramadhan seperti pulang kampung, tradisi hingga kegiatan keagamaan. Sementara di Pulau Jawa cenderung mengalami pelandaian.

“Apa ini bisa bertahan? Ini butuh kerja sama. Termasuk larangan mudik. Untuk itu diharapkan, warga bersabar untuk tidak mudik. Tolonglah bersabar, bersabar dan bersabar. Itu kuncinya,” tambah Doni.

Larangan mudik tersebut, kata Doni, merupakan salah satu upaya menekan angka penyebaran COVID-19 di Tanah Air. Jika angka kasus aktif meningkat dikhawatirkan Bed Occupancy Rate (BOR) juga semakin meningkat, rumah sakit dan tenaga kesehatan akan kewalahan.

Biasanya, lanjut Doni, jika BOR meningkat maka diikuti dengan tingginya kasus kematian tinggi dan berdampak pada kasus kematian tenaga kesehatan.

“Masih ada sisa waktu beberapa hari harus bekerja keras dan bersabar untuk tidak mudik. Lebih baik sekarang lelah, letih dan capek untuk mengingatkan semua pihak untuk tidak mudik,” imbuh Doni.***3***

Baca juga: Kemenkumham kembali tegaskan larangan mudik bagi pegawai
Baca juga: Larangan mudik, Mensos Risma: Pikirkan risiko kesehatannya

Pewarta : Indriani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021