Fakultas Kehutanan ULM tanam mangrove rambai untuk habitat bekantan

Fakultas Kehutanan ULM tanam mangrove rambai untuk habitat bekantan

Penanaman bibit mangrove rambai di Pulau Curiak oleh Program Pascasarjana Fakultas Kehutanan ULM mendukung konservasi bekantan yang dilakukan SBI. ANTARA/Firman.

Banjarmasin (ANTARA) - Program Pascasarjana Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melakukan penanaman bibit mangrove rambai untuk habitat bekantan yang merupakan maskot fauna Kalimantan Selatan.

"Lokasi penanaman kali ini pada areal konservasi di Pulau Curiak, pesisir Sungai Barito di Kabupaten Barito Kuala,"  kata Dr Abdi Fithria selaku ketua tim penanaman, Sabtu.

Dijelaskan dia, kegiatan tersebut menyertakan para mahasiswa yang didampingi dosen pengampu mata kuliah Konservasi Flora-Fauna.

Hal ini dimaksudkan agar program studi kehutanan dapat lebih mengambil andil dalam kegiatan pelestarian lingkungan flora dan fauna yang ada di Kalimantan Selatan.

Selain itu juga memberikan pengalaman dan juga membuka hubungan kerja sama dengan organisasi Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) ke depannya bisa saling bekerja sama dalam pelestarian wilayah konservasi bekantan yang merupakan hewan endemik pulau Kalimantan tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai.

Baca juga: Bekantan Day, Masyarakat diajak peduli dan lestarikan ikon Kalsel itu

Baca juga: SMN Kalsel tanam mangrove dan lepas tukik di Kota Pariaman


Abdi menjelaskan lahan konservasi mangrove rambai menjadi salah satu makanan pokok bekantan. Di samping itu, mangrove rambai juga berfungsi mencegah erosi pada bantaran sungai dan membantu agar air laut yang pasang tidak masuk ke persawahan warga di dekat wilayah konservasi.

Diungkapkan dia pula, luas lahan untuk konservasi bekantan terutama sebagai wilayah ekosistem sangatlah kurang. Untuk itu, perlunya konservasi lahan mangrove untuk keberlangsungan kehidupan dari jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan itu.

Diakui Abdi, perhatian dari masyarakat umum untuk membantu lahan konservasi bekantan juga terbilang minim. Termasuk kurangnya minat kaula muda untuk membantu baik sebagai relawan ataupun juga anggota dari Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) untuk membangun wilayah konservasi tersebut.
Penanaman bibit mangrove rambai di Pulau Curiak oleh Program Pascasarjana Fakultas Kehutanan ULM mendukung konservasi bekantan yang dilakukan SBI. (ANTARA/Firman)


Diketahui selama ini SBI harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta untuk membeli lahan-lahan warga yang berada di bantaran Sungai Barito sekitar Pulau Curiak yang menjadi wilayah konservasi bekantan. Perusahaan membeli lahan untuk menyandarkan kapal-kapal pengangkut batubara.

Amalia Rezeki selaku founder SBI foundation mengatakan pihaknya melakukan penggalangan dana yang secara mandiri, urun dana hingga adanya bantuan dari berbagai pihak untuk bisa menebus lahan agar menambah luas areal konservasi bekantan.

"Selain bekantan, banyak hewan yang hampir punah juga hidup di kawasan Pulau Curiak. Di antaranya elang jawa, elang brontok, elang tikus dan berbagai jenis burung air serta reptil yang berada di lingkungan Sungai Barito," katanya.

Baca juga: Hutan mangrove Kalsel rusak hingga 70 persen

Baca juga: SBI jaga ekosistem lahan basah habitat bekantan

 
Pewarta : Firman
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021