Jadikan karantina mandiri kebiasaan setelah bepergian selama pandemi

Jadikan karantina mandiri kebiasaan setelah bepergian selama pandemi

Rumah karantina mandiri disediakan warga di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang menerapkan Kampung Tangguh Banua. ANTARA/Bayu Pratama Syahputra

Banjarmasin (ANTARA) - Karantina mandiri seyogianya harus dijadikan kebiasaan oleh setiap orang setelah bepergian selama pandemi masih terjadi, sehingga penularan COVID-19 dapat dicegah dari mereka yang termasuk orang tanpa gejala (OTG).

"Kita semua harus menyadari karantina mandiri atau isolasi di rumah habis melakukan perjalanan ke luar daerah adalah upaya pencegahan agar tak menularkan kepada orang lain jika tanpa disadari kita telah terpapar COVID-19," kata anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd di Banjarmasin, Minggu.

Demi memutus mata rantai penularan COVID-19, Syamsul berharap setiap warga negara Indonesia dapat memahami langkah karantina mandiri yang juga menjadi imbauan pemerintah untuk dipatuhi.

Dijelaskan dia, prinsip karantina mandiri membatasi aktivitas fisik di luar rumah, menerapkan perilaku hidup bersih sehat, memantau suhu tubuh dan gejala klinis yang mungkin muncul selama isolasi.

Baca juga: Pemudik diminta lakukan karantina mandiri setelah balik
Baca juga: Karantina 28 hari efektif ketimbang akhir pekan, sebut epidemiolog UI

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu memaparkan pula bagi orang yang tidak disertai dengan pemeriksaan tes usap COVID-19 ataupun antigen atau GeNose C19 pada saat kedatangan atau keberangkatan dengan kriteria tanpa gejala, datang dari zona merah, riwayat vaksinasi belum penuh (dua kali), vaksinasi sudah lebih dari tiga bulan dan memiliki dua atau lebih komorbid, maka isolasi mandiri dilakukan 10 sampai 14 hari.

Namun bagi orang yang dilakukan pemeriksaan skrining sebelumnya, tanpa gejala, riwayat vaksinasi lengkap, vaksinasi belum lebih dari tiga bulan dan tidak memiliki komorbid lebih dari dua penyakit, isolasi mandiri dapat dilakukan 5 sampai 10 hari.

Sedangkan orang yang memiliki gejala meskipun sudah dilakukan pemeriksaan skrining saat keberangkatan, harus diulang untuk dilakukan pemeriksaan skrining setibanya dari perjalanan tersebut untuk dilakukan tindakan selanjutnya sesuai dengan hasil pemeriksaan terakhir.

"Apabila hasilnya positif secepatnya untuk dilakukan pengobatan dan tracing dan jika negatif dapat dilakukan isolasi mandiri," timpalnya.

Jika perjalanan merupakan suatu pilihan yang sulit untuk dihindari, tambah Syamsul, maka pastikan tubuh dalam kondisi sehat prima, selalu memakai masker, membawa hand sanitizer, menghindari kontak fisik dan disiplin 3M serta dapat memilih waktu perjalanan yang tidak padat.

Baca juga: Tujuh hotel di Yogyakarta siap digunakan untuk karantina pemudik
Baca juga: Epidemiolog UGM: Karantina mandiri cegah klaster COVID-19 di pesantren
Pewarta : Firman
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021