Pupuk Indonesia teken MoU jual beli gas untuk pabrik di Papua Barat

Pupuk Indonesia teken MoU jual beli gas untuk pabrik di Papua Barat

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman (kedua kanan) menandatangani nota kesepahaman dengan Genting Oil Kasuri Pte Ltd (GOKPL) terkait jual beli gas bumi dari Blok Kasuri untuk pabrik Amoniak-Urea dan Methanol di Papua Barat.  (ANTARA/HO-Pupuk Indonesia)

Jakarta (ANTARA) - PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Genting Oil Kasuri Pte Ltd (GOKPL) sepakat menandatangani nota kesepahaman jual beli gas bumi dari Blok Kasuri untuk pabrik amoniak-urea dan metanol di Papua Barat.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Kamis, menyatakan nota kesepahaman tersebut membuat Pupuk Indonesia bisa mendapatkan jaminan pasokan gas bumi guna memenuhi kebutuhan pabrik amoniak-urea dan metanol di Papua Barat.

Selain itu pasokan gas bumi tersebut juga digunakan untuk kebutuhan pabrik Pusri 3B serta memenuhi pasokan gas untuk pabrik eksisting. Adapun volume pasokan gas tersebut berkisar 112,6 MMSCFD untuk pabrik amoniak-urea, dan 109,3 MMSCFD untuk pabrik metanol.

Bakir Pasaman menjelaskan proyek pendirian pabrik amoniak-urea dan metanol di Papua Barat nantinya akan memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton dan metanol sebesar 1 juta ton.

“Proyek ini nantinya akan dijalankan oleh anak perusahaan kami, PT Pupuk Kaltim," ujar Bakir Pasaman.

Dia mengatakan pembangunan proyek ini bukan hanya akan menambah kapasitas produksi pupuk nasional, tapi juga mengurangi ketergantungan impor metanol di Indonesia.

Menteri ESDM Arifin Tasrif meyakini proyek amoniak-urea dan metanol Pupuk Indonesia akan mampu meningkatkan pengembangan ekonomi di Papua Barat, sekaligus  menciptakan dampak berantai seperti terbukanya lapangan kerja baru, bisnis pendukung setempat, dan berbagai peluang investasi lainnya.

Bakir Pasaman mengatakan penandatanganan ini juga sangat penting bagi rencana pembangunan Proyek Pusri 3B yang akan memperkuat pasokan pupuk domestik guna mendukung ketahanan pangan nasional. Pabrik Pusri 3B sendiri akan dibangun dengan kapasitas produksi urea sebesar 900.000ton per tahun.

Selain Pupuk Indonesia, dua anggota holding lainnya yaitu Pupuk Sriwidjadja (Pusri) Palembang dan Petrokimia Gresik juga turut menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah kontraktor migas.

Adapun rincian penandatanganan adalah Pusri Palembang meneken MoU dengan PetroChina International Jabung untuk volume gas sebesar 60 BBTUD yang akan disalurkan mulai tahun 2036, dan Repsol Sakakemang untuk volume 38 MMSCFD yang akan mulai on stream mulai tahun 2024. Pusri akan memanfaatkan gas tersebut untuk kebutuhan gas pabrik baru Pusri 3B, yang akan beroperasi tahun 2025 dan pabrik eksisting lainnya.

Sedangkan Petrokimia Gresik meneken MoU dengan Kangean Energy Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gas pabrik amoniak-urea eksisting dan kebutuhan pabrik lainnya. Untuk besarannya masih akan ditentukan kemudian.

“Gas bumi adalah komponen yang sangat penting bagi industri pupuk. Oleh karena itu, kepastian pasokan dan ketersediaannya sangat menentukan keberlanjutan dan pengembangan perusahaan kami,” ujar Bakir Pasaman.

Pupuk Indonesia, lanjut dia, bersyukur atas dukungan pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, yang telah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 89K Tahun 2020 tentang Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri. Dengan itu, Pupuk Indonesia bisa mendapatkan harga gas yang kompetitif sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Baca juga: BKPM siap kawal pembangunan pabrik pupuk di Papua Barat

Baca juga: Dua anak usaha Pupuk Indonesia dapat jaminan pasokan gas industri


 
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021