Kemenkes terapkan strategi menambah kapasitas tempat tidur rumah sakit

Kemenkes terapkan strategi menambah kapasitas tempat tidur rumah sakit

Tangkapan layar dari pemaparan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait strategi menambah kapasitas tempat tidur perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit. Strategi itu disampaikan kepada Komisi IX DPR RI dalam rapat dengar pendapat secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Selasa (13/7/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menerapkan tiga strategi dalam upaya meningkatkan kapasitas tempat tidur perawatan untuk pasien COVID-19 pada sejumlah rumah sakit yang sedang mengalami lonjakan okupansi.

"Kita sudah mempersiapkan strategi apa harus kita jalankan kalau kesulitan dalam upaya pemenuhan tempat tidur dan kita sudah diskusi ini juga dengan para gubernur secara rutin," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) secara virtual bersama Komisi IX DPR RI yang dipantau dari Jakarta, Selasa.

Budi melaporkan kebutuhan tempat tidur perawatan untuk pasien isolasi dan perawatan intensif di rumah sakit terbagi atas dua skenario, yakni saat terjadi peningkatan kebutuhan hingga 30 persen dan peningkatan kebutuhan hingga 60 persen.

"Kalau memburuk sampai 30 persen, ini dalam sepekan atau dua pekan ke depan yang berat adalah Yogyakarta dan DKI Jakarta, karena akan kekurangan tempat tidur isolasi dan akan kekurangan tempat tidur ICU," katanya.

Maka strategi pertama yang diterapkan adalah memenuhi ketersediaan tempat tidur yang telah dialokasikan sesuai instruksi dari Kemenkes.

"Tempat tidur yang ada di seluruh Indonesia ada sekitar 400 ribu unit, saya sudah mengeluarkan instruksi di awal tahun bahwa 30 persen dialokasikan untuk tempat tidur isolasi untuk pasien COVID-19 atau sekitar 120 ribu tempat tidur," katanya

Budi memahami bahwa di rumah sakit terdapat alokasi tempat tidur maupun ruang perawatan yang berbeda pada masing-masing dokter spesialis penyakit.

Namun Budi meminta agar manajemen maupun dokter di rumah sakit agar disiplin pada ketetapan 30 persen alokasi perawatan pasien COVID-19 sebab saat ini sedang mengalami tren kenaikan kasus.

"(Rumah sakit) di Yogyakarta, dari 8.247 tempat tidur, baru sekitar 2 ribuan yang didedikasikan untuk COVID-19. Naikan jadi 4 ribu (tempat tidur). Begitu dia naik jadi 4 ribu, tekanan BOR-nya (keterpakaian tempat tidur rumah sakit), turun dari 90 persen ke 60 persen. Itu strategi nomor satu," katanya.

Baca juga: Menkes sebut BOR pasien COVID-19 di RS sudah terisi 90 ribu

Baca juga: BOR rumah sakit rujukan penanganan COVID-19 di Jawa Barat menurun


Strategi kedua adalah penambahan rumah sakit khusus untuk merawat pasien COVID-19. Salah satunya, kata Budi, telah diterapkan di Provinsi DKI Jakarta melalui konversi hingga 50 persen tempat tidur perawatan pasien COVID-19.

"Itu kita lakukan dengan Rumah Sakit Fatmawati, Rumah Sakit Persahabatan dan Rumah Sakit Sulianti Saroso, kita bikin 100 persen untuk COVID-19. Jadi ada tambahan mungkin mendekati 1.000 kamar," katanya.

Strategi ketiga, kata Budi, adalah pembukaan rumah sakit lapangan atau darurat untuk perawatan isolasi dan intensif bila kapasitas konversi tempat tidur pasien COVID-19 sudah melebihi 40 persen dari total fasilitas tempat tidur rumah sakit.

Hal yang perlu dipertimbangkan dalam strategi ketiga, kata Budi, adalah menggunakan fasilitas yang sudah dilengkapi ruangan, tempat tidur serta fasilitas kamar mandi. "Karena nanti kamar mandinya susah, tempat tidurnya susah, oksigennya harus dalam tabung itu juga susah," katanya.

Strategi itu diterapkan di Rumah Sakit Wisma Haji, Jakarta Timur, sebanyak 900 hingga 1.000 unit ruangan perawatan dan 100 lebih ruang ICU.

Baca juga: Kemenkes terus usahakan 30 persen tempat tidur RS untuk COVID-19

Baca juga: DKI terus tingkatkan kapasitas RS rujukan antisipasi lonjakan COVID-19

 
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021