Demi petani dan kedaulatan pangan RI, Belarus pun dijajaki

Demi petani dan kedaulatan pangan RI, Belarus pun dijajaki

Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinasi Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel (tengah berjas biru) saat melihat traktor tangan buatan Belarus Minks Tractor Works, di Minks, Belarus, Jumat. ANTARA/Risbiani Fardaniah.

Jakarta (ANTARA) - "Saya tertarik dengan potasium di sini," ujar Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, saat ditanya mengapa melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Belarus menjelang akhir Oktober ini.

Potasium atau kalium merupakan bahan baku pupuk majemuk NPK yang dibutuhkan petani untuk produktivitas dan hasil pertanian yang berkualitas.

Dan Belarus merupakan salah satu penghasil potasium terbesar di dunia, di samping Kanada dan Rusia. Kandungan potasium di tambang milik Beraruskali yang dikunjungi Rachmat Gobel dan rombongan saja diperkirakan mencapai 6,6 miliar ton yang cukup untuk operasional perusahaan selama lebih dari 120 tahun.

Potasium juga lah yang selama ini mendominasi perdagangan Indonesia dan Belarus.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, dari total neraca perdagangan kedua negara yang mencapai 165,2 juta dolar AS pada 2020, sebesar 141,97 juta dolar AS adalah impor potasium Indonesia dari Belarus. Demikian pula pada periode Januari-Agustus 2021 dari nilai perdagangan sebesar 153,4 juta dolar AS, sebesar 146,6 juta dolar AS ada impor potasium.

Belarus memang bukan satu-satunya produsen potasium, namun yang membuat Wakil Ketua DPR RI Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel tertarik pada negara bekas pecahan Uni Sovyet itu adalah kemampuan Belarus menjaga ketahanan pangannya, bahkan mampu mengekspor produk pertaniannya seperti susu dan produk turunan, daging, hingga hasil tanaman pangan

"Kita ingin belajar bagaimana Belarus mencapai kedaulatan pangannya, membangun pertanian dan peternakannya," ujar Rachmat Gobel yang juga mantan Menteri Perdagangan itu.

Baca juga: Kemenperin akan tindaklanjuti penjajakan traktor Belarus di RI

Karena itulah ia didampingi oleh Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto, Anggota Komisi XI Heri Gunawan, Anggota Komisi X Ratih Megasari, Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam, Staf Ahli Menteri Perdagangan Sutriono Edi, Dirut PT Pupuk Kalimantan Timur Rahmad Pribadi serta Dubes RI untuk Rusia dan Belarus Jose AM Tavares. Sayangnya, tidak ada perwakilan Kementerian Pertanian RI dalam kunker tersebut.

Sebelum melakukan berbagai pertemuan dengan kementerian teknis terkait pertanian di negara yang dipimpin Presiden Alexander Lucasenko itu, Rachmat Gobel lebih dahulu bertemu dengan koleganya sesama parlemen.

Kedatangan Delegasi Indonesia itu disambut langsung oleh Wakil Ketua Parlemen Belarus Valery Mitskevich dan kemudian bertemu dengan Ketua Parlemen Belarus Mr Vladimir Andreichenko.

Pimpinan parlemen kedua negara sepakat mendorong pemerintah di negara masing masing untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, termasuk pertanian.
 
Delegasi Indonesia yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel (tengah) mengunjungi Belarus Minsk Tractor Works di Minks, Belarus, Jumat (22/10/2010) (ANTARA/Risbiani Fardaniah)


Pertanian Belarus

Sepanjang mata memandang dari Bandara Nasional Minsk, Belarus, menuju pusat ibu kota negara itu memang terlihat hamparan tanah pertanian yang luas, dengan hasil pertanian utama antara lain kentang, gandum, serta hasil peternakan seperti daging sapi dan susu.

Menurut Wakil Menteri Pertanian Belarus Igor Brylo hampir 60 persen produk pertanian di negara itu diekspor ke mancanegara, dan hanya 40 persen sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang hanya berpenduduk sekitar 9 juta orang.

Salah satu produk pertanian, termasuk peternakan, yang mendominasi ekspor Belarus ke Indonesia adalah daging, susu dan produk turunannya seperti mentega.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Indonesia mengimpor dairy product dari Belarus pada 2020 mencapai sekitar 1 juta dolar AS dan pada Januari-Agustus 2021 2,6 juta dolar AS.

Bahkan, menurut Igor, ada dua perusahaan Belarus yang sudah memiliki sertifikat halal dari Indonesia untuk mengekspor susu dan produk turunannya.

Yang menarik, kemampuan Belarus memproduksi produk pertanian dan kemudian mengekspornya juga didukung oleh industri alat dan mesin pertanian yang andal. Industri traktor Belarus mampu memproduksi mulai dari traktor tangan dengan kekuatan 9 hp (horse power) hingga traktor multifungsi 450 hp baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

Baca juga: RI-Belarus jajaki peluang peningkatan bisnis potasium

Pada saat pembubaran Uni Soviet pada 1991, Belarus adalah salah satu negara industri yang paling maju di dunia berdasarkan persentase dari PDB serta negara anggota CIS (Komunitas negara independen) terkaya.

Mereka berhasil menjaga dan meneruskan warisan industri alat berat dari Uni Sovyet hingga kini, kemudian mampu mengekspor traktor dan alat berat ke berbagai negara, sehingga menjadi salah satu produk unggulan ekspor Belarus di samping potasium serta susu dan produk turunannya termasuk keju dan mentega.

Karena itulah Delegasi Indonesia pada kunkernya itu juga berkunjung ke Belarus Minsk Tractor Works yang merupakan produsen traktor dan Belaz yang merupakan produsen alat berat dump truck.

Jajaki Kerja Sama

Dalam rangkaian pertemuan dengan parlemen maupun kementerian teknis di Belarus, Rachmat Gobel selaku Wakil Ketua DPR-RI Korinbang selalu menekankan Indonesia merupakan negara agraris dengan lebih dari 90 juta orang hidup dari pertanian, dari total penduduk Indonesia sekitar 270 juta orang.

Karena itu dalam kunkernya itu, ia ingin mengetahui langsung kemampuan Belarus mendukung kedaulatan pangan sekaligus menjajaki kerja sama demi membantu peningkatan produktivitas pertanian di Indonesia.

Ia tertarik dengan kemampuan industri traktor Belarus dan berharap Belarus tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, namun juga jadi basis produksi industri alat pertanian Belarus untuk pasar Indonesia dan negara lain di sekitarnya.

Baca juga: Ke pabrik traktor Belarus, Rachmat Gobel ajak kerja sama investasi

Kebutuhan alat pertanian Indonesia yang besar bisa menjadi basis produksi industri alat pertanian Belarus. Apalagi Pemerintah Indonesia memiliki banyak program pertanian, termasuk membeli alsintan untuk petani, yang salah satu ketentuannya harus memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) hingga 40 persen.

Pada kunkernya itu Rachmat Gobel juga mencoba traktor tangan yang diperkirakan cocok untuk petani di Indonesia. Menurut dia, harga traktor tersebut cukup kompetitif, hanya sekitar Rp17 juta, dengan kualitas global.

Menanggapi permintaan Rachmat Gobel, Wakil Menteri Perindustrian Belarus Dmitri Haritonchick mengatakan pihaknya membuka semua peluang jenis kerja sama dengan Indonesia. Bahkan ia mengaku sedang mencari mitra Indonesia yang andal untuk bekerja sama dan meminta bantuan Delegasi Indonesia itu untuk merekomendasikannya.

Hal senada juga dikemukakan Menteri Pertanian Belarus Ivan Krupto yang langsung menemui Rachmat Gobel, begitu selesai memenuhi panggilan Perdana Menteri Belarus Roman Golovchenko.

"Menurut saya kerja sama harus saling menguntungkan, karena itu kami siap, bukan hanya mensuplai produk kami ke Indonesia tapi juga mengimpor produk pertanian atau produk-produk yang tidak ada di Belarus dari Indonesia," ujarnya.

Ia pun berharap industri agraria Indonesia dan Belarus saling melengkapi untuk membantu keamanan pangan global di tengah pandemi COVID-19.

Ivan Krupto setuju dengan usulan Rachmat Gobel agar Indonesia dan Belarusia membentuk semacam komite atau kelompok kerja khususnya antar-Kementerian Pertanian dua negara guna mencapai tujuan bersama yang saling menguntungkan baik untuk petani Indonesia maupun industri Belarus.
 
Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinasi Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel (kanan) menjelaskan soal jamu ke Menteri Pertanian Belarus Ivan Krupto usai pertemuan keduanya di Kementerian Pertanian Belarus, di Minks, Belarus, Jumat. (ANTARA/Risbiani Fardaniah)
Pewarta : Risbiani Fardaniah
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021