Aktivis perempuan: Kekerasan berbasis gender meningkat selama pandemi

Aktivis perempuan: Kekerasan berbasis gender meningkat selama pandemi

Direktur Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta Anindya Restuviani (kanan atas). (ANTARA/ Anita Permata Dewi)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta Anindya Restuviani mengatakan angka kekerasan berbasis gender meningkat selama masa pandemi COVID-19.

Angka tersebut berdasarkan laporan yang diluncurkan oleh Canada Fund for Local Initiatives (CFLI) Indonesia.

"Sepertiga dari responden mengklaim mereka lebih sering mengalami kekerasan saat pandemi COVID-19," kata Restuviani dalam acara Group Media Briefing bertajuk "16 Days of Activism Canada-Jakarta Feminist Association Collaborate in Ending Gender-based Violence" yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Komnas Perempuan: Hukuman mati puncak kekerasan-diskriminasi gender

Baca juga: Ketidakberdayaan ekonomi sebabkan kekerasan terhadap perempuan


Anindya mengatakan hasil survei tersebut senada dengan laporan tahunan nasional yang dirilis oleh Komnas Perempuan dan LBH APIK Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa laporan tersebut juga menunjukkan kekerasan berbasis gender secara daring meningkat pesat selama pandemi COVID-19.

"Laporan kami juga menemukan bahwa kekerasan berbasis gender secara daring meningkat sangat pesat dengan total 48 persen responden mengalami kekerasan berbasis gender secara daring selama COVID-19," kata aktivis perempuan ini.

Kekerasan berbasis gender tersebut lebih sering terjadi di lingkungan rumah dan dilakukan oleh anggota keluarga lain.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan berbagai upaya untuk memperkuat aksi gerakan feminis. Salah satunya adalah bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan dukungan dalam membangun kapasitas dan memperkuat pengetahuan masyarakat dalam isu feminis interseksional.

Pihaknya juga membangun feminist hub bagi masyarakat untuk belajar tentang feminis interseksional di Indonesia.

Selain itu, Anindya Restuviani juga mengembangkan kamus feminis untuk mencegah terjadinya perbedaan interpretasi akibat perbedaan bahasa.

Baca juga: Menteri PPPA sebut budaya patriarki membuat perempuan rentan kekerasan

Dalam rangka menerima aduan dari masyarakat, pihaknya meluncurkan situs direktori carilayanan.com pada tahun 2020.

"Situs ini memberikan layanan hukum, konsultasi, konseling, rumah aman, kesehatan, anak-anak dan disabilitas," katanya.

Pihaknya juga mengembangkan Twitter Bot untuk merespons aduan masyarakat yang membutuhkan bantuan melalui saluran media sosial Twitter.

"Kami juga mengembangkan Twitter Bot yang otomatis merespons orang yang mencuit untuk mencari bantuan," katanya.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021