KPPPA: Kesehatan mental ibu kunci pengasuhan anak di masa pandemi

KPPPA: Kesehatan mental ibu kunci pengasuhan anak di masa pandemi

Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kemen PPPA Rohika Kurniadi Sari. (ANTARA/ HO-KemenPPPA)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Rohika  menekankan bahwa kesehatan mental seorang ibu sangat krusial dalam pengasuhan, pertumbuhan perkembangan anak, dan perannya menjalankan tugas sehari-hari, terlebih dalam masa pandemi saat ini.

"Apalagi bagi ibu yang bekerja, kondisi seperti ini tentu lebih rentan menghadapi tekanan  yang menyebabkan kondisi kesehatan mental ibu menjadi tidak baik sehingga dapat berpengaruh dalam mengasuh anak-anaknya," kata Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kementerian  PPPA Rohika Kurniadi Sari melalui siaran pers, Jakarta, Sabtu.

Oleh karena itu, menurut dia penting bagi seorang ibu memiliki kondisi kesehatan mental yang baik.

Baca juga: Kemen PPPA dorong peningkatan akses kesehatan bagi perempuan

Ia mengatakan, peran seorang ibu dalam kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini penuh dengan tantangan. Selain mengurus pekerjaan rumah tangga, ibu juga harus mengasuh dan mendampingi anak dalam mengikuti pembelajaran online.

"Karena itu perlu ada kebiasaan-kebiasaan untuk membentuk mental kuat pada anak, mulai diterapkan dari diri sendiri, keluarga hingga lingkungan luas, karena untuk mewujudkan anak-anak yang bahagia, diperlukan juga ibu yang bahagia dengan jiwa yang sehat dan kuat. Mari kita ciptakan keluarga Indonesia di masa pandemi yang siap membangun masa depan anak generasi emas 2045 dengan kesehatan mental yang baik," tutur Rohika.

Senada, Psikolog IdePlus, Erika Kamaria Yamin menuturkan kesehatan mental terutama bagi ibu dalam menjalankan peran pengasuhan sangatlah penting.

"Kesehatan mental seorang ibu akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak dalam jangka panjang. Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap ibu itu sendiri serta kepuasan hidup ibu secara keseluruhan yang akan berdampak si ibu akan lebih bijak dalam mengambil keputusan," kata Erika.

Baca juga: Kemen PPPA: Pengawasan orang tua penting cegah pornografi daring

Erika menerangkan banyak ciri yang memperlihatkan kesehatan mental seorang ibu yang terganggu, salah satunya terdapat perubahan sikap ke arah yang destruktif contohnya seorang ibu yang awalnya sangat sabar menjadi lebih mudah marah dan memperbesar masalah yang kecil.

Menurut dia, terdapat lima tips untuk merawat kesehatan mental ibu. Pertama, setujui, terima dan akui perasaan yang ada misalnya saat merasa ada sesuatu yang tidak baik atau saat merasa lelah maka perasaan tersebut harus diakui.

"Jangan mencoba untuk menolaknya dengan alasan kurang bersyukur," katanya.

Kedua, tetapkan ekspektasi masuk akal dan sesuai dengan standar karena jika tidak, hal ini akan membuat seseorang merasa tidak bahagia dan selalu merasa kurang.

Ketiga, terapkan kebiasaan sehat dengan merawat diri dan menjaga kebugaran fisik yang nantinya akan berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Keempat, ask for help, komunikasi asertif dengan anggota keluarga lainnya tentang apa yang dirasakan dan bersama-sama mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Kelima, tetap tenang dan sempatkan waktu untuk melakukan relaksasi agar tetap sehat.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021