Kabul (ANTARA News) - Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengunjungi Qatar, Minggu, untuk berunding dengan para pejabat di negara Teluk itu, yang mungkin menjadi tuan rumah negosiasi perdamaian mendatang antara pemerintah Kabul dan Taliban.

Karzai belum lama ini mendukung usulan agar Taliban membuka sebuah kantor di Doha, ibu kota Qatar.

Upaya-upaya untuk memulai perundingan perdamaian antara Taliban dan pemerintah Afghanistan sejauh ini telah gagal. Kelompok gerilya itu menolak berunding dengan Karzai, yang mereka anggap sebagai boneka AS.

Selama kunjungan itu, Karzai bertemu dengan para pejabat Qatar "untuk membahas proses perdamaian Afghanistan dan hubungan bilateral antara kedua negara", kata kantor presiden Afghanistan dalam sebuah pernyataan.

Karzai sebelumnya menentang pembentukan kantor Taliban di Qatar karena khawatir pemerintahnya akan dikecualikan dari perjanjian perdamaian yang melibatkan kelompok garis keras itu dan AS.

Namun, dalam pernyataan yang disiarkan televisi selama kunjungan terakhirnya ke Qatar pada Maret, Karzai mengatakan, sebuah kantor Taliban di Doha bisa membuka jalan bagi "kontak langsung" dan mendorong proses perdamaian.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara dikirim ke Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Pada Oktober 2011, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.

NATO bertujuan melatih 350.000 prajurit dan polisi Afghanistan pada akhir 2014 untuk menjamin stabilitas di negara itu, namun tantangan-tantangan tetap menghadang dalam proses peralihan itu.

Desersi, penugasan yang buruk dan semangat rendah termasuk diantara masalah utama yang menyulitkan para komandan NATO dan Afghanistan, demikian AFP.

(M014)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013