Tiga personel Korps Wanita TNI AD dilatih jadi penerbang

Tiga personel Korps Wanita TNI AD dilatih jadi penerbang

Ilustrasi personel Korps Wanita TNI AD sebagai peserta upacara Hari Kartini 2018, di kawasan Monas, Jakarta, Jumat (19/4). (FOTO ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)

Semarang (ANTARA News) - Pusat Pendidikan Penerbangan TNI AD tengah mendidik tiga personel Korps Wanita TNI AD untuk menjadi penerbang helikopter militer profesional. Ini menjadi tonggak sejarah bagi karir personel Korps Wanita TNI AD. 
     
Komandan Pusat Pendidikan Penerbangan TNI AD, Kolonel Cpn Catur Puji Santoso, di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, mengatakan, pembentukan dan pendidikan bagi ketiga perempuan personel TNI AD menjadi penerbang helikopter ini juga bentuk kesetaraan jender dalam karir militer.
    
Ketiga personel Korps Wanita TNI AD yang tengah dididik itu adalah alumni Akademi Militer yang lulus pada 2017. Mereka adalah Letnan Dua Cpn (K) Fany Avisha, Letnan Dua Cpn (K) Tri Ramadhani, dan Letnan Dua Cpn (K) Puspita Ladiba. 

Sebagaimana laiknya taruna lain, sejak tahun ketiga di Akademi Militer, mereka telah memiliki korps kecabangan, dalam hal ini adalah Korps Penerbang.

Pusat Penerbangan TNI AD mengoperasikan beberapa merek dan jenis helikopter, di antaranya AS550 Fennec, Bell-205A-1, Bell-412, Mil Mi-17 Hip, Mil Mi-35P Hind, dan yang terkini adalah Boeing AH-64E Apache Guardian. Selain itu, komando utama TNI AD yang memiliki motto Wira Amur ini juga mengoperasikan pesawat terbang sayap tetap CN-235.
     
"Kalau wanita itu memiliki kemampuan militan dan taktisnya bagus kenapa tidak. Kami butuhkan itu. Taruni lebih teliti, lebih rinci, dan lebih sabar," katanya. 
     
Setelah lulus dari Pusat Pendidikan Penerbangan TNI AD di Semarang itu, mereka akan ditempatkan dalam skuadron-skuadron operasional dan medan penugasan yang sama dengan kolega-koleganya yang laki-laki. 
  
Menurut Santoso, ketiga perempuan calon penerbang TNI AD ini telah menjalani latihan terbang menggunakan pesawat heli latih dan masing-masing telah mengantungi 40 jam terbang. 
     
Avisha mengutarakan kesan dia selama menjadi siswa penerbang di Pusat Pendidikan Penerbangan TNI AD itu. 
       
"Saat pertama mencoba menerbangkan helikopter, rasa takut itu besar sekali, tetapi dengan panduan dan juga arahan dari para insruktur dan pelatih serta semakin bertambahnya jam terbang, perasaan takut itu semakin berkurang," katanya. 
     
Hal serupa juga terjadi pada Ladiba. "Kami sangat bangga terpilih menjadi calon penerbang TNI AD, apalagi kami angkatan pertama sebagai wanita penerbang di TNI AD. Selain kebanggaan bagi kami juga sebagai tantangan agar kami dapat menjadi contoh bagi adik-adik Kowad kami nantinya," kata dia.
Pewarta : Saiful Hakim
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018