Etalase Islam dan demokrasi pada Pilpres 2019

Etalase Islam dan demokrasi pada Pilpres 2019

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) saling berpegangan tangan seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). Prabowo-Sandi mendaftarkan dirinya ke KPU sebagai pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/pras/18

Jakarta (ANTARA News) - Pengamat politik Madjid Politika Yandi Hermawandi mengatakan Pemilihan Presiden 2019 dapat menjadi etalase kesesuaian Islam dengan demokrasi.

"Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan berpenduduk muslim terbesar, Indonesia harus menunjukkan pada dunia bahwa Islam kompatibel (cocok) dengan demokrasi," katanya di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan, kekhasan spektrum, umat Islam di Indonesia ketika berhadapan dengan demokrasi massa seperti muslim tradisionalis, muslim modernis, muslim perkotaan dan pedesaan, menjadi khazanah unik hubungan Islam dengan demokrasi di dunia.

Kesesuaian antara Islam dan demokrasi di Indonesia bukanlah pemberian, namun merupakan sebuah upaya bersama bangsa Indonesia.

"Ini tidak 'given', melainkan harus dijaga oleh seluruh rakyat Bangsa Indonesia," katanya.

Sementara itu, dua pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Jumat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama bakal calon wakil presidennya, KH Ma'ruf Amin mendaftarkan ke KPU pada Jumat pagi. Sedangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada siang harinya.

KPU telah menyatakan dokumen keduanya lengkap. Kedua pasangan tersebut segera mengikuti tes kesehatan.

Baca juga: Pilpres 2019 diperkirakan lebih adem
Baca juga: Airlangga: Ma'ruf Amin dekat dengan Golkar
Baca juga: Rommy yang mendorong Ma'ruf Amin jadi bakal cawapres

 
Pewarta : M Arief Iskandar
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2018