Tidak ada wabah muntaber di Mimika, sebut Dinkes Papua

Tidak ada wabah muntaber di Mimika, sebut Dinkes Papua

Seorang ibu sedang dilakukan tes tekanan darah dan cek kesehatan oleh tenaga medis dari Puskesmas Hedam, pada pelaksanaan pengobatan keliling kampung gratis, di Perumahan Organda, Padang Bulan, Distrik Heram, Jayapura, Papua, Selasa (10/12). Pengobatan keliling kampung gratis ini untuk menekan berbagai macam penyakit dan sebagai bentuk pelayanan kesehatan yang merata kepada seluruh warga. (ANTARA FOTO/Anang Budiono)

Jayapura, (ANTARA News) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua memastikan tidak ada wabah muntaber yang terjadi di Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika.

"Tidak benar berita yang dilansir sejumlah media tentang adanya wabah muntaber hingga menewaskan satu balita di kawasan itu," kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Papua, dr Aaron Rumainum kepada Antara, di Jayapura, Selasa malam.

Dia mengatakan, dari laporan yang disampaikan Kepala Puskesmas Wakia, Witesl Robaha yang disampaikan melalui radio (SSB) ke Dinkes Mimika, pada Selasa (8/1) pukul 09.56 WIT terungkap tidak ada wabah muntaber di wilayah tersebut.

"Apa yang disampaikan staf distrik Mimika Barat Tengah, Fransisco tidak benar,' kata Aaron seraya menambahkan bahkan bayi yang disebut meninggal ternyata masih hidup dan bermukim di Kampung Uta.

Memang, kata dia, beberapa masyarakat ditemukan sakit dengan gejala malaria sehingga tim Puskesmas sedang melakukan pemeriksaan malaria massal dan memberikan pelayanan kesehatan.

Dia mengatakan, laporan yang diterima dari Sekretaris Dinas Kesehatan Mimika, Raynold Ubra menyatakan, walaupun tidak ada wabah muntaber namun para petugas kesehatan yang bertugas di Puskesmas Wakia memantau kesehatan masyarakat di kampung-kampung termasuk kampung Pronggo dan Kapiraya.

"Kegiatan tersebut akan dilaporkan dalam kesempatan pertama," demikian Aaron Rumainum.

Baca juga: Dinkes: angka kasus filariasis di Mimika tinggi

Baca juga: Dinkes Mimika tarik petugas dari perbatasan Nduga
Pewarta : Evarukdijati
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019