Gigihnya relawan demokrasi Tionghoa di Singkawang

Gigihnya relawan demokrasi Tionghoa di Singkawang

Petugas Relawan Demokrasi Dedi menyosialisasikan tata cara pencoblosan Pemilu 2019 menggunakan Bahasa Cina Khek kepada sejumlah warga Tionghoa di Sijangkung, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat, Jumat (15/3/2019). ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

Pontianak (ANTARA) - Dedi Alfonso dan rekannya Kenardi tampak dengan sigap penuh semangat saat melakukan sosialisasi kepada sejumlah masyarakat Tionghoa di Kelurahan Sejangkung, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Provinsi Kalbar.

Dedi Alfanso dan Kenardi adalah dua Relawan Demokrasi dari masyarakat Tionghoa yang sukarela membantu KPU Kota Singkawang mensosialisasikan Pemilu 2019, yang dinilai sebagian besar masyarakat cukup rumit karena pemilih dihadapkan pada lima surat suara pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Pemilu serentak ini ada lima surat suara yang harus dicoblos pemilih, yakni surat suara abu-abu untuk memilih capres dan cawapres, warna kuning untuk memilih DPR RI, merah untuk memilih DPD RI, warna biru untuk memilih DPRD provinsi, dan surat suara warna hijau untuk memilih DPRD kabupaten/kota

"Apalagi dari lima surat suara tersebut, yang ada foto hanya surat suara untuk capres dan DPD RI," kata Dedi Alfonso. Sedangkan tiga surat suara lainnya, yakni DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota tidak ada foto, sehingga masyarakat harus teliti juga saat nanti menggunakan hak pilihnya agar tidak salah coblos.

Selama ini, Relawan Demokrasi dari masyarakat Tionghoa tersebut lebih memfoskukan sosialisasi untuk masyarakat Tionghoa, terutama bagi kalangan masyarakat usia lanjut yang tidak semuanya mengerti Bahasa Indonesia dengan baik. Relawan harus melakukan pendekatan dengan penggunaan bahasa ibu, yaitu khek - bahasa Tionghoa yang banyak digunakan di Singkawang.

"Selama ini dalam melakukan sosialisasi kami tidak mengalami kendala sama sekali karena kami menggunakan bahasa ibu kepada masyarakat Tiongoa. Ini agar masyarakat bisa benar-benar mengerti bagaimana mekanisme pencoblosan dan memilih pada Pemilu 2019," kata Alfonso.

Karena sosilisasi itu menggunakan bahasa ibu, masyarakat Tionghoa juga sangat antusias dan menyambut gembira pelaksanaan Pemilu ini. Namun masih banyak juga masyarakat yang mengeluhkan kebingungan mereka untuk mencoblos, karena dalam surat suara tidak ada gambar dan hanya tertera nama yang belum banyak mereka kenal.

"Ini lebih dialami oleh masyarakat yang tidak bisa membaca, sehingga selain kami melakukan sosialisasi, para caleg juga memiliki kontribusi besar untuk mensosialisasikan diri mereka agar tidak salah dipilih oleh masyarakat," ujarnya.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai Relawan Demokrasi Dedi Alfonso mengatakan dirinya terus memanfaatkan waktu luang yang ada untuk turun ke masyarakat dan itu dilakukannya setiap hari. "Sehari-hari saya kepala sekolah di SD swasta. Makanya saya harus bisa memanfaatkan waktu luang dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan demokrasi," kata Dedi.

Dia mengatakan, karena kesehariannya sering turun langsung ke masyarakat, dirinya sama sekali tidak mengalami kendala dalam sosialisasi dan melakukan pendekatan kepada masyarakat.

 

Baca juga: Laku warga Selagolong menjadi sindiran bagi "golput"

Dari kegiatan sosialisasi yang dilakukan, Dedi optimistis tingkat partsipasi pemilih masyarakat Singkawang pada Pemilu kali ini akan meningkat. "Terlebih dengan masuknya teknologi di desa-desa, hal ini lebih memudahkan kita untuk melakukan sosialisasi, karena sudah banyak masyarakat Tionghoa yang melek dengan teknologi," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kenardi, Relawan Demokrasi Pemilu 2019 yang juga berasal dari etnis Tionghoa. Sejak direkrut menjadi Relawan Demokrasi Pemilu oleh KPU Kota Singkawang, Kenardi juga terus turun ke tengah masyarakat untuk melakukan sosialisasi.

"Kami biasanya lebih memanfaatkan waktu sore dan malam untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat setelah mereka pulang bekerja dan berkumpul di rumah. Namun, untuk instansi pemerintahan, sekolah atau kampus, kami memang lebih banyak sosialisasi di pagi dan siang hari, intinya kami menyesuaikan waktu yang ada," katanya.

Relawan Demokrasi
Dua petugas Relawan Demokrasi Dedi (kiri) bersama Kinardi (kanan) memperlihatkan materi tata cara pencoblosan saat sosialisasi Pemilu 2019 kepada sejumlah warga Tionghoa di Sijangkung, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat, Jumat (15/3/2019).   (ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG)


Komisioner KPU Kota Singkawang Khairul Abror mengatakan, ada sebanyak 55 orang Relawan Demokrasi yang membantu KPU dalam mensosialisasikan dan terus mengajak masyarakat agar berpartisipasi pada Pemilu 2019, salah satunya dengan menggunakan hak pilihnya.

Dari 55 orang tersebut dibagi dalam 10 basis, salah satunya adalah Relawan Demokrasi basis keagamaan, yakni oleh Dedi Alfonso dan Kenardi yang sangat gencar melakukan sosialisasi pada masyarakat, seperti contohnya di Kelurahan Sejangkung, Kecamatan Singkawang Selatan.

Para Relawan Demokrasi tersebut merupakan ujung tombak dalam membantu KPU Kota Singkawang melakukan mensosialisasikan Pemilu 2019. "Mereka mulai efektif membantu KPU dalam mensosialisasikan Pemilu, mulai tanggal 17 Januari hingga 16 April mendatang," kata Khairul Abror, yang merupakan membidangi Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat.

Bong Nyoat Lian (66), warga RT 008/RW 002 di Kelurahan Sejangkung, Kecamatan Singkawang Selatan menyambut, langkah KPU Kota Singkawang dalam mensosialisasikan Pemilu 2019 yang melibatkan para Relawan Demokrasi.

"Sebelum mendapatkan sosialisasi oleh para Relawan Demokrasi, kami agak bingung juga dengan banyaknya surat suara yang akan dicoblos pada Pemilu mendatang," katanya.

Setelah mendapatkan sosialisasi tersebut, menurut dia, diri dan warga lainnya mulai paham. "Kami berharap sosialisasi seperti itu terus dilakukan, guna memberikan pemahaman bagi masyarakat terkait Pemilu," katanya.

Baca juga: Datang ke TPS sebagai bukti sayang warga Talang Mamak

Optimistis

Ketua KPU Singkawang Riko menyatakan optimistisnya bahwa partsipasi pemilih di Kota Singkawang pada Pemilu 2019 akan meningkat dengan adanya bantuan dari relawan dan berbagai pihak lainnya.

"Kami pernah mengalami peningkatan untuk jumlah pemilih, dari Pilwako 2017 ke Pilgub Kalbar 2018. Jumlahnya cukup signifikan. Ini memang menjadi suatu prestasi yang cukup kita banggakan, karena partisipasi pemilih meningkat," ujarnya.

Para Relawan Demokrasi yang ada sudah bekerja dengan maksimal, bahkan mereka kerap berkolaborasi dalam mensosialisasikan Pemilu seperti di Lembaga Pemasyarakatan, sekolah-sekolah, kampus dan sebagainya. "Melihat antusias dari para relawan ini, kami optimistis partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 ini bisa meningkat dari Pilgub kemarin," katanya.

Saat ini, yang paling ditekankan adalah bagaimana pemilih ini bisa menggunakan hak pilihnya, baik untuk pemilih normal maupun pemilih berkebutuhan khusus, seperti pasien RSJ atau masyarakat berkebutuhan khusus lainnya. Untuk di RSJ nantinya akan kita bentuk satu TPS dengan data terakhir pemilih ada 236 orang.

Menurut dia, dari hasil analisa yang pihaknya lakukan dari hasil Pilwako dan Pilgub kemarin, memang ada dua kelurahan di Kecamatan Singkawang Barat yang yang partisipasi pemilihnya masih rendah, yaitu di Kelurahan Pasiran dan Kelurahan Melayu. Dua kelurahan itu banyak masyarakat Tionghoa.

Rendahnya partisipasi pemilih itu setelah koordinasikan dan dianalisa bersama dengan Disdukcapil Kota Singkawang ternyata karena banyak warga yang tidak berada di tempat saat pemilihan. Namanya ada dalam daftar, namun orangnya tidak ada.

Dalam pendataan kependudukan, Disdukcapil memang tidak bisa mecoret nama penduduk jika mereka tidak mengajukan surat pindah. "Kesimpulannya, dua kelurahan itu partisipasi masyarakat yang memilihnya rendah bukan karena tidak mau menggunakan hak suaranya, namun mereka tidak tinggal di sana karena bekerja di luar Singkawang," kata Riko.

Bahkan, banyak warga di sana yang pulang ke rumahnya tiga kali dalam setahun, yaitu pada saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh serta saat sembahyang kubur yang biasa dilakukan masyarakat Tionghoa.

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie Pilkada mengatakan, Pemilu bukan menjadi hal yang baru bagi masyarakat Kota Singkawang, hanya saja memang ada sedikit perbedaan dalam Pemilu kali ini, yaitu ada lima surat suara yang harus di coblos oleh masyarakat.

Perbedaan itu menjadikan sosialisasi pemilu merupakan hal perlu dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun KPU setempat.

"Kami juga terus membantu dalam hal melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Bahkan setiap kegiatan yang saya ikuti, saya juga selalu mengingatkan kepada semua pihak, termasuk masyarakat agar bisa menggunakan hak pilihnya," katanya.

KPU juga sudah bekerja dengan baik dan gencar sekali melakukan sosialisasi, maka target peningkatan partisipasi pemilih pada Pemilu kali ini sebesar 70 persen lebih akan bisa terpenuhi.

Masyarakat Kota Singakwang harus berani memberikan suaranya, jangan pernah takut karena pemerintah sudah menjamin keamanan bagi pemilih. Jika ada pihak yang mengintimidasi atau mengarahkan pilihan yang tidak sesuai dengan keinginan, silahkan laporkan kepada pihak berwajib. "Jangan pernah takut," katanya.

Menurut data KPU Kota Singkawang, jumlah pemilih di Kota itu sebanyak 160.753 pada Pemilu 2019, sementara di Pilgub atau Pilkada serentak 2018 sebanyak 147. 219 pemilih. 

Baca juga: Membelah laut demi mulusnya pesta demokrasi
Pewarta : Andilala/Rendra Oxtora
Editor: Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2019