BBPOM-Polda Sumbar ungkap peredaran ratusan ribu butir obat ilegal

BBPOM-Polda Sumbar ungkap peredaran ratusan ribu butir obat ilegal

Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Padang M Suhendri (dua dari kiri) memperlihatkan obat keras ilegal yang mereka sita dari seorang distributor di Kota Padang. (Istimewa)

Padang, (ANTARA) - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) bekerja sama dengan Polda Sumbar mengungkap peredaran obat keras ilegal dan obat psikotropika palsu di daerah tersebut.

“Kita menemukan ratusan ribu butir obat ilegal dari seorang distributor setelah dilakukan penggerebekan bersama tim Polda Sumbar di Kecamatan Padang Selatan Kota Padang Sumatera Barat pada Kamis (27/6), kata Kepala BBPOM Padang M Suhendri di Padang, Jumat.

Ia mengatakan obat-obatan itu disita setelah salah seorang yang diduga merupakan distributor tertangkap tangan sedang menerima sebuah paket kiriman.

Baca juga: BPOM koordinasi pemda awasi peredaran makanan-obat ilegal di Sumba

“Pemilik tertangkap tangan menerima paket yang setelah dibuka merupakan obat psikotropika tanpa izin edar atau palsu. Selain itu kami juga menemukan barang yang sama yang disimpan di sarana ilegal," katanya.

Ia mengatakan total obat psikotropika palsu dan tanpa izin edar sebanyak 170.700 butir tablet, obat tertentu 8.800 butir tablet dan obat keras 4.905 dus dengan total nilai sebesar Rp5 juta.

Dirinya menyebutkan obat-obatan tanpa izin itu akan diedarkan kepada konsumen secara ilegal dengan menjual kepada konsumen melalui jasa pengiriman.

Baca juga: Badan POM tak kompromi tindak produsen obat dan makanan ilegal

Ia menjelaskan tindakan mendistribusikan obat psikotropika dan obat keras secara ilegal itu merupakan pelanggaran tindak pidana kejahatan obat dan makanan. Pelaku disangkakan melanggar undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika.

Selain itu juga melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen serta Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun atau denda sebanyak Rp1,5 miliar.

Baca juga: Peredaran obat keras ilegal di wilayah Kota Sukabumi marak

Ia mengatakan saat ini pihaknya belum melakukan penahanan terhadap pemilik obat-obatan tersebut dan mereka akan melalukan rapat gabungan untuk menindaklanjuti temuan tersebut dan menentukan status pemilik obat.

"Si pemilik baru calon tersangka dan belum diamankan. Kami rapat lanjutan dan sesuai arahan tim gabungan nanti dikembangkan kasus ini dan kita satukan persepsi," kata dia.

Pewarta : Mario Sofia Nasution
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019