KKP ingin transformasi budaya maritim jadi struktur ekonomi baru

KKP ingin transformasi budaya maritim jadi struktur ekonomi baru

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP, Sjarief Widjaja. (Dokumentasi KKP)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja menuangkan gagasan terkait upaya mentransformasi budaya maritim dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan menjadikannya struktur ekonomi baru, ke dalam sebuah buku.

Buku bertajuk "Transformasi Budaya Maritim Berbasis Inovasi Teknologi" merupakan buah pemikiran Sjarief tentang bagaimana seharusnya para pengambil kebijakan, pemangku kepentingan maupun masyarakat mulai mengubah cara pandang tentang konsep membangun masyarakat maritim.

"Buku ini adalah bentuk keprihatinan saya, di mana sejak abad ketujuh kita punya kapal hebat yang bisa berlayar hingga ke Madagaskar, tapi teknologi maritim itu tidak berlanjut," katanya di Jakarta, Rabu.

Hingga akhirnya Belanda masuk ke Indonesia dan mengubah budaya maritim Indonesia menjadi budaya agraris. Kini, pemerintah kembali menggaungkan potensi maritim untuk dikembangkan di masa depan.

"Sekarang masuknya revolusi industri sudah luar biasa. Ini mengkhawatirkan, kami takut nelayan tetap termarjinalkan. Maka harus kita buat terobosan di mana nelayan harus digabungkan dengan inovasi teknologi guna memperkuat mereka menjadi struktur ekonomi baru," jelasnya.

Sjarief menuturkan transformasi budaya maritim dengan berbasis teknologi telah sukses dilakukan di beberapa lokasi seperti di Bali.

Ia mengemukakan bahwa alangkah baik jika konsep budaya maritim seperti kehidupan di Labuan Bajo, NTT, juga bisa diiringi dengan kemajuan inovasi teknologi sehingga mendukung kawasan tersebut menjadi destinasi wisata potensial.

"Itu jadi desa maritim yang bertranformasi dan maju berbasis teknologi. Kalau bisa ada kombinasi bentuk tradisional dengan teknologi sehingga bisa jadi heritage dunia. Itu bisa membalik paradigma (nelayan) kumuh tadi jadi menjual," katanya.

Sementara itu, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mengapresiasi pemikiran Sjarief dalam buku tersebut. Hanya saja, Arif menyarankan perlunya pembahasan mengenai proyeksi kondisi di masa depan.

"Masukan saya terhadap buku ini adalah agar bisa bicara tentang masa depan. Kemudian, mumpung Industri 4.0 belum terimplementasikan dengan masif di perikanan, mungkin bisa dibikin dulu regulasinya agar saat implementasi di lapangan bisa lancar," katanya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebut inovasi dalam teknologi untuk transformasi budaya maritim yang dijadikan judul buku sangat menggelitik. Pasalnya, menurut dia, orang Indonesia kemungkinan sudah banyak yang melupakan soal laut.

"Saya yakin 50 persen lebih orang Indonesia tidak terpikir laut. 70 tahun kita didoktrin agrikultur, negara agrikultur padahal zaman dulu kejayaan maritim kita luar biasa," katanya.

Ia pun mengingatkan seluruh pihak terkait dalam sektor kelautan dan perikanan untuk tidak gampang lupa akan potensi dan budaya maritim Indonesia.

Baca juga: Menteri Susi: kondisi kelautan dukung poros maritim
Baca juga: KKP ingin miliki pesawat terbang pengamatan maritim
Baca juga: Menteri Susi: Cegah eksploitasi asing, kembalikan marwah maritim

 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019