Korban gempa Palu terima 12 unit huntara bambu

Korban gempa Palu terima 12 unit huntara bambu

Asiaten III bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Palu Imran Lataha (Kiri) meninjau bangunan hunian sementara (Huntara) yang di bangun organisasi KUN Humanity System untuk warga Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu, Sabtu (3/8/2019). (ANTARA/Humas Pemkot Palu)

Palu (ANTARA) - Pengungsi korban gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah menerima 12 unit hunian sementara yang terbuat dari bambu.

Asisten Bidang Asministrasi Unum Pemkot Palu, Imran Lataha saat menghadiri serah terima huntara di Palu, Sabtu mengatakan hunian disediakan organisasi KUN Humanity System untuk korban gempa di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore sangat membatu warga yang kehilangan rumah akibat dampak bencana alam tersebut.

"Setelah diresmikan mari kita jaga dan manfatakna dengan baik fasilitas yang telah disediakan oleh pendonor," ujar Imran yang juga mantan Inspektur Ispektorat Palu.

Huntara bambu baru pertama kali dibangun untuk warga korban bencana Palu. Hunian ini termasuk unik, karena hampir keseluruhan materialnya menggunakan bahan baku bambu beratap rumbia yang sifatnya ramah lingkungan.

Hunian tersebut berbeda dengan huntara pada umumnya yang hanya bilik tanpa ada sekat-sekat sebagai ruang privasi. Bangunan itu dirancang agar penghuninya merasa nyaman ksusunya pada saat melakukan kegiatan privasi, meskipun pemanfaatannya bersifat jangka pendek.

"Huntara ini cukup nyaman ditempati, desainnya sangat kreatif, olehnya warga yang tinggal di bangunan ini harus senantiasa menjaga kebersian dan keasriannya, " katanya menambahkan.

Manager proyek KUN Tengku Lidya Miranda menjelaskan, pembangunan huntara yang hampir sebagian besar berbahan dasar bambu merupakan proyek kedua setelah sebelumnya huntara bambu juga dibangun di wilayah Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.

Organisasi berbasis "volunteer" yang mensinergikan manusia dengan alam selalu mengedepankan kearifan lingkunan. Berangkat dari konsep itu, maka proyek pembangunan huntara bambu dilaksanakan bernuansa tradisional namun tidak mengabaikan kualitas dan etetikanya.

"Kami lebih mengedepankan pembangunan yang ramah alam dan lingkungan sehingga keberadaan huntara ini berbeda dengan yang lainnya, " ungkap Lidya.

Hampir 10 bulan pascagempa, tsunami dan likuefaksi menimpa Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah dan sekitarnya, masih ada warga pengungsi tinggal di tenda-tenda darurat karena tidak memadainya fasilitas hunian disediakan.
Pewarta : Muhammad Hajiji/Moh Ridwan
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019