YSTC ajak media dukung gerakan menyusui dalam situasi darurat bencana

YSTC ajak media dukung gerakan menyusui dalam situasi darurat bencana

Foto bersama para peserta workshop dan narasumber serta anggota dan pengurus YSTC/Save The Children, usai workshop "peran media dalam melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui" dalam rangka memperingati pekan ASI se-dunia tahun 2019 yang mengangkat tema "Ayah dan ibu kunci keberhasilan menyusui", di Palu, Selasa. (ANTARA/Muhammad Hajiji/Yardin Hasan)

Palu (ANTARA) - Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) atau Save The Children mengajakl media mendukung gerakan menyusui atau pemenuhan hak anak dan bayi memperoleh ASI eksklusif dalam situasi darurat bencana dan pascabencana.

"Kami menggelar workshop untuk peningkatan kapasitas awak media/pers tentang  ini untuk mengenalkan kepada kawan-kawan media, tentang pentingnya pemenuhan ASI eksklusif kepada bayi dan anak dalam situasi bencana atau non-bencana," katap Manajer Komunikasi dan Advokasi YSTC/Save The Children, Dewi Sri Sumanah, di Palu, Selasa (6/8).

Peningkatan kapasitas itu dilakukan oleh YSTC lewat workshop dengan tema "peran media dalam melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui" dalam rangka memperingati pekan ASI se-dunia tahun 2019 yang mengangkat tema "Ayah dan ibu kunci keberhasilan menyusui".

YSTC melibatkan 15 media nasional sekaligus kontributor dan media lokal, yang diharapkan dapat menyampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya ASI eksklusif atau pemenuhan gizi bayi dan anak dalam situasi bencana maupun non-bencana.

Karena itu, YSTC melibatkan dua narasumber pertama Dokter Wiyarni Pambudi dari Satgas ASI IDAI, dan Rahmat Hidayat dari Ayah ASI.

Baca juga: Dua negara ASEAN bantu bangun hunian korban gempa Palu

Dewi menguraikan, terdapat tiga wilayah intervensi YSTC tahun 2018 - 2020, meliputi Kota Palu, terdiri dari delapan kecamatan 39 kelurahan. Kemudian, Kabupaten Donggala terdapat sembilan kecamatan 61 desa intervensi, dan Kabupaten Sigi, 10 kecamatan 60 desa intervensi YSTC.

Di  satu kota dan dua kabupaten tersebut, YSTC menggencarkan tujuh program kemanusiaan yaitu pendidikan dan upaya pengurangan risiko bencana berbasis sekolah. Perlindungan anak dan pelacakan keluarga serta reunifikasi, distribusi bantuan non-pangan, shelter dan infrastruktur, air sanitasi dan kebersihan, kesehatan dan nutrisi, ketahanan pangan dan kesejahteraan.

"Mencapai perubahan langsung dan berkelanjutan untuk kehidupan anak-anak yang terkena dampak gempa dan tsunami serta keluarga mereka melalui bantuan kemanusiaan yang cepat dan tepat, anak dan keluarga juga dapat mengakses layanan dasar dan berpartisipasi aktif dalam pemulihan mereka sendiri," kata Dewi.

Selamat melakukan intervensi, terdapat 189.466 orang dan 90.379 anak penerima manfaat intervensi program dari YSTC. Hampir setahun pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi, YSTC membangun 108 ruang belajar sementara (TLS) telah didirikan di 50 lokasi tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala, dan 5.306 anak telah terdaftar dan menghadiri TLS yang telah didirikan.

"Pada aspek pendidikan, selain yang itu ada pula 36 guru dan kepala sekolah serta 27 Guru PAUD mengikuti pelatihan pendidikan dalam situasi darurat. 75 peserta mengikuti pelatihan pengurangan risiko bencana (guru, kepala sekolah, pengawas, BPBD dan masyarakat). 7.410 perlengkapan kembali ke sekolah telah diterima oleh anak-anak," ujar dia.

Baca juga: Kemen PUPR belum terima data konkret jumlah huntap di Palu dan Sigi
Baca juga: Guru Besar : Mahasiswa PT umum perlu dikenalkan moderasi beragama
Baca juga: Huntara di Palu, Sigi dan Donggala alami masalah listrik


 
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019