Bank Indonesia (BI) menyebut perekonomian menjadi tidak kondusif jika mencermati perbankan lamban dalam menurunkan bunga kredit meski bank sentral sudah menurunkan suku bunga acuan (BI7DRRR) yang saat ini mencapai 3,5 persen.

“Artinya bank-bank mencoba mendapat keuntungan yang lebih di saat seperti ini,” kata Asisten Gubernur BI Juda Agung dalam taklimat media secara virtual di Jakarta, Senin.

Ia menyoroti melebarnya spread atau selisih antara suku bunga acuan atau BI Seven Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) dengan suku bunga dasar kredit (SBDK).

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial ini menambahkan spread SBDK terhadap BI7DRRR cenderung melebar dari sebesar 5,27 persen pada Juni 2019 menjadi 6,36 persen pada Desember 2020.

Pada saat itu, suku bunga acuan BI mencapai 3,75 persen, sedangkan SBDK perbankan mencapai 10,11 persen.

Baca juga: Ekonom: Suku bunga acuan 3,5 persen akan jadi yang terakhir pada 2021

Dalam paparannya, Juda menjelaskan perbankan baru menurunkan total 116 basis poin SBDK, sedangkan BI sudah menurunkan bunga acuan sebesar 225 basis poin sejak Juni 2019.

“Yang terjadi justru spread ini mengalami kenaikan sehingga ini salah satu faktor mengapa orang masih ragu-ragu meminta kredit dari perbankan karena suku bunganya masih cukup tinggi,” katanya.

Berdasarkan kelompok bank, bank BUMN, lanjut dia, merupakan bank yang responsnya paling kaku atau rigid dengan besaran SBDK paling tinggi mencapai 10,79 persen pada Desember 2020 dibandingkan pada Juni 2019 mencapai 11,67 persen.

Kemudian, BPD mencapai 9,80 persen dibandingkan posisi Juni 2019 mencapai 10,58 persen, bank umum swasta nasional 9,67 persen dibandingkan Juni 2019 mencapai 10,87 persen.

Baca juga: BI turunkan suku bunga acuan jadi 3,5 persen
 
Sedangkan SBDK kantor cabang bank asing, kata dia, yang paling responsif terhadap penurunan suku bunga acuan BI dengan SBDK mencapai 6,17 persen dari posisi sebelumnya mencapai 9,01 persen.

Padahal, lanjut dia, terkait biaya-biaya yang menentukan suku bunga, sudah turun salah satu di antaranya adalah biaya overhead perbankan.

“Kita harap bank-bank merespons dengan lebih cepat, oleh sebab itu transparansi suku bunga, upaya kita kan mendorong bank lebih responsif dalam merespon kebijakan BI,” katanya.

Di sisi lain, ketika BI menurunkan suku bunga acuan, Juda mengamati perbankan paling cepat menurunkan suku bunga deposito.

“Itu suku bunga deposito hampir sama (besaran) penurunannya, jadi sangat responsif, tapi suku bunga kreditnya yang masih sangat rigid,” imbuhnya.

Baca juga: Gubernur BI harapkan perbankan percepat penurunan bunga kredit

Baca juga: Dirut BRI harapkan kebijakan suku bunga BI bantu gerakkan sektor riil

Baca juga: Ekonom perkirakan suku bunga acuan BI turun di triwulan I-2021

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2021