Wakil Presiden Ma’ruf Amin mendesak Pemerintah China dan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin untuk melobi Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) agar mempercepat sertifikasi vaksin COVID-19 produksi Sinovac.

Juru Bicara Wapres Masduki Baidlowi, dalam keterangan di Jakarta, Kamis, mengatakan desakan Wapres tersebut antara lain bertujuan agar jamaah umrah asal Indonesia diizinkan melakukan ibadah umrah di Makkah, Arab Saudi.

"Pemerintah Indonesia mendorong Pemerintah China agar segera melakukan proses secepatnya, supaya WHO bisa segera memberikan sertifikasi kepada Sinovac sehingga tidak ada hambatan lagi bagi jemaah umrah dari Indonesia yang mau beribadah," katanya.

Sementara itu, Wapres juga meminta Menkes dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk ikut melobi Pemerintah Arab Saudi agar jamaah umrah dari Indonesia yang sudah divaksin Sinovac bisa melaksanakan ibadah itu.

"Wapres juga meminta kepada Menkes untuk melakukan lobi, baik ke Pemerintah Arab Saudi, bagaimana supaya sebisa mungkin yang namanya vaksin Sinovac itu diperbolehkan. Itu yang diminta Wapres supaya dilobi ke Pemerintah Arab Saudi," katanya.

Masduki mengatakan upaya lobi-lobi tersebut diperlukan karena Pemerintah Arab Saudi hanya menerima jamaah umrah yang sudah mendapatkan vaksin COVID-19 sesuai daftar penggunaan darurat atau emergency use listing (EUL) dari WHO.

"Masalahnya ternyata, vaksin COVID-19 yang boleh masuk ke Arab Saudi itu vaksin yang sudah mendapatkan sertifikat dari WHO; dan ternyata masyarakat Indonesia sudah banyak yang divaksin, tapi vaksinnya adalah vaksin COVID-19 Sinovac. Sinovac ini baru dalam proses daftar di WHO. Nah, ini masalah," kata Masduki.

Berdasarkan daftar EUL/PQ (prequalification) di laman resmi WHO, Sinovac dijadwalkan mendapat izin penggunaan darurat pada awal Mei 2021. Saat ini, proses kualifikasi vaksin Sinovac masih dalam tahap penilaian oleh tim dari WHO, bersama dengan vaksin buatan Sinopharm/BIBP.

Sementara itu, vaksin COVID-19 yang telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari WHO hingga saat ini ialah buatan Pfizer, SK BIO AstraZeneca, Serum Institute of India dan Janssen (Johnson & Johnson).

Baca juga: Satuan Tugas jelaskan persoalan izin penggunaan vaksin Sinovac

Baca juga: Chile bela penggunaan vaksin Sinovac

Baca juga: Amphuri Sumbagut: Prioritaskan jamaah umrah dapat vaksin corona

Baca juga: Tingkatkan kemanjuran, China pertimbangkan campurkan vaksin COV

Pewarta: Fransiska Ninditya

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2021