Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan harga keekonomian bahan bakar minyak memperhitungkan pengadaan impor minyak mentah yang dibeli Pertamina dengan harga pasar sehingga biaya produksi BBM akan meningkat seiring kenaikan harga minyak mentah global.

"Sejak 2008 kita resmi keluar dari keanggotaan OPEC karena sudah menjadi net importir. Produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan yang pesat sehingga harus impor. Harga BBM saat ini mahal karena harga minyak mentahnya sedang tinggi," kata Komaidi dalam diskusi dengan media secara virtual di Jakarta, Selasa.

Komaidi menilai tudingan bahwa harga jual BBM nonsubsidi seperti Pertamax terlalu tinggi adalah salah kaprah. Hal ini mengacu pada klaim pihak yang tidak paham yang menyebutkan bahwa produksi minyak mentah hanya Rp1.772,00 per liter. Padahal, harga internasional per Maret 2022 sudah mencapai Rp10.209,00 per liter.

"Asumsi harga minyak mentah 19,5 dolar AS per barel itu cost production dari salah satu lapangan, bukan harga jual minyak mentah. Acuannya sudah jelas, domestik itu ICP (harga minyak mentah Indonesia). Harga ICP Maret 113 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN 2022 yang 63 dolar AS per barel," ujarnya.

Menurut Komaidi, konsumsi BBM saat ini 1,6 juta barel per hari (bph). Namun, produksi minyak mentah yang diolah jadi BBM kurang dari 750.000-an bph.

"Dari total produksi itu, kita hanya dapat sekitar 480.000-an bph karena sebagian digunakan sebagai cost recovery, dikembalikan ke kontraktor sebagai bagi hasil," ungkap dia.

Komaidi menilai perhitungan menyeluruh harga minyak internasional dan domestik akan lebih adil (fair) untuk mengetahui keekonomian harga BBM. Biaya produksi hanya bagian dari harga jual. Ada komponen biaya lain yang sama seperti negara lain, salah satunya adalah harga minyak global, biaya pengolahan/pengilangan, biaya distribusi serta transportasi, termasuk penyimpanan dan lain-lain.

"Selain itu, ada pajak dan margin badan usaha," ujarnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti itu menyebutkan komponen harga minyak mentah relatif sama karena harga internasional. Namun, komponen lainnya bisa berbeda tiap wilayah, bahkan ada yang di satu negara berbeda-beda.

Ia mencontohkan biaya pengilangan di Balongan dan Cilacap beda, konsekuensinya biaya juga beda. Pajak juga beda. Belum ditambah perbedaan pada biaya transportasi distribusi.

"Kalau mau fair kita hitung menyeluruh sekian persen acuan harga internasional dan domestik. Akan tetapi, bedanya tidak jauh. Misalnya domestik ICP. Itu kalau dibandingkan WTI, ICP lebih mahal karena kualitasnya di atas Brent," katanya.

Baca juga: Harga keekonomian pertamax diprediksi tembus Rp16.000 per liter

Baca juga: Peneliti: Penurunan BBM sebaiknya menyesuaikan harga keekonomian

 

Pewarta: Faisal Yunianto

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2022