......Penentuan status dimaksudkan memberikan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung," katanya......
Jakarta (ANTARA Jambi) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa pada saat ini ada empat gunung api berstatus siaga dan 20 gunung api berstatus waspada di Indonesia.

"Dari empat gunung berstatus siaga dan 20 status waspada tersebut tidak terjadi erupsi bersamaan waktunya," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Rabu.

Ia mencontohkan status Gunung Kerinci di Jambi ditetapkan sejak 9 September 2007 hingga saat ini. Begitu juga dengan Gunung Dukono sejak 15 Juni 2008 hingga sekarang.

Ia memerinci empat gunung api berstatus siaga adalah Gunung Slamet, Sinabung, Karangetang, dan Lokon.

Sedangkan 20 gunung api berstatus waspada adalah Gunung Merapi, Rokatenda, Kelud, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci.

Peningkatan status gunung, kata dia, dimulai dari normal, lalu waspada kemudian siaga lalu awas.

Sutopo menambahkan, penentuan status gunung api adalah kewenangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Penentuan status dimaksudkan memberikan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung," katanya.

Sementara itu, status aktivitas vulkanis Gunung Slamet di Jawa Tengah meningkat dari sebelumnya waspada menjadi siaga. Pada Selasa (29/4) dari pukul 00.00 - 06.00 WIB terjadi 30 kali gempa letusan dan 67 kali gempa embusan asap.

Selain itu, terdapat asap putih tebal kecokelatan hingga kelabu setinggi 150 hingga 700 meter dan terdengar 26 kali suara dentuman, dan terlihat luncuran lava pijar mencapai 1.500 meter dari kawah.

Pemerintah memberikan rekomendasi daerah yang harus dikosongkan dinaikkan menjadi radius empat kilometer dari puncak kawah.

"Dilarang melakukan pendakian, berkemah atau melakukan wisata hingga berada di dalam radius empat kilometer," kata Sutopo.(Ant)

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
: Edy Supriyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026