Seminar nasional Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Jambi diharapkan dapat menghasilkan untuk menyikapi tantangan era revolusi industri 4.0 serta pemikiran brilian untuk menghadapi era revolusi industri saat ini.

“Revolusi industri 4.0 itu bukanlah tujuan melainkan dampak dari kemajuan teknologi, kemajuan teknologi itu dapat menimbulkan dampak positif dan negatif, namun saat ini kemajuan teknologi tersebut cenderung berdampak negatif,” kata Rektor Unja Prof Johni Najwan, S.H, M.H, Ph.D di Jambi.

Melalui seminar nasional yang di selenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Budaya Melayu LP2M Universitas Negeri Jambi tersebut, Prof Johni Najwan berharap dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran yang brilian untuk menghadapi era revolusi industri saat ini. Sehingga generasi yang akan datang bisa menjadi lebih baik lagi, dan sesuai dengan harapan bersama yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yakni untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia terhadap anak didik.

Dicontohkannya, saat ini sudah banyak orang yang malas membuka dan membaca Al Qur’an dan lebih memilih membuka telepon genggam atau gadget untuk mengaji. Menurut Johni Najwan orang-orang seperti itu merupakan korban dari revolusi digital. Karena yang diperintahkan oleh Allah itu membuka dan membaca Al Qur’an, karena Al Qur’an merupakan musyafhnya, dan membaca Al Qur’an di telepon genggam tersebut bukan membaca Al Qur’an, melainkan membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berada di dalam hanpdhone.

“Mudah-mudahan peserta seminar yang hadir dapat menambah wawasannya, terlebih narasumber yang dihadirkan juga sangat berkompeten,” kata Prof.Johni Najwan, S.H, M.H, Ph.D.

Seminar nasional dengan tema pendidikan agama islam menyikapi tantangan era revolusi 4.0 yang dilaksanakan di Aula Rektorat Unja tersebut mendatangkan narasumber DR.Andy Harianto M.A dari Universitas Jakarta dan DR.Sopian Ramli, M.Ag.

Sementara itu, untuk mengantisipasi kedangkalan dan kurangnya pemahaman anak didik terhadap ketentuan Islam, Unja telah menerapkan kewajiban kepada mahasiswanya yang beragama Islam. Dimana mahasiswa Unja yang akan diwisuda terlebih dahuu harus hatam Al Qur’an. Selain itu, pada penerimaan mahasiswa baru, Unja akan menerima calon mahasiswa yang hafal Al Qur’an tanpa melalui tahapan tes dan seleksi layaknya calo mahasiswa pada umumnya.

“Tentunya hafidz dan hafizah yang hafal Al Qur’an 30 juz, bukan hanya juz 30,” kata Prof.Johni Najwan, S.H, M.H, Ph.D.

Pewarta: Muhammad Hanapi

Editor : Syarif Abdullah


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2019