Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur menggelar kegiatan peragaan busana Dhoho Street Fashion 2020 secara virtual yang dimeriahkan sejumlah desainer, baik lokal maupun nasional.

"Formatnya ini unik dan ikonik. Ada satu yang ingin saya pertahankan bahwa gelaran ini selalu mengangkat tema outdoor  dan mengeksplorasi segala potensi yang kami punya, dari RTH (ruang terbuka hijau), museum (Museum Airlangga) hingga Goa Selomangleng ini," kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar di Kediri, Minggu.

Kegiatan Dhoho Street Fashion 2020 itu digelar di area wisata Goa Selomangleng Kota Kediri. Acara yang sudah memasuki keenam kalinya digelar juga melibatkan sejumlah desainer, baik lokal maupun nasional, antara lain Priyo Oktaviano, Era Soekamto, Samira M. Bafagih, sedangkan desainer lokal, yakni dari Azzkasim, Numansa, Luxecefsar, dan pelajar SMKN 3 Kota Kediri.



Bunda Fey, sapaan akrab Ferry Silviana Abu Bakar mengatakan jika keadaan sudah membaik dari pandemi COVID-19, pihaknya ingin mengajak beberapa desainer untuk kerja sama dengan jumlah yang lebih banyak. Kehadiran para desainer itu juga turut memberikan kesempatan kepada anak-anak di SMK 3 Kota Kediri untuk bersemangat membuat rancangan baju karya mereka.

Dari Kediri, juga muncul desainer kenamaan, yakni Priyo Oktaviano. Ia optimistis akan muncul desainer kenamaan lainnya yang akan turut serta melestarikan kain khas dari Kota Kediri, yakni tenun ikat.

"Kehadiran teman-teman desainer ini memberikan visualisasi luar biasa ke adik-adik SMK. SMK 3 Kediri ada jurusan tata busana. Kami sangat berharap muncul bakat baru desainer dari sana dan itu tidak mungkin dimunculkan tanpa adik-adik ini mendapatkan 'brainstorming', dapat visualisasi bahwa ternyata ada hal yang mungkin," ujar dia.

Ia juga berharap dengan agenda ini semakin menumbuhkan semangat bagi UMKM untuk terus berkarya, terlebih lagi di masa pandemi COVID-19. Semangat dan roda ekonomi harus terus berputar, khususnya bagi UMKM tenun ikat dari Kediri dan lini usaha yang mengikutinya.

"Pagelaran busana ini bertujuan untuk mempromosikan tenun ikat kediri ke pasar yang lebih luas dan juga memberi inspirasi bagi para desainer Kota Kediri untuk menampilkan tenun ikat kediri," kata dia.

Peragaan busana ini mengangkat tema Energy of Kilisuci, yakni energi seorang perempuan yang rela menjadi pertapa di Goa Selomangleng untuk melindungi Kediri dari marabahaya. Energi ini diharapkan mampu membangkitkan semangat dan roda ekonomi UMKM Kota Kediri.

Pada saat pandemi, omzet pengusaha tenun ikat Kediri dan lini usaha yang mengikutinya, seperti penjahit busana turun drastis. Oleh karena itu, segala upaya untuk kembali mempromosikan harus dilaksanakan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Acara ini digelar dengan protokol kesehatan yang ketat. Peserta di lokasi dibatasi dan harus mengenakan masker. Namun, warga juga dapat menyaksikan acara ini karena juga disiarkan secara virtual.



Acara itu juga dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, istri Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin, jajaran Forkopimda Kota Kediri dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Syarif Abdullah


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2020