Harga minyak naik sekitar satu persen, dengan patokan global Brent menetap di tertinggi dua minggu pada akhir perdagangan yang bergejolak Selasa (Rabu pagi WIB), karena para pedagang khawatir tentang pasokan yang ketat dan dolar yang lebih lemah.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September terangkat 1,08 dolar AS atau 1,0 persen, menjadi menetap di 107,35 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus naik 1,62 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi ditutup di 104,22 dolar AS per barel.

Brent membukukan penutupan tertinggi sejak 4 Juli dan WTI tertinggi sejak 8 Juli. Pada satu titik selama sesi bergejolak, kedua tolok ukur sempat turun sekitar dua dolar AS per barel.

"Minyak mentah telah melakukan perputaran yang luar biasa hari ini," kata Robert Yawger, direktur eksekutif energi berjangka di Mizuho.

"Tidak ada headline merah bullish yang besar untuk memberi lampu hijau pada reli, tetapi kombinasi dari open interest dan volume perdagangan yang rendah akan sering mendorong perubahan harga yang liar," kata Yawger, dikutip dari Reuters.

Dolar AS merosot ke level terendah dua minggu terhadap sekeranjang mata uang lainnya, membuat minyak lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Harga minyak telah melemah, didukung oleh kekhawatiran pasokan karena sanksi Barat terhadap Rusia, tetapi ditekan oleh upaya bank-bank sentral global untuk menjinakkan inflasi yang memicu kekhawatiran bahwa potensi resesi dapat memangkas permintaan energi.

Pada Jumat (15/7/2022), open interest di bursa berjangka New York Mercantile Exchange turun ke level terendah sejak September 2015 karena investor memangkas aset berisiko seperti komoditas, khawatir bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga AS.

Pipa AS-Kanada Keystone beroperasi pada kapasitas yang dikurangi pada Senin (18/7/2022) setelah stasiun pompa ditutup.

Kepala National Oil Corp (NOC) Libya yang baru, Farhat Bengdara, menolak tantangan untuk penunjukannya dan memulai pekerjaan di beberapa ladang dan pelabuhan yang ditutup.

Pekan lalu, Presiden AS Joe Biden mengunjungi pengekspor minyak utama Arab Saudi, pemimpin de facto Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang ekspor minyak mentahnya tergelincir pada Mei ke level terendah empat bulan.

Biden berharap untuk mencapai kesepakatan tentang dorongan produksi minyak untuk menjinakkan harga bahan bakar, tetapi menteri luar negeri kerajaan itu mengatakan masalah pasar bukanlah kekurangan minyak mentah tetapi kurangnya kapasitas penyulingan.

Di Amerika Serikat, ekspektasi untuk peningkatan persediaan minyak mentah membebani harga. Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah naik 1,4 juta barel pekan lalu.

American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, akan mengeluarkan laporan persediaannya pada Selasa pukul 20.30 GMT. Badan Informasi Energi AS (EIA) akan melapor data stoknya pada Rabu pukul 14.30 GMT.

Pada Selasa (19/7/2022), orang-orang yang mengetahui rencana Biden mengatakan kepada Reuters bahwa presiden berencana untuk mengumumkan langkah-langkah federal baru yang ditujukan untuk krisis iklim pada Rabu waktu setempat.

Di awal sesi, harga minyak turun karena data ekonomi yang lemah dari seluruh dunia.

Baca juga: Iran dan Gazprom Rusia tanda tangani kesepakatan kerja sama energi
Baca juga: Minyak naik di tengah kekhawatiran pasokan ketat dan pelemahan dolar
Baca juga: Ladang minyak Daqing di China bukukan peningkatan output gas alam

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2022