Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Provinsi Jambi mencoba peruntungan pasar ekspor dengan memanfaatkan program pendampingan dari pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menjelang akhir Tahun 2022, pelaku usaha madu asal Kota Jambi, yakni Madu CLB berhasil memasarkan produk madu honeycomb yang dikirim ke Singapura.

Produsen madu yang awalnya hanya menjajal pasar lokal, kini menjadi salah satu produk ekspor percontohan di Jambi.

Pemilik UMKM usaha madu itu, Chandra Lela mengatakan perusahaannya berhasil mengirimkan 250 kilogram madu honeycomb setelah mendapatkan pendampingan dari Kantor Pelayanan Bea Cukai yang menjalankan program Klinik Ekspor Bea Cukai Jambi.

Bea Cukai gencar mendampingi para pelaku usaha yang berpotensi ekspor di berbagai daerah melalui Program Klinik Ekspor.

Upaya tersebut ditujukan untuk membantu peningkatan nilai ekspor Indonesia yang sempat turun pada Oktober 2022. Diketahui dari data BPS, nilai ekspor Indonesia di Bulan Oktober sebesar USD24,72, sedangkan pada bulan sebelumnya nilai ekspor Indonesia berjumlah USD24,77.

Melalui program tersebut, Chandra mendapat bantuan dalam pemenuhan syarat-syarat dokumen ekspor.

Dengan pendampingan dari Bea Cukai, membuat dia lebih percaya diri, pembeli produknya juga menjadi lebih yakin.

Sejauh ini bisnis Chandra terus berkembang sejak melakukan pengiriman pertama ke Negeri Singa pada November 2022. Setidaknya, ia menjual 100-200 bungkus madu honeycomb dengan berat total 200 kilogram ke mitra dagang.

Keberhasilan ini tak ayal membuat pelaku UMKM asli Jambi ini percaya diri untuk membuka pasar baru ke Korea Selatan, Los Angeles dan Jerman.

Untuk memulai ekspor, kata dia, tantangan yang harus dihadapi bukan lagi mengenai kualitas barang, melainkan kemampuan pelaku UMKM dalam memenuhi volume ekspor, sesuai keinginan pembeli.

Selain itu, tantangan berikut adalah kelengkapan dokumen karena setiap negara tujuan ekspor memiliki regulasi yang berbeda-beda.

Apa yang distandarkan Singapura, berbeda dengan Korea Selatan.

Sebenarnya upaya untuk ekspor ini sudah dilakukan Chandra sejak lama dengan menjadi binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi, PT PLN UP3 Jambi dan Bank Indonesia.

Disperindag Kota Jambi berupaya memperluas produk industri kecil mikro (IKM) di kota itu dengan memberikan pelatihan ke pelaku usaha, seperti pemasaran, pembuatan hak paten, pengurusan SNI, dan pengemasan.

Tak hanya itu, Pemkot Jambi juga kerap kali mempromosikan produk IKM ke sejumlah pameran tingkat nasional.

Khusus untuk pelaku usaha yang berkeinginan ekspor, pemkot menggandeng banyak pihak untuk mengedukasi mereka untuk mengenali keinginan pasar luar negeri.

Disperindag Kota Jambi juga mendatangkan motivator agar mereka (pelaku usaha) semangat untuk menjalani usaha ekspor.

Sejak dua tahun terakhir, Disperindag Kota Jambi menghadirkan pelaku usaha ekspor yang berpengalaman untuk berbagai kisah dan pengalaman kepada IKM lainnya.

Saat ini tercatat 4.335 IKM yang dibina Disperindag Kota Jambi, yang mana diharapkan muncul pelaku-pelaku usaha baru yang berani untuk ekspor. Sementara Bea Cukai Jambi memprakirakan terdapat 46 UMKM di daerah setempat yang berpotensi ekspor.

Sejauh ini, Disperindag Kota Jambi tidak memiliki target jumlah pelaku usaha yang bisa ekspor. Akan tetapi, pemkot optimistis akan bermunculan produk lokal Jambi yang berhasil menembus pasar ekspor, seiring dengan pendampingan serius dari pemerintah dan BUMN.

Berbagai persoalan klasik yang dihadapi UMKM sudah dipetakan oleh pemkot, salah satunya kebutuhan terhadap modal kerja.

Untuk itu, pemkot bekerja sama dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jambi untuk memberikan kemudahan bagi UMKM mengakses dana pembiayaan dari industri jasa keuangan.

Pemkot Jambi mendorong mereka bagaimana caranya memenuhi persyaratan peminjaman, lalu dibina agar mereka lebih dipercaya perbankan.

Bank Indonesia Provinsi Jambi juga memiliki program untuk mendorong produk UMKM Jambi menembus pasar ekspor.

BI Jambi mengamati kopi dan madu asal Jambi memiliki peluang yang besar untuk ekspor.

Kebijakan pengembangan UMKM BI itu dijalankan melalui program UMKM potensial, UMKM Digital, dan UMKM Go Ekspor.

Hingga 2022, terdapat dua UMKM binaan BI Jambi yang masuk pasar ekspor, yakni KKBB (Koperasi Koerintji Barokah Bersama) di Kabupaten Kerinci dan produk madu dari Kota Jambi.

Ke depan untuk produk kopi, BI mencanangkan perluasan kluster dan replikasi program.

Perluasan kluster di koperasi itu yang dilakukan berupa pengembangan eco eduwisata kopi. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mempertahankan kopi kerinci agar tetap menjadi produk unggulan ekspor Jambi.

BI Jambi juga mereplikasi program berupa pengembangan kopi robusta di Merangin, Jambi.

Pengembangan kopi robusta sebenarnya sudah diinisiasi sejak dua tahun ini, tapi memang belum berjalan dengan baik karena masih banyak indikator dari tahapan pengembangan ekspor itu yang perlu dibenahi.

Selanjutnya, BI juga berencana melibatkan koperasi tersebut untuk pengembangan kluster UMKM berorientasi ekspor di kawasan Jangkat dan Serampas Merangin.

Sama halnya dengan itu, produk madu lain asal Jambi juga akan didorong siap ekspor, yang mana sejauh ini sudah terdapat sejumlah UMKM yang berminat untuk menjalankannya.

Produk madu ini memiliki potensi pasar cukup besar, apalagi sudah memiliki peternakannya. Bersamaan dengan itu ada permintaan tinggi dari pasar internasional, seperti Malaysia dan Singapura, yakni jenis honeycomb atau madu beserta sarang.

Bank Indonesia dalam hal ini mendukung dari sisi kelembagaan, tata kelola, bisnis matching, bantuan teknis, dan perizinan ekspor.

Bank sentral sejauh ini memiliki metode untuk pengembangan UMKM agar siap ekspor, mulai dari seleksi dalam tiga tahun, program kluster, pelatihan, studi banding, pameran, dan bussiness matching.

Koperasi Koerintji Barokah Bersama merupakan binaan BI Jambi yang sejak 2019 sudah melakukan ekspor kopi arabika Kerinci. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor kopi kerinci ini, yaitu Dubai, Korea Selatan, London, California, Belgia, dan Australia.

Koperasi itu mengirimkan 200 ton biji kopi per tahun atau menyerap produksi 380 petani.

Setiap pengiriman ke suatu negara, rata-rata mencapai 18 ton biji kopi greenbean atau biji mentah. Dalam waktu dekat, Koperasi Barokah akan mengirimkan 16 ton biji kopi ke Australia.

Diharapkan volume ekspor terus meningkat, sehingga lebih banyak produksi petani yang bisa terserap.

Perluasan pasar produk UMKM Jambi ke luar negeri ini dapat terakselerasi jika ada kolaborasi antara pemerintah, swasta, BUMN, asosiasi, dan masyarakat.

Jambi sesungguhnya memiliki peluang yang besar untuk memasuki pasar internasional karena memiliki beragam hasil bumi, baik dari pertanian, peternakan maupun produksi olahan lainnya. Dibutuhkan upaya serius untuk mengawal pelaku UMKM dari hulu dari hilir.

 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: UMKM Jambi jajal pasar ekspor

Pewarta: Tuyani

Editor : Dolly Rosana


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2023