.....Masyarakat harus paham, tidak ada hubungan seksual yang benar-benar aman 100 persen.....
Pekan Kondom Nasional 2012
Dalam Upaya Pencegahan HIV/AIDS di Jambi
Jambi (ANTARA Jambi) - Jambi memang belum masuk dalam daftar wilayah endemis HIV/AIDS di Indonesia. Namun dari tahun ke tahun jumlah penderitanya kian bertambah.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Andi Pada, beberapa waktu lalu (30/11) menyodorkan data yang cukup mengejutkan. Sejak virus ini terdeteksi pertama kali di Jambi pada 1999, jumlah orang dengan HIV/AIDS sudah mencapai 703 orang. Total mereka yang meregang nyawa karena penyakit ini sampai 2012 sudah 123 orang.
Artinya, jika dirata-ratakan dalam setahun, jumlah mereka yang ketahuan positif HIV/AIDS sebanyak 50 sampai 55 orang. Sementara yang kehilangan nyawa akibat virus yang merontokkan sistem kekebalan tubuh ini dalam kisaran 9 sampai 10 orang pertahunnya.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jambi mencatat, jumlah penderita HIV/AIDS selama tahun 2012 ini saja sudah 125 orang. Dari angka itu, 16 orang diantaranya telah menemui ajal.
Jumlah penderita ini naik dengan selisih yang cukup tajam. Antara tahun 2011 dengan 2012 dicatat selisihnya mencapai 39 orang. Angka yang jelas masih sangat fluktuatif.
Entah apa artinya. Mungkinkah demoralisasi dalam bentuk pergaulan dan seks bebas serta penggunaan narkoba sudah tidak terbendung, justru di tengah gencarnya kampanye dan sosialisasi berbagai pihak tentang bahaya penyakit satu ini?
Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun menurut Erwan Mujio, Sekretaris KPA Kota Jambi, meningkatnya jumlah penderita yang tercatat oleh lembaga-lembaga penanggulangan HIV/AIDS di Jambi, setidaknya merupakan bentuk keberhasilan kampanye anti HIV/AIDS ini secara luas;
Menurut Erwan, sebelum kampanye anti HIV/AIDS gencar diteriakkan oleh berbagai kalangan yang peduli, temuan kasus virus ini cenderung berupa hasil penelitian dan penelusuran pihak-pihak terkait.
Laiknya penelitian, hasilnya cenderung ekslusif, berkisar pada populasi dan sampel tertentu saja. Namun sejak beberapa tahun belakangan, kesadaran orang untuk memeriksakan dirinya ke klinik-klinik khusus sudah cukup baik. Dan hasilnya seperti data di atas, jumlahnya kian banyak saja. Menyebar di hampir seluruh kabupaten/kota di Jambi. Dengan demikian, semakin tinggi kesadaran orang untuk memeriksakan dirinya, maka jumlah penderita dipastikan akan semakin bertambah tiap tahunnya. Inilah fenomena gunung es, seperti yang dikata banyak orang.
Tetapi, bukan seberapa besar jumlah penderita yang terdata di suatu kota, suatu negara, yang menjadi substansi dari kampanye ini. Pendataan itu berguna untuk mencari, mengetahui dan memutus mata rantai transmisi penyebaran virus tersebut. "Semakin banyak diketahui individu-individu yang terjangkit, maka semakin besar pula peluang kita untuk memutus mata rantai penyebaran dan penularannya," ungkap Erwan.
Menurut dia, jika seseorang laki-laki yang telah berkeluarga, misalnya, diketahui telah tertular virus ini dari luar rumahnya. Maka dia memiliki kesempatan yang besar untuk tidak menularkan virus ini ke istrinya. Dan jika sang istri atau seorang ibu mengetahui dirinya telah tertular HIV dari suami, maka sedini mungkin dia dapat memutus penularan kepada bayi yang berada dalam kandungannya.
Demikian pula dengan anak-anak yang diketahui positif HIV, maka pihaknya (KPA) dapat melakukan pendampingan, pengobatan dan perawatan terhadap si anak. Termasuk menciptakan kewaspadaan universal. Sehingga di kemudian hari dia tidak menularkan penyakit itu kepada orang lain dengan cara-cara yang beresiko. "Jika dulu orang-orang malu dan takut sehingga tidak mau memeriksakan dirinya. Kini mereka lebih terbuka dan menyadari bahwa penting untuk mengetahui dirinya terbebas ataukah telah tertular virus itu." kata Erwan, Jumat pekan lalu (21/12).
Dengan banyaknya kasus yang terdata, akan semakin baik. Bahkan WHO, kata dia, menargetkan Pemerintah Indonesia dapat menemukan 1.200 kasus lagi hingga akhir 2015 mendatang.
Wilayah penjangkitan
Lokalisasi Payo Sigadung alias Pucuk, Sabtu malam 22 Desember 2012 itu terlihat sepi. Mungkin karena siangnya baru saja terjadi razia yustisi oleh Pol PP dan aparat gabungan lainnya di tempat itu. Entahlah. Namun sesungguhnya kondisi ini sudah terjadi sejak tahun 2006 lalu. Lokalisasi terbesar di Jambi ini sudah mulai kehilangan pamor, dan ditinggalkan para pelanggannya, si pria hidung belang. Apa pasal?
Bukan karena penyebaran HIV/AIDS atau infeksi menular seksual lainnya di tempat itu tinggi. Juga bukan karena tarif para perempuan, atau apa saja yang berasal dari dalam tempat ini yang membuat si hidung belang beranjak pergi. Sepinya tempat ini, menurut Bujang, salah seorang penghuni lokalisasi itu, lebih disebabkan penutupan besar-besaran perusahaan penggergajian (sawmil) dan usaha perkayuan ilegal lainnya sejak 2006 di Jambi.
Para pekerja yang biasanya bertindak sebagai pelanggan di lokalisasi itu, kini sudah mulai bangkrut, kehilangan sumber mata pencarian mereka yang "basah". Di tengah kebangkrutan para pria hidung belang itu, pekerja seks komersial mulai turun ke jalan-jalan, menyerbu hotel, salon, diskotik dan pusat-pusat hiburan malam lainnya di Kota Jambi.
Sebagian mereka hijrah dan didatangkan ke daerah-daerah yang jauh, semisal Kabupaten Bungo, Tebo, Merangin, Tanjung Jabung Barat, Timur, Batanghari, Muaro Jambi dan lainnya, seperti diakui Bujang. Maka dalam beberapa tahun terakhir "tren" itu berubah. Jika selama ini asumsi penularan infeksi menular seksual terbesar berasal dari Payo Sigadung. Kini tempat penularan telah tersebar ke beberapa titik, yang telah bertransformasi menjadi lokalisasi non permanen di beberapa kota tersebut.
Dari data KPA Jambi, dalam beberapa tahun belakangan di provinsi itu persebaran HIV/AIDS terbagi di hampir seluruh kota/kabupaten se Jambi hangat ini. Uniknya, laporan atau temuan kasus tersebut tidak ada atau belum muncul dari daerah-daerah yang didiami oleh masyarakat dengan tingkat religiusitas tinggi, seperti Sungai Penuh di Kerinci dan Kampung Seberang di Kota Jambi.
"Belum ada laporan atau temuan yang muncul dari dua daerah itu, Sungai Penuh dan Seberang Jambi," kata Ketua KPA Provinsi Jambi, Aspan, SKM Kes, usai sosialisasi massal peringatan AIDS di halaman kantor Walikota Jambi, Jumat pagi akhir bulan lalu(30/11). Menurut dia, Kota Jambi sebagai ibukota dan pusat peredaran uang, orang dan barang di daerah ini masih menempati urutan teratas temuan kasus ini. Jumlahnya mendominasi hingga mencapai 80 persen.
Dua puluh persen lainnya tersebar di beberapa daerah, seperti di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mencatat 20 orang terinfeksi. Sementara di Kabupaten Muarojambi dan Kerinci masing-masing 3 orang. Bungo 2 orang. Dan Kabupaten Batanghari serta Tebo, masing-masing 1 orang.
Namun sekali lagi ini adalah fenomena gunung es. Satu akan melahirkan dua. Dua akan menciptakan empat, Tiga bisa saja menyebarkkan ke enam lainnya. Dan seterusnya. Soal mengapa di Kota Jambi angka penderita yang ketahuan jauh lebih besar dari daerah-daerah lain, tiap orang punya jawaban masing-masing tentunya. "Mungkin di Kota Jambi yang lebih heterogen dan majemuk serta terbuka, membuat kesadaran orang untuk memeriksakan dirinya relatif lebih besar ketimbang daerah lain, Selain itu fasilitas dan akses pelayanan ke Voluntary Consuling Test (VCT) juga cukup tersedia," kata Sumi, Aktivis sosial dan kesehatan dari Sentra Informasi Orang Kito (SIKOK), Jambi, Jumat pekan lalu (21/12).
Tren yang berubah
Menurut Sumi, belakangan ini di Jambi, lokasi penjangkitan HIV AIDS tidak saja berasal dari area lokalisasi. Tapi juga sudah menyerang dan bermula di jantung rumah tangga biasa. Penjangkitan umumnya melalui hubungan seks yang beresiko, dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril bagi pengguna narkoba khususnya. Dan, melalui proses kehamilan, persalinan hingga menyusui bagi ibu ke anaknya. "Kita tidak pernah tahu, virus ini dapat menyerang siapa saja, termasuk ibu-ibu dan anak-anak yang tiada berdosa. Bahkan dari tempat yang tidak kita duga sekalipun," katanya.
Sumi menyatakan, ketidaktahuan, ketidakpedulian dan ketakberdayaan orang-orang (khususnya kaum perempuan dan anak-anak) membuat penyebaran virus ini justru semakin menjadi-jadi. Di Kota Jambi, ujar dia, dari total 557 orang dengan HIV/AIDS, sudah ada 35 orang ibu rumah tangga, dan 12 orang anak yang positif terjangkiti virus itu.
Berdasar pemetaan KPA Kota Jambi, jumlah penderita HIV/AIDS yang paling banyak berasal dari Kecamatan Kota Baru dan Jambi Timur. Mungkin karena dua kecamatan itu termasuk yang terbesar dan terpadat di Kota Jambi. "Di Kecamatan Kota Baru bahkan ada seorang anak usia 6 tahun yang tertular virus ini entah dari siapa. Ibunya dinyatakan negatif. Meski Bapaknya positif HIV/AIDS, namun yang bersangkutan sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Mungkinkah ada jalur transmisi lain ke anak selain dari jalur ibunya. Ini yang masih dalam penelitian kami," ungkap Erwan Mujio.
Selain budaya yang lebih terbuka dan kesadaran, banyaknya jumlah penderita yang terdata di Kota Jambi khususnya, juga disebabkan oleh dukungan fasilitas publik. Meski belum maksimal, namun pemerintah dan lembaga-lembaga terkait jelas tidak mau tinggal diam dalam menyediakan fasilitas.
Khusus untuk Kota Jambi, Erwan Mujio mengatakan, sudah ada lima puskemsas dengan fasilitas Voluntary Consulting Test (VCT) yakni di Puskesmas Rawasari, Putri Ayu, Tanjung Pinang, Pakuan Baru dan Simpang Kawat. Selain itu VCT juga tersebar klinik-klinik yang dikelola oleh komunitas atau lembaga anti AIDS, seperti Lembaga SIKOK. "Kami rutin mensosialisasikan dan memberikan pengetahuan kepada komunitas-komunitas yang memiliki resiko tinggi tertular dan menularkan HIV/AIDS, termasuk komunitas punk, waria, PSK dan bahkan ibu rumah tangga sekalipun, dan anak-anak sekolah. Yang dua terkahir ini menjadi target sasaran kami ke depan, dengan pencapaian yang lebih maksimal," kata Sumi.
Menghadang tabu
(Sosialisasi penggunaan kondom secara Nasional)
Persoalan penanggulangan HIV/AIDS jelas tidak berhenti sampai di sana saja. Jika jumlah penderita diketahui sudah demikian banyak, persoalan serius yang sama musti ditangani adalah bagaimana mencegah/memutus mata rantai penularan itu. Alternatif pencegahan yang ditengarai cukup ampuh adalah menggunakan kondom saat berhubungan seks. Penggunaan peranti lunak ini tidak saja berlaku dan harus bagi para pria hidung belang yang suka "jajan" di lokalisasi. Tapi juga suami istri yang memiliki ikatan perkawinan yang paling syah sekalipun.
Meski cara-cara atau sosialisasi penggunaan kondom ini kontroversial dalam sebagian masyarakat, namun Pemerintah Indonesia sepertinya tidak gentar menjalankan program ini. Dalam enam tahun terakhir, setiap tanggal 1 Desember hingga sepekan kemudian, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bersama beberapa lembaga yang peduli AIDS rutin menyelanggarakan Pekan Kondom Nasional. Pada tahun 2012 ini. Pekan Kondom Nasional diadakan di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Bahkan, DKT Indonesia---lembaga anti AIDS internasional---mengklaim telah berhasil memasarkan kondom secara nasional sebanyak 1 milyar sejak 1996 lalu.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kemal Siregar, di Jakarta, seperti dikutip berbagai media, mengatakan, lembaganya terus melakukan sosialisasi pentingnya penggunaan kondom, terutama di lokasi perilaku seks berisiko. Namun sejauh ini tantangan yang mereka hadapi selama ini adalah masih kurangnya tenaga medis dan konseling bagi penderita HIV/AIDS dari kalangan lelaki berperilaku seksual risiko tinggi.
Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, dalam acara Pekan Kondom Nasional (5/12) menjelaskan, dari 65 juta penduduk Indonesia yang berusia antara 15 sampai 24 tahun, hanya 35 persennya yang memahami pentingnya penggunaan kondom dalam berhubungan seks. Untuk itu, menurut Nafsiah, pemerintah akan terus berupaya untuk membuat 65 juta anak muda Indonesia tersebut memiliki pengetahuan memadai soal kesehatan reproduksi. Sebab, lebih dari 80 persen penderita HIV/AIDS didapat justru dari perilaku seksual berisiko tinggi.
Nafsih juga mengatakan, pencegahan penularan dan penyebaran HIV/AIDS ini harus dilakukan secara komprehensif. Salah satunya dengan menekankan pentingnya pendidikan agama guna mencegah perilaku seks bebas. Pendidikan moral, narkotika, serta kesehatan reproduksi. Dan imbauan mengenakan kondom bagi pelaku seks berisiko.
Sejauh ini, kata Nafsiah, pendidikan tentang seks sebagai salah satu upaya pencegahan HIV/AIDS di Indonesia masih dianggap tabu, dan belum mendapat perhatian yang cukup dari seluruh kalangan. Seharusnya, pendidikan seks dilakukan sedini mungkin sejak anak sudah mulai mengerti dan dapat melakukan hubungan seks. Usia 14-24 tahun merupakan usia yang rentan terinfeksi HIV sehingga perlu dibekali pengetahuan yang cukup tentang seksualitas, kata dia.
Di Jambi, kata Erwan Mujio, kampanye penggunaan kondom dan pendidikan seksual secara terbuka juga masih memiliki resiko yang besar. Masih banyak masyarakat yang memandang program ini sebagai bentuk pelegalan hubungan seks yang tidak syah. Penggunaan kondom masih dianggap tabu dan tidak layak dibicarakan serta dipraktekkan, apalagi dalam rumah tangga saat hubungan seksual antara suami dan istri berlangsung. "Kami belum siap menerima resiko. Masyarakat Jambi masih banyak yang belum siap menerima kampanye dan sosialisasi penggunaan alat ini," kata dia.
Sumi menjelaskan, dalam masyarakat penganut budaya patriarki yang konservatif, untuk urusan seksual dan bersenggama, memakai atau tidak alat pengaman, mempunyai momongan atau tidak, biasanya ditentukan oleh laki-laki. Perempuan dalam hal ini hanya bisa menerima dan pasrah. Dalam masyarakat seperti itu, tidak lumrah seorang perempuan meminta pasangannya untuk menggunakan kondom sebelum bersenggama. Padahal dalam urusan demikian, perempuan seharusnya juga memiliki hak yang sama. Hak untuk merasa aman, dilindungi dan nyaman. "Jangankan untuk meminta suaminya menggunakan kondom saat berhubungan, untuk meminta haknya dalam urusan seksual saja masih banyak perempuan yang tidakberani. Takut dikatakan "kegatalan" atau sebagainya," papar dia lagi.
Butuh waktu dan kesiapan masyarakat dalam menerima penggunaan kondom di Jambi. Namun yang penting, secara berkala, kata Sumi, pihaknya rutin mensosialisasikannya dalam kelompok-kelompok terbatas. Termasuk ke ibu-ibu Darma Wanita, istri pejabat serta komunitas perempuan lainnya. "Penting pula bagi kami untuk memberikan pengetahuan, khususnya bagi kaum ibu dan anak remaja, tentang bahaya, cara penyebaran dan cara menghindari penyakit ini," katanya.
Pada 1 Desember 2012 lalu, dalam puncak peringatan hari AIDS sedunia di Jambi, Lembaga SIKOK Jambi, tutur Sumi, telah berhasil menghadirkan 2500 orang anak sekolah yang selama ini menjadi target kampanye mereka, khususnya di sekolah. "Mereka setidaknya memahami apa dan bagaimana HIV/AIDS itu, serta bagaimana proses transmisi dan pencegahannya. Kami masuk ke sekolah-sekolah bekerja sama dengan para guru, memberikan penyuluhan dan pendidikan reproduksi/seksual bagi mereka," katanya.
Erwan Mujio mengatakan, pihaknya bahkan telah menyebarkan kondom di 117 outlet khusus di beberapa titik sejak 2009 lalu. Utamanya di lokalisasi Payo Sigadung. Termasuk sekretariat LSM, dan lembaga lain yang sudah dapat memahami arti penting menyelamatkan diri dari serangan virus ganas ini. Masyarakat harus paham, tidak ada hubungan seksual yang benar-benar aman 100 persen. Seks yang mendekati aman adalah seks yang dilakukan dengan cara meningkatkan kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS. (Ant)
Pewarta: Oleh Nurul FahmyEditor : Nurul
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.