Suasana gerah pada siang itu juga menjadi pengobat dahaga tatkala mata menyaksikan ikan-ikan patin yang siap panen saling berebutan pakan yang dilemparkan Timan, pemilik dari salah satu kolam di Sentra Minapolitan, Desa Pudak.
Di kawasan Sentra Minapolitan Desa Pudak pada hari-hari biasa hanya terlihat beberapa warga pemilik kolam. Namun, pada hari Sabtu (19/3), sepanjang jalan sebagai pembatas kolam itu parkir puluhan unit mobil dari berbagai merek.
"Hari ini ramai karena ada kunjungan Gubernur Jambi Zumi Zola dan pejabat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta anggota Komisi IV DPR RI," kata seorang panitia dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam.
Timan, pembudidaya ikan air tawar kawasan Sentra Minapolitan Desa Pudak itu berharap kunjungan pejabat penting dapat memberikan solusi berbagai permasalahan yang dihadapi para pembudidaya di daerah ini.
"Selama ini, yang menjadi masalah bagi kami adalah harga pakan mahal, dan pasar terbatas untuk melemparkan hasil produksi saat panen banyak," katanya.
Selain itu, masyarakat juga berharap agar pemerintah memperbaiki jalan produksi agar warga mudah membawa hasil panen ke pasar, dan harganya jualnya juga bisa lebih tinggi.
Timan menjelaskan sebagian besar ikan yang dibudi daya oleh masyarakat Pudak adalah patin dan nila selain juga ikan mas. Produksi hari-hari itu langsung dibeli oleh pedagang, yang kemudian dipasarkan di Kota Jambi dan sekitarnya.
"Alhamdulillah, kami bisa menyekolahkan anak-anak sampai ke perguruan tinggi dari hasil mengelola tambak ikan ini. Menjadi budi daya ikan sudah menjadi mata pencarian pokok kami di sini," kata Timan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi Saipudin menyebutkan kawasan Sentra Minapolitan Desa Pudak itu memiliki areal seluas 250 hektare. Namun, yang baru dimanfaatkan baru sekitat 100 hektare.
Kolam yang telah tersedia mencapai 2.600 kolam dan berkisar 60 persen di antaranya berproduksi yang dikelola oleh sebanyak 35 kelompok budi daya. Dari kawasan sentra minapolitan ini memperoduksi rata-rata 25 ton ikan per hari. Ikan yang diproduksi itu adalah patin, mas dan nila.
Dengan luas kolam berdiamater 15 x 25 meter itu dapat menampung bibit sekitar 5.000 ekor, dan saat panen bisa mencapai 3.000 ekor atau beratnya hasil produksi berkisar 2,4 ton per kolam.
"Kita berharap dari sektor perikanan air tawar ini akan menjadi salah satu 'lokomotif' pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Jambi," kata Kadis DKP Jambi.
Bupati Muarojambi Burhanuddin Mahir menjelaskan bahwa daerahnya kini memiliki sebanyak 8.000 kolam ikan dan 5.000 keramba yang tersebar di sejumlah kecamatan. Namun, berkisar 60 persen di antaranya yang baru dimanfaatkan.
"Potensi besar di sektor perikanan darat ini kalau dikembangkan dengan baik, produksi ikan dari Muarojambi tidak hanya untuk mencukupi bagi kebutuhan lokal, tetapi dapat menjadi pendukung bagi pangan nasional," katanya.
Menjawab keluhan pembubidaya terkait dengan pakan, Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli menyatakan bahwa pihaknya akan mencarikan solusinya dengan harapan dari sektor perikanan bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat.
"Kami akan terus mencari solusi atas keluhan pembudidaya terhadap mahalnya harga pakan ikan yang berdampak kecilnya keuntungan yang mereka peroleh," kata Gubernur Zumi Zola.
Solusi yang akan diberikan dalam waktu dekat, yakni memberikan bantuan mesin pengolah pakan ikan, baik itu bantuan dari Pemprov maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kemudian, Zumi Zola menjelaskan bahan baku untuk membuat pakan ikan itu, antara lain dedak, bungkil kelapa, dan ikan "turca".
"Nah, ikan 'turca' ini permasalahannya. Di Jambi ini hanya ada di Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat, tetapi itu belum cukup juga dan harus didatangkan dari Lampung, dan harganya tentu mahal," kata Gubernur.
Pemanfaatan Limbah Sawit
Zumi Zola menjelaskan salah satu solusi penganti "ikan turca" sebagai bahan baku pembuat pakan ikan adalah limbah kelapa sawit yang selama ini mungkin tidak menjadi perhatian.
"Potensi itu cukup besar, di Jambi cukup banyak perusahaan kelapa sawit. Tidak bisa kita bayangkan jika satu perusahaan memberikan 5--10 persen limbah sawit itu kepada masyarakat untuk bahan baku pembuat pakan ikan. Bila perlu, kita buat peraturan gubernur (pergub) untuk itu," katanya.
Gubernur Jambi Zumi Zola menjelaskan potensi sektor perikanan, baik darat maupun perairan laut, di provinsi berjuluk "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah" tersebut relatif cukup besar yang memerlukan dukungan berbagai pihak untuk menggarapnya.
"Sektor pangan yang di dalamnya masuk perikanan itu menjadi perhatian lebih dari kami untuk masa kerja 5 tahun ke depan. Saya berikan perhatian lebih guna mewujudkan kedaulatan pangan yang akhirnya dapat menyejahterakan masyarakat kita," kata Gubernur.
Pemerintah pada tahun 2016 telah menyediakan sebanyak 110 unit mesin pakan ikan yang siap didistribusikan untuk kelompok budi daya di provinsi berjuluk "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah" tersebut.
Di pihak lain, dia menyatakan keluhan lain dari masyarakat, yakni buruknya jalan produksi. "Saya katakan soal jalan tetap menjadi perhatian. Namun, akan dilihat dulu status jalan tersebut apakah milik provinsi atau kabupaten. Setelah bisa dipastikan, kalau memang itu jalan provinsi, akan saya bangun atau perbaiki," katanya.
Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menjelaskan bahwa Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Provinsi Jambi, saat ini telah mampu memproduksi pakan ikan dan produksinya sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
"Produksi pakan ikan disini sudah sesuai dengan SNI, yakni dengan kadar protein mencapai 28 persen," katanya.
Kehadiran pabrik pakan ikan ini, menurut Slamet, sebuah prestasi. Ke depan, menjadi harapan adalah akan ada pabrik-pabrik kecil sesuai dengan SNI di tengah masyarakat budi daya untuk memproduksi pakan ikan secara mandiri.
"Apa yang ada di BPBAT itu percontohan agar dapat ditiru oleh masyarakat. Bukan mesin yang besar, melainkan bagaimana bisa menjaga standarisasi produksinya," katanya.
Ia menjelaskan bahwa pabrik pakan BPBAT yang dibangun pada tahun 2015 dengan dana bersumber dari APBN tersebut mampu memproduksi rata-rata 2 ton per jam. Produksi pakan ikan tersebut selain untuk kebutuhan di BPBAT, juga dijual kepada masyarakat.
Slamet menjelaskan bahwa harga pakan ikan produksi BPBAT yang dijual kepada masyarakat tersebut relatif murah, yakni Rp6.000,00 per kilogram atau lebih rendah daripada harga di pasaran di Provinsi Jambi.
Ia juga menilai BPBAT Sungai Gelam sudah berprestasi dengan menunjukkan karyanya, yakni mampu membangun pabrik pakan ikan. Di BPBAT Sungai Gelam, atau sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Jambi itu juga disediakan benih ikan yang siap disalurkan kepada masyarakat budi daya.
Adapun jenis benih ikan di BPBAT itu, yakni nila merah (Oreochromis sp), jelawat (Leptobarbus hoevenii Blkr), arwana silver jambi (Scelerophages formosus), gurami batanghari (Osphronemus gouramy lokal), nila jica (Oreochromis sp), dan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus).
Balai ini juga sebagai pusat pelatihan, sumber informasi, dan teknologi terkait dengan sektor perikanan, khususnya budi daya yang akan membina dan mendampingi masyarakat, terutama di Jambi.
Dirjen Perikanan Budi Daya juga menjelaskan bahwa pihaknya telah merencanakan untuk membangun pabrik tepung ikan untuk memenuhi pabrik pakan di Jambi, selain juga akan menjajakan kerja sama dengan perusahaan kelapa sawit untuk memperoleh limbah kelapa sawit (PKM).
"PKM atau limbah kelapa sawit tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku untuk pembuatan pakan ikan, dan itu harganya lebih murah dibandingkan tepung ikan," kata Slamet.
Bahkan, Dirjen Slamet Soebjakto mengatakan bahwa budi daya ikan air tawar sudah menjadi mata pencaharian pokok masyarakat, terutama di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu ini.
"Karena ini sudah menjadi mata pencaharian pokok, diperlukan dukungan penuh, terutama DPR RI," katanya.
Sekitar 60 persen lahan budi daya di Sentra Minapolitan Pudak ini, kata Dirjen, telah digarap dengan budi daya ikan, khususnya jenis patin yang rata-rata mampu berproduksi berkisar 25 ton per hari untuk kebutuhan masyarakat Kota Jambi.
Dirjen juga menjelaskan bahwa program Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) juga sudah berjalan baik yang dilaksanakan kelompok budi daya di Sentra Minapolitan Desa Pudak. "Program Gerpari juga sudah berjalan dengan baik di sini," katanya menambahkan.
Jambi memiliki potensi besar pengembangan sektor perikanan air tawar. Namun, masih terbatas pada persediaan pakan dan pemasaran produk jika pembudidaya panen serentak.
"Kita berharap dua masalah yang dihadapi pembudidaya ini bisa segera teratasi," kata Yanto, pemilik kolam ikan di Kota Jambi. (Ant)
Pewarta: AzhariUploader : Azhari
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.