Wabah virus corona yang sudah berjalan lebih dari 1,5 tahun di Indonesia terasa betul-betul menguras tenaga dan pikiran semua orang.

Selama kurun waktu tersebut grafik wabah ini naik dan turun seperti datang dan pergi. Grafiknya juga bergelombang. Sehingga  muncul istilah gelombang pertama dan gelombang kedua.

Otoritas terkait dan para ahli epidemologi menyebutkan Indonesia mengalami puncak gelombang kedua pada pertengahan Juli 2021. Selanjutnya, grafik perlahan turun.

Sejak awal Agustus hingga akhir September ini, grafiknya landai. Itu mengindikasikan bahwa wabah mulai terkendali yang ditandai pertambahan kasus positif di bawah angka 5.000 per hari.

Semua pihak tentu lega dengan upaya keras dan terpadu seluruh jajaran pemerintah mengatasi wabah. Hasilnya terlihat nyata.

Dari sisi kebijakan pun dilakukan penyesuaian pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1-4. Wujud penyesuaiannya, yakni mulai dilonggarkannya aktivitas publik.

Semula hanya sektor esensial dan kritikal yang diizinkan beroperasi dengan pembatasan. Kini sektor non esensial dan non kritikan mulai boleh beroperasi, meski masih ada pembatasan dan kewajiban telah divaksin COVID-19.

Baca juga: Anies ibaratkan terkendalinya COVID di DKI seperti film Avengers

Semua pihak tentu patut bersyukur atas pencapaian upaya pengendalian wabah virus corona (COVID-19). Dengan penurunan kasus positif, maka aktivitas publik mulai dilonggarkan.

Tanda-tanda pemulihan sedang berlangsung. Sektor ekonomi terus bergerak, meski perlahan.

Pembelajaran tatap muka (PTM) dan operasional sekolah di berbagai daerah telah dibuka. Di DKI Jakarta uji coba PTM berlangsung sejak 30 Agustus dengan 610 sekolah, mulai 27 September diikuti 1.509 sekolah.

Kapasitas pengunjung di pusat perbelanjaan (mal) telah ditingkatkan hingga 50 persen dengan jam buka boleh sampai pukul 21.00 WIB. Bahkan bioskop di mal sudah pula dibuka lagi.

Sebagian tempat wisata di Ibu Kota juga telah dibuka setidaknya kawasan Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sebagian lainnya dalam persiapan dibuka lagi.
Pengunjung melakukan skrining aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki Mal Grand Indonesia Jakarta Pusat, Selasa (21/9/2021). ANTARA/Mentari Dwi Gayati/am.

Melonjak
Hal itu menunjukkan bahwa aktivitas publik telah semarak dan menuju normal. Namun pihak terkait selalu mengingatkan mengenai protokol kesehatan (prokes) dalam berbagai aktivitas.

Masyarakat juga diingatkan bahwa di masa landai ini agar tidak abai dan lalai tetap selalu waspada dengan wabah COVID-19. Hal itu karena wabah ini seperti gelombang; selalu datang dan pergi.

Grafik wabah tersebut menunjukkan naik-turun. Bahkan landai terus kadang naik lagi.

Di tingkat dunia juga menunjukkan demikian. Tidak perlu melihat tren dunia tetapi cukup melihat tren di kawasan Asia Tenggara pun, wabah ini seperti gelombang.

Masyarakat Indonesia bisa lega dalam dua bulan terakhir. Tetapi cermati beberapa negara ASEAN, sebut saja Singapura dan Malaysia yang kembali berjibaku mengatasi COVID-19.

Kementerian Pendidikan Singapura telah memberlakukan aturan kembali belajar dari rumah selama 10 hari bagi murid Sekolah Dasar (SD) menjelang ujian nasional.

Baca juga: Pasien COVID-19 di Kecamatan Tambora tinggal lima orang

Pernyataan tersebut menyusul laporan perkembangan COVID-19 di negara tersebut yang mencapai 935 kasus per Jumat (17/9) atau rekor tertinggi sejak April tahun lalu. Siswa kelas 1 hingga 5 SD beralih ke pembelajaran dari rumah dari 27 September hingga 6 Oktober 2021.

Siswa kelas 6 SD diliburkan selama beberapa hari dari 25 September sebelum mengikuti ujian nasional. Hal itu guna meminimalkan risiko penularan dari pembelajaran di sekolah dan menekan angka siswa yang harus menjalani karantina.

Lonjakan kasus COVID-19 baru-baru ini setelah sejumlah pembatasan dilonggarkan dan telah mendorong Singapura untuk menunda pembukaan kembali kegiatan lebih lanjut.

Menurut Reuters, lebih dari 80 persen penduduk negara itu telah divaksin COVID-19. Singapura sedang mempertimbangkan vaksinasi untuk anak di bawah 12 tahun awal 2022.

Ditutup
Perdana Menteri Malaysia yang juga Ketua Komite Khusus Pengelolaan Pandemi COVID-19 Ismail Sabri Yaakob, pekan lalu, mengumumkan perubahan fase Rencana Pemulihan Nasional (PPN) di tiga negara bagian, yakni Negeri Sembilan, Pahang dan Johor.

Negeri Sembilan dari tahap tiga ke tahap empat, Pahang dari tahap dua ke tahap tiga dan Johor dari tahap satu ke tahap dua. Ketentuan ini berlaku mulai 24 September 2021.

Peralihan fase ini sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh PPN dengan mempertimbangkan rawat inap untuk kasus bergejala, penggunaan tempat tidur ICU serta prosentase lengkap yang divaksinasi.

Orang asing yang tiba di gerbang internasional harus menanggung biaya tes RT-PCR di pintu masuk. Sedangkan untuk warga negara gratis.

Pemerintah setempat juga menyerukan agar warga mematuhi setiap prosedur yang ditetapkan, memakai masker, menjaga jarak fisik serta selalu menjaga kebersihan dan keamanan diri.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur pun menutup sementara pelayanan mulai Jumat (24/9) hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Warga negara Indonesia (WNI) atau pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan mengikuti program re-kalibrasi pulang diminta untuk tetap tenang. KBRI akan tetap menyelesaikan semua permohonan surat perjalanan laksana paspor (SPLP) yang telah terdaftar hingga akhir Desember 2021.

Bagi pemohon pergantian paspor yang segera habis masa berlakunya izin kerja (permit) atau izin tinggal diminta untuk mengajukan "special pass" kepada Imigrasi Malaysia.

Bagi pemohon paspor atau SPLP yang sudah memiliki jadwal kedatangan pada saat penutupan pelayanan sementara akan dilakukan penjadwalan ulang yang disampaikan oleh KBRI melalui pesan singkat (SMS). Pengambilan SPLP yang sudah selesai akan tetap dilayani dengan pelayanan darurat.

KBRI Kuala Lumpur juga membatalkan "business gathering" dengan pelaku usaha yang dijadwalkan berlangsung di Aula Hasanuddin pada Jumat (22/9) pukul 17.00 waktu setempat.

Menurut informasi yang beredar, penutupan dilakukan karena ada 26 staf kedutaan yang positif terpapar COVID-19.

Namun Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Kuala Lumpur Yoshi Iskandar saat dikonfirmasi mengatakan pelayanan ditutup sementara karena ada perbaikan sarana dan prasarana untuk pencegahan COVID-19.
Seorang pria memakai masker melewati papan tanda dipasang untuk menghimbau warga melakukan jarak sosial selama terjadi wabah virus corona (COVID-19), di Marina Bay, Singapura, Rabu (22/9/2021). (REUTERS/Edgar Su/RWA/djo)

Waspada
Menyikapi kembali terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di negara tetangga, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Provinsi Kepulauan Riau menyatakan masyarakat di wilayah itu harus mewaspadai lonjakan kasus aktif COVID-19 dalam tiga hari terakhir.

Kewaspadaan terutama dari Singapura karena adanya mobilitas warga kedua negara yang cukup tinggi.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Kepulauan Riau (Kepri) Tjetjep Yudiana di Tanjungpinang, Ahad (26/9) mengatakan, penularan COVID-19 dari Singapura ke Kepri berpotensi terjadi. Hal itu karena pemulangan PMI dari negara itu ke Pelabuhan Batam Centre.

Permasalahan itu tentu harus dicermati bersama. Apalagi cukup banyak PMI yang dinyatakan positif COVID-19 setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas kesehatan di Batam.

Baca juga: Pekerja migran Indonesia di Malaysia jalani vaksinasi COVID-19

Berdasarkan informasi yang diperoleh Satgas Penanganan COVID-19 Kepri, lonjakan kasus aktif di Singapura berawal dari penularan COVID-19 di salah satu rumah makan. Pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa itu adalah adanya euforia warga yang berlebihan sehingga lalai menerapkan protokol kesehatan.

Ketika kasus aktif COVID-19 rendah, bukan berarti virus itu sudah tidak ada, melainkan masih ada. Namun orang-orang yang mengidap virus itu tidak menyadarinya dan berinteraksi dengan orang lain sehingga jumlah orang yang terinfeksi virus itu terus meningkat.

Ketika vaksinasi dilaksanakan secara menyeluruh, bukan berarti tubuh dapat menolak virus itu. Vaksin itu untuk meningkatkan imun tubuh dari serangan virus sehingga kondisi tubuh tidak parah saat terinfeksi.

Dari penularan awal di salah satu rumah makan di Singapura itu, seluruh elemen masyarakat di Kepri dapat memetik pelajaran yang berarti. Yakni tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan saat berinteraksi, termasuk saat berada di rumah makan dan kedai kopi.

Baca juga: Singapura buka akses transit bagi pelancong dari Indonesia

Karena itu, pengelola kedai kopi dan rumah makan di Kepri sebaiknya tidak menyediakan kursi dengan kapasitas 100 persen untuk mencegah terjadi kerumunan pengunjung. Jumlah kursi yang disiapkan hanya dibenarkan 50 persen dari kapasitas kedai kopi dan rumah makan.

Kursi juga sebaiknya disusun tidak saling berhadapan dan meja berada pada posisi menempel di dinding.

Wabah ini seperti gelombang; datang dan pergi dengan angka yang kadang naik, kadang turun, bahkan melonjak.

Selama kurun lebih 1,5 tahun wabah ini, Indonesia dan banyak negara mengalami pasang-surut jumlah angka kasus COVID-19.

Satu atau dua negara mengalami lonjakan, negara tetangga diliputi perasaan was-was. Maka waspadalah...

Pewarta: Sri Muryono

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2021