Harga minyak mentah menguat lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), didukung oleh penurunan tak terduga harga konsumen AS pada Desember 2022 serta optimisme atas prospek permintaan China.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari terangkat 98 sen atau 1,27 persen, menjadi menetap di 78,39 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. 

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret bertambah 1,36 dolar atau 1,65 persen, menjadi ditutup pada 84,03 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Indeks harga konsumen AS melambat 0,1 persen, menunjukkan inflasi sekarang dalam tren penurunan berkelanjutan. Pengimpor minyak utama China membuka kembali ekonominya setelah berakhirnya pembatasan COVID-19 yang ketat, meningkatkan harapan akan permintaan minyak yang lebih tinggi.

Juga mendorong minyak, dolar AS jatuh ke level terendah hampir 9 bulan terhadap euro setelah data inflasi mengangkat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kurang agresif dengan kenaikan suku bunganya.

"Pasar menantikan data IHK dan kemungkinan kuat angka tersebut akan menyebabkan penurunan dolar, dengan korelasi terbalik yang meningkatkan penawaran minyak mentah," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York. "Minyak mentah sekarang menikmati dolar yang lemah."

Pada Rabu (11/1/2023), kedua harga acuan minyak melonjak 3,0 persen di tengah harapan prospek ekonomi global mungkin tidak sesuram yang dikhawatirkan banyak orang.

"Soft landing yang lebih lembut untuk AS, dan mungkin di tempat lain, dikombinasikan dengan pemulihan ekonomi yang kuat di China setelah gelombang COVID saat ini dapat menghasilkan tahun yang jauh lebih baik daripada yang ditakuti dan merangsang permintaan minyak mentah tambahan," kata Craig Erlam dari broker OANDA sebelum data IHK dikeluarkan.

Pasar juga bersiap untuk pembatasan tambahan pada pasokan minyak Rusia karena sanksi atas invasi ke Ukraina.

Badani Informasi Energi AS (EIA) mengatakan larangan Uni Eropa (UE) yang akan datang atas impor produk minyak bumi melalui laut dari Rusia pada 5 Februari bisa lebih mengganggu daripada larangan UE atas impor minyak mentah melalui laut dari Rusia yang diterapkan pada Desember 2022.

Membatasi kenaikan minyak adalah lompatan besar dan tak terduga dalam persediaan minyak mentah.

"Selain faktor China dan peningkatan ekuitas baru-baru ini di tengah beberapa pelemahan dolar, minyak tampaknya tidak memiliki banyak dorongan bullish, terutama jika dilihat dalam konteks neraca minyak mentah dan produk AS yang transparan," kata Jim Ritterbusch dari konsultan Ritterbusch and Associates.

Persediaan minyak mentah AS naik 19 juta barel dalam pekan yang berakhir 6 Januari menjadi 439,6 juta barel. Para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan 2,2 juta barel.

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2023