Salah satu pilot pesawat jet tempur Rafale Kapten Rayak mengaku terdapat kendala saat menerbangkan Rafale memasuki ruang udara Indonesia dari Guam karena lalu lintas udara di Jakarta sangatlah padat.

"Saya bisa melihat tidak ada kendala atau perbedaan yang berarti. Cuman saya melihat pas mendekat Jakarta itu lalu lintas penerbangannya sangat padat," ujar Rayak di Terminal Selatan Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu.

Kendati demikian, saat keluar dari Jakarta, lalu lintas udara tidak begitu padat. Saat ditanya ANTARA terkait kualitas udara dan polusi di Jakarta yang tergolong buruk di dunia dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat pada Selasa (25/7).

Ia mengatakan dapat melihat dengan jelas polusi udara saat terbang di langit Jakarta. Namun, hal tersebut tidak menjadi kendala apalagi sampai mengganggu jarak pandang.

"Jadi, kendalanya itu saja. Tidak ada (kendala untuk polisi udara)," tegasnya.

Sementara itu, Rayak menuturkan untuk menerbangkan pesawat jet tempur Rafale, pilot pemula maupun berpengalaman harus benar-benar memenuhi kualifikasi dalam menerbangkan pesawat yang telah dilengkapi berbagai peralatan canggih itu.

"Untuk pilot muda yang pendidikan, pelajar, selama delapan bulan sebelum dia bisa menerbangkan Rafale di dalam satu skuadron. Tetapi, untuk pilot yang sudah berpengalaman, biasanya itu memakan waktu tiga bulan dan dia bisa terbang secara operasional," tambah Rayak.

Sebelum menerbangkan Rafale, Rayak mengaku juga pernah menerbangkan pesawat tempur Dassault Mirage 2000-D. Dia menilai secara umum cara menerbangkan kedua jet tempur itu hampir sama, tapi tetap ada perbedaan.

Mengenai perbedaan Mirage dan Rafale, dia menyebut terdapat pada mesinnya. Rafale berada satu tingkat di atas Mirage dengan dilengkapi dua mesin yang canggih dan juga dapat membawa senjata bom dua kali lipat lebih banyak dari Mirage.

"(Selama) 2.500 jam terbang dan baru beralih ke Rafale, baru-baru ini. Jadi, kemungkinan besar pilot-pilot Indonesia sudah terbiasa terbang dengan Hawk itu sama saja," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama R. Agung Sasongkojati mengatakan bahwa pesawat jet tempur generasi 4,5 Rafale buatan Dassault Aviation yang dibeli Indonesia akan memiliki spesifikasi yang sama seperti Angkatan Udara Prancis atau France Air and Space Force (FASF).

"Ini pesawat yang kita beli. Spesifikasi sama persis, tapi kita dapat yang baru. Kalau ini kan pesawat yang sudah dipakai oleh mereka," kata Agung di Terminal Selatan Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu.

Untuk itu, Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, mempersiapkan pilot-pilot khusus untuk menerbangkan pesawat jet tempur generasi 4,5 Rafale buatan Dassault Aviation yang dibeli Indonesia dari Prancis.

"Kami menyiapkan beberapa penerbang, tapi kami belum tentukan jumlahnya. Secara kriteria sudah kami siapkan dan yang eligible (memenuhi syarat) untuk bisa berangkat," kata Kasau usai Rapat Pimpinan TNI AU 2022 di Markas Besar TNI AU Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (4/3).

Menurut dia, para penerbang pesawat tempur itu akan mendapatkan pelatihan di Prancis dan Indonesia, sebelum ditempatkan di skuadron yang sudah ada.

Namun, penempatan baru untuk satuan jet tersebut tidak , mudah karena banyak persyaratan yang harus dipenuhi.
empur
"Karena menempatkan satuan udara cukup kompleks. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, kecuali ke depan kita mendapat perintah menggelar di mana kita akan siap," katanya.

Pewarta: Narda Margaretha Sinambela

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2023