Sungai Penuh - Masuknya pengaruh dan ajaran agama Islam serta budaya yang dibawanya menambah warna dan keragaman kebudayaan alam Kerinci. lagu lagu dan musik daerah Kerinci menjadi lebih beragam.
Apabila masa pra Islam lagu pemujaan yang digunakan dalam upacara lebih menggunakan tangga nada pentatonik yang cenderung pada nada mayor maka di era islam lagu Kerinci lebih banyak pula mengenal dan menggunakan tangga nada minor.
Ditinjau dari pertumbuhannya,secara umum musik dan lagu Kerinci terdiri dari tiga kelompok, yakni lagu tradisional pra islam dan lagu tradisional era islam. dan lagu daerah Kerinci era modern. Lagu tradisional pra islam ialah jenis Nyahoa, Pantau, Talea.
Lagu Nyahoa adalah lagu lagu yang digunakan dalam upacara yang erat kaitannya dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, jenis lagu ini dapat kita lihat dalam lagu lagu pada saat pengucapan mantra dalam upacara ritual tari aseak, bentuk lagu lagu ini masih dapat kita jumpai pada beberapa dusun pemukiman di wilayah adat limo luhah dusun Sungai Penuh,Dusun Empih, Siulak, Sungai Liuk,Koto Lolo.
Sedangkan lagu pantau yang disebut juga Tauh atau Taoh pada awalnya juga digunakan untuk pengiring tari ritual pemujaan, dan para era islam saat ini berfungsi sebagai pengiring tari adat pada saat acara kenduri sko atau kenduri sudah tuai. dianggap jenis tale yang tergolong tua dalam tampilannya,tidak berbalas pantun tetapi bentuk lain yang berkembang sebelum kedatangan islam adalah ā Taleaā.Kata Talea dalam bahasa kerinci kuno disebut ā Taliā,dapat ditafsirkan sebagai kata lain untuk nyanyian yang berfungsi untuk mengungkapkan perasan yang lebih bersifat pribadi dan emosional dari pelantun lagu pada sesuatu atau kepada seseorang atau sebagai pelepas kerinduan perantau atau peladang yang tinggal jauh dari kampung halaman.
Tale ini disebut dengan istilahāTale Malangā atauāTale Mindauā.Tale ini tampilannya tidak berbalas pantun tetapi lebih berbentuk lantunan irama yang monolog serta liris.
Catatan sejarah tentang syair tale dalam Tambo Kerinci dalam aksara incung yang ditulis pada tanduk kerbau dan ruas bambu, benda benda ini disimpan diberbagai wilayah adat,diantaranya disimpan oleh Depati Sanggaran Agung,atau tersimpan di Dusun Pendung Semurup,dan disimpan di Koto Tuo*( Voorhoeve dan Purbacaraka,pencatatan Tambo Kerinci 1941).
Salah satu genre (sen re ) āTaleā ( Dpt.H.Zainuddin Ismail dan Depati .H.Alimin) yang paling phenomenal dan melekat pada ritual ibadah keagamaan ialah āTale Naek Joiā merupakan tale yang digunakan pada upacara sakral saat akan melepas keberangkatan anggota keluarga yang akan menunaikan ibadah Haji ke Mekah al Mukarramah, Tale ini sejak 5 abad yang lalu begitu sangat penting dan sakral bagi orang Kerinci.
Menunaikan ibadah Haji pada masa lalu merupakan sebuah peristiawa sangat luar biasa, hal ini mengingat pada masa itu untuk berangkat menunaikan ibadah haji merupakan peristiwa yang luar biasa, disamping membutuhkan dana lebih dari itu untuk keluar dari lembah alam Kerinci pada masa itu sangat sulit ,hutan di alam Kerinci pada masa itu masih sangat perawan ,ganas dan lebat, untuk itu sangat dibutuhkan persiapan jiwa dan raga yang prima serta didukung keberanian, perjalanan dimulai dengan kaki keā Pintou Imboā ( Pintu Rimba) diantar oleh sanak keluarga dan handai taulan.
Dipintu rimba pada malam hari dan keesokkan paginya dilaksanakan upacara tale melepas calon haji yang akan berangkat menunaikan ibadah haji melalui perjalanan darat berjalan kaki dengan rombongan menempuh hutan belantara menuju pelabuhan laut yang terletak di Muara Sakai,pantai selatan sumatera barat .
Orang Kerinci pada masa itu beranggapan bahwa orang yang akan menunaikan ibadah haji dianggap tidak akan kembali lagi, hal ini beralasan bahwa waktu tempuh dan aral yang melintang sangat berat ,oleh karena itu semua gelar yang disandang dan harta pusaka yang dimiliki dititipkan kepada ahli waris yang akan diwariskan bila ternyata yang bersangkutan tidak kembali lagi, suasana itulah yang mempengaruhi rasa haru dan sedih yang kemudian di tuangkan secara emosional kedalam syair tale yang dinyanyikan.
Pada awal abad ke XX di bumi alam Kerinci tumbuh dan berkembang berbagai organisasi kesenian . Pada tahun 1933 di Sungai Penuh dibentuk sebuah organisasi kebudayaan yang pertama di Kerinci yang bernama āAssatulhaqquā yang berarti suara kebenaran,anggota organisasi kebudayaan ini berasal dari pemuda Pondok Tinggi, Dusun Baru dan anggota perorangan dari berbagai dusun seperti dari Jujun,SanggaranAagung,Hiang, Semurup,Belui.
Organisasi itu bergerak dalam bidang pendidikan non formal yang bertujuan untuk memberdayakan pemuda sekaligus untuk menumbuh kembangkan kebudayaan, organisasi ini dipimpin oleh H.Abdullah Kembang, dan yang menjadi motor penggerak antara lain A.Thalib,H.Adnan.H.Abdullah Ahmad, H.Djanan Thaib Bakri ,pada tahun tahun berikutnya A.Thalib berkarir dibidang militer, H.Adnan Thaib ,H.Djanan Thabib Bakri dan H.Abdulah Ahmad menjadi tokoh ulama yang dikenal di Alam Kerinci dan di luar .
Sedangkan seniman yang aktif dalam dunia musik terutama orkes musik seruling bambu terdapat nama musisi handal guru Makbul, Senin Ilyas, Jansan dan Semat. Pada tahun 1935- 1936 berdiri organisasi pemuda āPermosādanāFajarā yang kemudian bergabung menjadi āTarbiyatulhakkuā yang dimotori guru Bungkuk dan guru Nikelas.
Di wilayah dusun baru dengan dusun Nek berdiri organisasi bernamaāIjtihadulfaādengan pendirinya guru Makbul, guru Semat dan guru Yusuf. Sedangkan di dusun Sungai Penuh yang memiliki sumber daya manusia yang lebih banyak sebagian senimannya membentuk pula organisasi di komunitas lebih sempit di Laheik Jajou, seperti kelompok musikāTaklifuljinsiā di Luhah Pemangku Rajo yang bergabung dengan Luhan Rio Mendiho yang dimotori oleh guru Jansan, Djanan Thaib Bakri dan Ahmad Haris, lagu lagu yang mereka pentaskan disamping lagu Kerinci dipentaskan pula lagu Mars, lagu Padang Pasir (musik arab _atau lagu arab yang dialih bahasakan, instrument yang digunakan adalah Seruling bambu dari jenis kapel,sopran dan alto yang dilengkapi dengan tambur.
Pada tahun 1942,A.Thalib sebagain pemimpin muda dengan wawasan dan kesadaran kebangsaaan yang lebih tinggi menyatukan pemuda dari berbagai penjuru alam Kerinci untuk bergabung dengan namaā Irsadulwatanā atau suara tanah air ,untuk menggalang persatuan Pemuda Kerinci didalamnya terbagi berbagai kegiatan seperti teater ( tonil) dan musik, kelompok tonil bernama āAsmarawatiā,sedangkan kelompok musik diberi nama ā Rayuan Sukmaā..
Pewarta: Budhi VJ Rio Temenggung Tuo: Azhari
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.