Kabupaten Tanjung Jabung Timur (ANTARA) - Dengung suara koloni lebah di bawah rindangan pohon menggenapkan suara alam di pinggiran Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Tabung Timur.
Lokasinya berjarak sekitar 54 kilometer dari Kota Jambi, terdapat budidaya 'Lebah Madu Sabak' dikelola 19 orang. Ketika melangkah lebih dekat ke sudut desa di minggu ketiga Oktober 2025 itu, suara koloni makin riuh terdengar, tempatnya persis berdampingan dengan hamparan hijau kawasan hutan akasia.
Di lahan seluas 2.500 meter persegi itu, ditemui berjejer rapi sekitar 300 kotak. Itulah sarang lebah untuk budidaya menghasilkan madu, semua diberi warna. Pengecatan kota warna warni guna menghindari pelapukan dini akibat faktor cuaca, sekaligus memperindah tampilan. Dari dalam kotak itu, koloni lebah mulai bekerja menjelajah hutan akasia. Mengumpulkan nektar dari bunga akasia, lalu membawanya ke sarang. Berproses, hingga menghasilkan madu bernilai ekonomi.
Saban hari, anggota kelompok datang melakukan aktivitas rutin. Mulai dari pemantauan, pembersihan hingga melakukan panen. Tidak ada pembagian kerja khusus dalam rutinitas itu. Namun, semua anggota melakukan aktivitas sesuai kebutuhan.
Ketua kelompok budidaya madu binaan Pertamina Hulu Energi Jambi Merang, Sutrisno menceritakan program pembinaan budidaya madu lebah ini telah dimulai sejak tahun 2021. Bukan perkara mudah menjalani usaha tersebut, tantangan dan hambatan selalu muncul seiring berjalannya waktu.
Persoalan cuaca menjadi hal yang paling dihindari bagi pelaku budidaya. Curah hujan tinggi atau sebaliknya saat cuaca panas berlebih. Dampaknya membuat produksi madu menurun. Bahkan kondisi seperti itu kerap menimbulkan kematian lebah dalam jumlah besar.Saat musim hujan berkepanjangan menyebabkan kadar air dalam kandungan madu menjadi tinggi. Kondisi tersebut membuat nilai ekonomis menjadi turun, tutur Sutrisno sembari menatap kotak-kotak penangkar itu.
Volume kadar air ketika musim hujan bisa mencapai 19- 22 persen. Kondisi tersebut tergolong tinggi. Berbeda saat cuaca bersahabat, rata-rata menghasilkan kandungan air 18-20 persen.
"Musim hujan mempengaruhi kandungan air, begitu juga saat panas terik atau kemarau. Bagusnya hujan sebentar saat malam, siangnya boleh panas, tapi sebentar saja tiga atau empat jam. Kalau seperti itu kondisinya, maka hasil panen pasti baik," sebut Sutrisno di sela panen madu di lokasi budidaya.
Belajar dari siklus alam, maka anggota kelompok terus berpikir bagaimana solusinya. Baru-baru ini untungnya, persoalan tersebut sudah bisa ditanggulangi oleh alat pengurang kadar air. Alat yang berjulukan "Si Kering Manis" atau sistem pengering madu otomatis. Hasil pengembangan PHE Jambi Merang, untuk kebutuhan kelompok. Alat tersebut dirancang mampu menurunkan kadar air satu hingga dua persen. Melalui proses pemanasan di dalam oven dengan setelan suhu 30° hingga 40° Celcius.
Oven tersebut memiliki kapasitas mencapai 50kg setiap kali melakukan proses penguapan. Perlengkapan dukungan itu masih baru, sekarang sedang dilakukan kalibrasi lanjutan oleh pihak labor PHE, dengan harapan mampu menurunkan kadar air tiga hingga empat persen, sesuai dengan kebutuhan pasar. Pria 43 tahun itu menjelaskan, saat cuaca bersahabat, panen dilakukan sekali setiap 15 hingga 20 hari. Sekali panen mampu menghasilkan madu antara 800 kg hingga 1,2 ton.
Berbeda jika cuaca tidak menentu, hasil panen selama kondisi tersebut bisa menyusut menjadi 600 kg. Madu yang dihasilkan sebagian besar di jual dalam bentuk curah, dilepas mulai harga Rp29 ribu per kilogram melalui sistem penjualan partai besar. Penjualan untuk harga madu eceran di harga Rp500 ribu/kilo.
Pesanan dalam jumlah banyak biasanya datang dari penampung Pulau Jawa. Total transaksi sekali pemesanan mencapai dua ton hingga lebih dalam setiap pengiriman. Uang penjualan diolah dan dibagikan dalam bentuk keuntungan kepada anggota kelompok. Setiap kotak ukuran panjang 45 cm lebar 40 cm, mampu menghasilkan rata-rata tiga hingga empat kilogram madu. Hanya saja, untuk kebutuhan produk turunan, baru mampu menyerap 10 kilo madu setiap bulannya. Angka tersebut masih terbilang kecil di banding penjualan curah.
"Hasilnya lumayanlah, bisa datangkan pendapatan. Apalagi saat ini ada program peremajaan sawit, jadi usaha ini membantu, kami fokus disini, cukup untuk pemenuhan kebutuhan keluarga," tutur Sutrisno.
Pengolahan Terintegrasi
Dari awal panen hingga saat ini, permintaan madu tidak pernah surut. Kelompok budidaya yang tergabung dalam koperasi Sukma Jaya Berkah, binaan Pertamina Hulu Rokan Regional 1, PHE Jambi Merang terus berupaya mengembangkan produk olahan madu agar memiliki nilai ekonomis. Tak sampai di situ saja, kelompok ini juga melakukan pemberdayaan bagi anggota kelompok lain serta masyarakat sekitar.
Ketua kelompok Sedayu Sejahtera, Pujiati mengaku kelompoknya baru tahun lalu benar-benar terlibat aktif dalam program usaha pembuatan makanan melalui pemanfaatan madu. Ia bersama enam orang anggota kelompoknya, mulai di genjot dengan materi dan praktik dari pengampu yang didatangkan pihak perusahaan.
Berkat pendampingan tersebut, sekarang kelompoknya mampu memproduksi sejumlah makanan dari campuran madu, meskipun belum dalam jumlah banyak. Produk yang telah di produksi, di antaranya keripik pedas berbahan dasar ubi kayu, campuran sambal dan madu dengan rasa pedas diimbangi manis dari lumeran madu. Mereka menamainya 'keripik masinis'
Olahan berupa makanan dari ubi jalar yang dibentuk bulat pipih atau yang lazim disebut ceker ayam. Makanan tersebut menjejakkan rasa manis dan gurih karena memiliki kandungan madu. Termasuk jahe instan, jenis herbal yang dikombinasikan dengan madu murni, menghasilkan rasa hangat, manis alami dan kaya manfaat untuk menjaga daya tahan tubuh. Kemudian yang terakhir, madu kemasan dalam berbagai ukuran mulai diproduksi Kelompok Sedayu. Ukuran takaran nya mulai yang terkecil 100 meliliter (ml) hingga berat satu kilo.
Pujiati mengakui, usaha makanan olahan itu masih diproduksi dalam jumlah terbatas. Penjualan umumnya pesanan dari mulut ke mulut, dan warung sekitar, belum meluas keluar daerah dalam jumlah besar. Ke depan, produksi diharapkan dapat menembus pasar supermarket dan waralaba, guna memudahkan jangkauan masyarakat mendapatkan madu murni maupun jenis makanan olahan yang diproduksi.
Proses tersebut tidak mudah, kata dia, melalui pembinaan, kemauan dan dorongan. Nyatanya, kemajuan program tersebut secara bertahap mulai nampak. Jadi keberadaan produk olahan ini diharapkan bisa lebih berkembang lagi. "Setiap bungkus kami jual 15 ribu. Kalau madu harganya macam-macam sesuai ukuran, hasilnya, ya cukuplah. Bisa untuk tambahan beli kebutuhan di rumah, harapannya sih berkembang kedepannya," ungkap Pujiati saat berada rumah produksi.
Selain dari PHE Jambi Merang, dukungan turut hadir dari pemerintah daerah melalui dinas koperasi setempat. Di sisi lain, Al Hadi, pendamping program pengembangan masyarakat, menyampaikan bahwa kelompok rumah produksi sedang melakukan jalinan program pembinaan bersama perkumpulan Bina Siginjei Permata.
Perkumpulan tersebut menjadi rekan dalam pendampingan, antara pembudidaya dan rumah produksi yang dirangkum dalam koperasi. Di sana, semua kelengkapan telah tersedia. Mulai suplai makanan dan madu, laboratorium uji kualitas, hingga sistem pengering kadar air. Rumah produksi saat ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas umum, seperti gazebo, tempat ibadah dan kamar mandi. Hal itu bagian dukungan kepada masyarakat, pelajar, mahasiswa yang datang untuk tujuan edukasi menambah wawasan terkait produk olahan madu.
Melalui pendampingan perkumpulan Bina Siginjei Permata yang digawangi anak-anak muda, sejumlah inovasi tengah dilakukan sebagai upaya membantu kemandirian kelompok usaha. Melihat perlengkapan alat yang diintervensi, menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menelurkan program pemberdayaan lebah madu sabak dan produk turunannya.
"Ini menjadi unit kegiatan yang bisa menghasilkan pendapatan dari pengolahan madu. Kita dampingi ibu ibu dan kelompok di sini, supaya nilainya menjadi tinggi," ungkapnya.
Jaga Ekosistem dan Ketahanan Energi
Budidaya madu yang di kembangkan oleh Pertamina Hulu Energi Jambi Merang bukan hanya terfokus di Desa Suka Maju. Program tersebut menyasar dua desa lainnya yang berada di Kecamatan Geragai.
Meliputi Desa Rantau Karya dan Desa Pandan Lagan. Masing-masing desa mendapat bantuan tiga puluh kotak madu sejak diluncurkan tahun 2021 hingga 2023.
Lokasi usaha madu di Desa Suka Maju menjadi bukti berkembangnya program tersebut. Selain di isi oleh deretan kotak lebah, lokasi tersebut menjadi pusat edukasi mengenal lebah sebagai salah satu hewan pollinator yang dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung program ketahanan pangan.
Bersama masyarakat, program rintisan tahun 2021 itu dimulai dengan mengidentifikasi wilayah rawan bencana, dan mengenalkan lebah sebagai hewan penyerbuk tanaman atau pollinator alami dan mengetahui perubahan alam melalui serangga. Setelahnya, tahun 2022 mulai dilakukan rintisan pengembangan budidaya madu. Disusul pendirian koperasi sebagai wadah bagi pelaku budidaya madu. Bahkan termasuk melakukan proses pemulihan tanaman konservasi hutan agar menghasilkan bunga sumber nektar bagi koloni lebah.
Baru pada 2024 hingga sekarang, tercipta sinergi penggiat UMKM dengan pebudidaya lebah madu dalam pengembangan produk turunan. Kondisi demikian makin terlihat mendapatkan manfaat keseimbangan lingkungan dan ekonomi melalui upaya budidaya. Koordinator penanggung jawab program budidaya lebah madu sabak, Nanang Yuliyapranata menuturkan program budidaya madu tersebut selain mampu meningkatkan pendapatan, tetapi juga berhasil menjadi bagian dari pendidikan masyarakat, pelajar dan mahasiswa.
Sebagian space tanah di manfaatkan untuk tempat pendidikan, mengenal jenis-lebah melalui tulisan bergambar, hingga melihat koloni lebah melalui sarang transparan yang dibuat dari kaca. "Di tempat ini ada ruang belajar, cara memanen, mengekstrak madu hingga melihat secara langsung koloni lebah dalam frame lebah di kotak," kata dia sambil menunjuk kota kaca tersebut.
Officer Community Involvement and Development Regional 1 Baskoro Adhi Pratomo, menjelaskan bahwa program lebah madu bertujuan membangun sistem agroforestri berbasis konservasi. Kegiatan tersebut secara aktif melakukan revegetasi dengan mengadopsi sistem agroforestri yang terencana dan berlandaskan pada prinsip-prinsip konservasi ekologis.
Saat ini PHE Jambi Merang dengan berbagai pemangku kebijakan telah melakukan revegetasi sebanyak dua ribu tanaman di wilayah Desa Suka Maju, terdiri dari tanaman buah dan bunga. Target utama dari keragaman vegetasi tersebut untuk menciptakan lingkungan yang kaya sumber daya untuk lebah dan polinator lainnya.
Jenis tanaman yang di pilih dalam sistem campur mencakup varietas penghasilan nektar dan serbuk sari sepanjang tahun. Dengan demikian, revegetasi tidak hanya mengembalikan tutupan lahan, akan tetapi secara langsung mendukung peningkatan populasi lebah yang berperan krusial dalam penyerbukan.
Sementara itu, Satrio Mursabdo selaku Manager Field PHE Jambi Merang, mengatakan pengelolaan lingkungan yang baik dan berkelanjutan sangat penting mewujudkan penghematan penggunaan sumber daya energi. Melalui kegiatan program pengembangan masyarakat, merupakan bentuk komitmen perusahaan membangun sinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Memanfaatkan potensi lahan dan kemauan yang dimiliki masyarakat dikembangkan secara kolaborasi, bisa terjadi perubahan aspek pendapatan dan menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayahnya.***
