Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hasil uji coba Biodiesel 50 (B50) atau bahan bakar campuran minyak kelapa sawit (crude palm oil) sebesar 50 persen dengan solar cukup baik.

“Sampai dengan hari ini, uji cobanya alhamdulillah cukup baik,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan uji coba B50 telah berlangsung selama hampir enam bulan. Adapun uji coba B50 dilakukan terhadap alat berat, kapal, kereta api, truk, dan kendaraan lainnya. Saat ini, tahap uji coba masih berlangsung.

“Tetapi, sebentar lagi akan final. Dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50,” kata Bahlil.

Bahlil mengatakan pemerintah sejak dahulu mengupayakan kehadiran energi alternatif, sehingga bisa melepaskan ketergantungan terhadap komoditas impor.

Gejolak geopolitik Timur Tengah yang kini menyebabkan terjadinya krisis energi di tingkat dunia merupakan bukti kerentanan ketahanan energi suatu negara apabila bergantung terhadap impor.

“Bayangkan sekarang kalau kita tidak ada diversifikasi (energi). Kita mau berharap kepada siapa?" kata Bahlil.

Saat ini, pemerintah menerapkan mandatori B40. Ia mengatakan implementasi kebijakan B40 mengurangi impor solar sebesar 3,3 juta kilo liter (kL) dan mengurangi emisi mencapai 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemanfaatan biodiesel domestik Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai 14,2 juta kilo Liter (kL), atau setara dengan 105,2 persen dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan sebesar 13,5 juta kL di tahun 2025.

Kemudian, Presiden Prabowo Subianto menargetkan bahwa campuran kelapa sawit sebesar 50 persen terhadap bahan bakar seperti solar mulai diterapkan pada tahun 2025. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin (30/3).

Prabowo mengatakan langkah tersebut akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih aman dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi global.

Lalu, pada Selasa (31/3), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan Indonesia akan memberlakukan kebijakan B50 mulai 1 Juli 2026 untuk menghemat subsidi senilai Rp48 triliun.

Ia menyampaikan bahwa Pertamina sudah siap untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut.

Kebijakan penerapan B50, kata Airlangga, berpotensi mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) fosil sebanyak 4 juta kiloliter (KL) dalam satu tahun.



Pewarta: Putu Indah Savitri
Uploader : Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026