......Kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) sekitar +0,28......
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di kota-kota besar di Indonesia pada umumnya akan didominasi oleh hujan ringan hingga sedang pada Senin.
Prakirawan BMKG Bintari dalam siaran daring yang diikuti dari Jakarta, melaporkan kota-kota di Sumatera seperti Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bengkulu, Palembang, dan Pangkal Pinang berpotensi hujan ringan hingga sedang. Sementara Jambi dan Bandar Lampung diprakirakan berawan.
“Untuk Pulau Jawa, hujan ringan hingga sedang diprakirakan merata di kota-kota besar seperti di Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Sementara Surabaya berpotensi hujan lebat disertai petir” kata Bintari.
Selanjutnya, untuk wilayah Bali dan Mataram berpotensi diguyur hujan ringan. Adapun Kupang diprakirakan bakal diselimuti awan tebal.
Di Pulau Kalimantan, hujan ringan hingga sedang berpeluang terjadi di Samarinda, Palangkaraya, dan Pontianak. Adapun hujan disertai petir juga perlu diwaspadai di wilayah Tanjung Selor dan Banjarmasin.
Untuk wilayah Sulawesi, cuaca berawan diperkirakan terjadi di Manado dan Kendari, sementara hujan ringan hingga sedang berpotensi mengguyur Makassar, Mamuju, Gorontalo, dan Palu diprakirakan hujan ringan hingga sedang.
Terakhir di Indonesia bagian timur, Bintari menyebutkan cuaca pada umumnya diprakirakan diguyur hujan ringan hingga sedang seperti di Ternate, Nabire, Ternate, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke. Sementara Manokwari diprakirakan berawan dan Sorong berpeluang diguyur hujan lebat disertai petir.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
BMKG menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) sekitar +0,28. Namun demikian, pada semester kedua 2026 kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 persen.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak selalu terjadi bersamaan. Kemarau tetap akan datang setiap tahun di Indonesia. Tapi jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemaraunya akan menjadi jauh lebih kering,” kata dia.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain respons antisipatif pada wilayah dengan potensi curah hujan rendah, penguatan manajemen waduk dan irigasi berbasis data, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, serta kampanye efisiensi penggunaan air dan energi.
Pewarta: Asep FirmansyahUploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026