Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dwi Listyawardani mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan semua pihak merupakan kunci untuk menangani gizi buruk hingga stunting.

"Kami sama-sama memahami masalah stunting ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Kami terbuka untuk bermitra dengan berbagai pihak," katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dwi dalam webinar Katadata SAFE 2021 bertajuk "Nutrition for Next Generation" mengatakan meskipun pemerintah telah memiliki banyak program khusus terkait hal tersebut, masih banyak keterbatasan yang dialami untuk bisa dilakukan secara maksimal, salah satunya terkait pendanaan.

Menurut dia, untuk menggenjot kolaborasi itu, salah satunya melalui program 1.000 mitra untuk 1.000 hari pertama kehidupan. Selain itu, ada pula inisiatif terbaru yang diluncurkan, yaitu Dapur Sehat (Dashat): Atasi Stunting di Kampung Keluarga Berkualitas.

"Kami mengarahkan masyarakat gotong-royong menyediakan nutrisi bagi mereka yang membutuhkan. Kepedulian mulai level kecil hingga tingkat desa, RT/RW," ujarnya.

Dalam sejumlah program tersebut Dwi menegaskan, para mitra bisa langsung berpartisipasi di lapangan. Sehingga pelaksanaannya lebih tepat sasaran dan terpantau dengan baik.

"Kita akan terbuka, melihat kasus stunting bersama-sama dengan mengajak seluruh mitra. Dan alhamdulilah dukungan luar biasa dari perusahaan untuk menyelesaikan stunting secara bersama-sama," ujarnya.

Vice President General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto mengungkapkan hal senada. Kolaborasi penting dilakukan agar lebih terarah dan tepat sasaran dalam upaya mendorong peningkatan nutrisi bagi generasi masa depan.

Lebih lanjut Vera menjelaskan, saat ini ada gerakan yang sedang dilakukan Danone Indonesia untuk meningkatkan nutrisi untuk mewujudkan generasi maju melalui gerakan sosial "Ayo Tunjuk Tangan" untuk mendukung Anak Indonesia dalam pemenuhan nutrisi dan pendidikan.

Selain itu juga ada program Bersama Cegah Stunting, di antaranya edukasi gizi dan pola hidup sehat bagi anak usia PAUD, SD, remaja dan keluarga, edukasi kantin sehat, bantuan akses bersih serta edukasi publik dan media massa.

Selain kolaborasi berbagai pihak untuk mengatasi gizi buruk hingga stunting tersebut, Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Nurul Ratna Mutu Manikam menegaskan pentingnya peran ibu dan ayah.

"Ibu dan ayah harus mendukung nutrisi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Jadi ibu hamil harus komitmen untuk mengonsumsi makanan bernutrisi," katanya.

Perhatian untuk mencegah gizi buruk, menurut dia, harus sudah ditekankan dari sejak masa kehamilan, sehingga masalah tersebut bisa diantisipasi sejak dini.

"Kalau bicara stunting harus diperhatikan sejak kehamilan. Kemudian sejak anak ini lahir penuhi ASI sampai enam bulan dan dilanjutkan dengan MPASI yang memenuhi nutrisi. Konsistensi makanannya juga harus sesuai usia," ujarnya.

Pewarta: Desi Purnamawati

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2021