Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebutkan Indonesia dapat mengambil kesempatan untuk menjadi pengekspor makanan halal meskipun krisis pangan ada di depan mata.

"Sekarang memang lagi krisis pangan ya, oleh karena itu kalau kita bisa mengekspor produk-produk kita terutama makanan dan minuman itu peluang besar sekarang ini, jadi kesempatan," kata Wapres Ma'ruf Amin di Thamrin City Jakarta, Selasa.

Wapres menyampaikan hal tersebut seusai menghadiri acara peluncuran "The State of The Global Islamic Economy Report (SGIE Report) 2022", peresmian "Halal Center Indonesia", Gerakan Retail Modern Peduli Produk Halal dan peluncuran aplikasi "Halal Scanner HALIV".

"Justru kita sedang mengembangkan stoknya (makanan halal). Ini sudah mulai tumbuh. Sebenarnya produk kita itu banyak, hanya memang standarnya harus dikurasi untuk bisa menjadi standar bersaing ekspor. Hanya itu saja," tambah Ma'ruf.

Berdasarkan laporan Status Ekonomi Islami Global 2022, pada 2021 ada sekitar 1,27 triliun dolar AS pengeluaran dari 1,9 miliar warga muslim untuk konsumsi makanan dan minuman.

Indonesia menduduki pasar pertama makanan halal yaitu senilai 146,7 miliar dolar AS disusul Bangladesh (125 miliar dolar AS), Mesir (120,1 miliar dolar AS), Pakistan (87,7 miliar dolar AS) dan Nigeria (86,2 miliar AS). Sedangkan lima besar negara pengekspor makanan halal di dunia adalah Brazil (16,5 miliar dolar AS), India (15,4 miliar dolar AS), Ameriksa Serikat (13,2 miliar AS), Rusia (12,7 miliar dolar AS) dan China (9,5 miliar dolar AS).

"Tadi saya lihat juga produk-produk kita sudah masuk (ke pasar retail). Kalau sudah masuk di retail modern itu berarti sudah siap ekspor. Packagingnya sudah, sertifikasi sudah, berarti kualitasnya sudah. Karena itu kita dorong dulu supaya masuk dulu di retail modern, domestik, kemudian akan dipandu untuk bisa diekspor," jelas Wapres.

Wapres pun menyebut saat ini menjadi kesempatan Indonesia masuk ke pasar makanan halal karena krisis pangan.

"Ini momentum tepat untuk kita kembangkan. Jadi sebenarnya modal kita ada, tinggal bagaimana kita meningkatkan produk-produk kita yang sudah banyak ini," tambah Wapres.

Wapres pun mengapresiasi pengusaha-pengusaha retail dalam memasarkan produk halal di Indonesia.

"Di masing-masing kota, wilayah melalui toko-toko mereka dan ada juga scan halal, yang bisa dicek kebenarannnya, originalitasnya. Saya tadi sudah coba apakah ini bersertifikat halal atau tidak itu kan bisa langsung diketahui melalui barcodenya," ungkap Wapres.

Berdasarkan data yang sama, sektor makanan halal yang naik ke peringkat ke-2 yaitu senilai 1,26 triliun dolar AS.

"Sektor makanan halal menarik untuk dicermati karena dunia saat ini menghadapi persoalan yang sama, yaitu keamanan pangan. Inflasi harga dan gangguan rantai pasok akibat krisis iklim maupun kondisi geopolitik, justru membuka peluang peningkatan perdagangan intra-OKI, investasi pada riset dan inovasi teknologi pangan hingga digitalisasi sistem ketertelusuran halal," tambah Wapres.

Wapres pun menyebut ada pekerjaan besar yang menuntut keterlibatan seluruh sektor dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah untuk saling menyangga dan bekerja sama, sebagaimana prinsip saling tolong menolong (ta'awun) dalam Islam.

Baca juga: Wapres sayangkan Indonesia masih impor produk makanan halal
Baca juga: BI: Indonesia merupakan pasar terbesar makanan halal di dunia
Baca juga: Mendag sebut industri makanan halal dan fesyen muslim RI primadona

Pewarta: Desca Lidya Natalia

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2022