Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi menilai kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi berhasil menjaga stabilitas harga selama Maret 2026, terutama menjelang Ramadhan.
Kepala BPS Provinsi Jambi Aidil Adha di Jambi, Rabu, mengatakan keberhasilan itu tercermin dari inflasi bulanan (month-to-month) tetap terkendali di angka 0,14 persen.
Hal yang sama dapat dilihat dengan inflasi tahun berjalan 0,24 persen dan inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,55 persen.
"Biasanya menjelang Ramadhan dan Lebaran harga daging mengalami kenaikan, tetapi kali ini daging sapi tidak, bahkan cabai merah mengalami penurunan. Ini menunjukkan adanya pengendalian yang cukup baik," jelas Aidil.
Ia mengatakan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran aktif TPID dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga di lapangan.
Berbagai langkah pengendalian dinilai efektif menahan gejolak harga yang umumnya terjadi pada periode hari besar keagamaan.
Meski kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,36 persen. Meski demikian, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar.
Menariknya, di tengah momentum Ramadhan 1447 Hijriah lalu yang biasanya diikuti lonjakan harga pangan, sejumlah komoditas justru mampu ditekan.
Dari sepuluh komoditas utama penyumbang inflasi, hanya daging ayam ras yang mengalami kenaikan, sementara daging sapi relatif stabil dan cabai merah justru mengalami penurunan harga.
Dengan kondisi tersebut, TPID Provinsi Jambi dinilai berhasil menjaga daya beli masyarakat, khususnya dengan menahan lonjakan harga pangan strategis di tengah meningkatnya permintaan.
"Ini adalah salah satu keberhasilan tim TPID Provinsi Jambi untuk menekan inflasi," ujar dia.
Ia menambahkan, secara tahunan inflasi Jambi yang mencapai 3,55 persen lebih banyak dipengaruhi oleh faktor di luar kendali daerah.
Kenaikan tarif listrik yang tidak lagi mendapatkan diskon seperti tahun sebelumnya, serta naiknya harga emas perhiasan di pasar global menjadi penyumbang utama inflasi year-on-year.
"Kalau secara year-on-year, kenaikan inflasi lebih disebabkan oleh tarif listrik dan emas perhiasan. Itu bukan dari sisi pengendalian daerah, melainkan faktor kebijakan pusat dan harga secara global," katanya.
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2026