Kota Jambi (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi pantau harga cabai merah dan cabai rawit menjelang bulan Ramadhan mengingat harga dua komoditas itu sering tidak terkendali akibat keterbatasan pasokan.
"Dua komoditas yang masih harus dijaga saat ini cabai rawit, harganya masih cukup tinggi di lapangan. Kalau cabai merah sudah cenderung stabil," kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jambi Syamsurizal di Jambi, Selasa.
Syamsurizal menjelaskan, dari hasil pemantauan terbaru, sebagian besar komoditas pangan di Provinsi Jambi masih terkendali.
Berdasarkan pantauan dari sistem informasi harga sembako Kota Jambi di pasar induk Angso Duo (13/1), untuk cabai merah terpantau stabil di kisaran harga Rp25 ribu per kilogram (Kg), cabai rawit hijau cenderung turun Rp45 ribu per Kg (minus 22.4 persen), cabai rawit merah turun menjadi Rp40 ribu per Kg (minus 27,2 persen).
Menghadapi bulan puasa, dalam waktu dekat tim pengendalian inflasi daerah (TPID) akan melaksanakan rapat evaluasi untuk memantau pergerakan harga kebutuhan pokok di Provinsi Jambi.
Dengan rapat itu, pemerintah bisa mengambil langkah intervensi, mencari formulasi terbaik dalam menekan kenaikan sejumlah kebutuhan pokok menjelang dan selama bulan suci Ramadhan dan menghadapi hari raya Idulfitri.
"Minggu depan kita akan rapat lagi sebagai persiapan menghadapi bulan puasa. Kita lihat formulasi intervensi seperti apa," jelas dia.
Lanjut dia, daerah yang menjadi perhatian terikat harga cabai rawit saat ini berada di Kabupaten Kerinci dan Bungo. Saat ini rencana intervensi termasuk kemungkinan operasi pasar akan dibahas lebih lanjut setelah berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah dan Gubernur Jambi.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi sebelumnya telah melakukan operasi pasar, salah satunya pada bulan Desember 2025 menjelang tutup tahun. Operasi semacam itu, terbukti ampuh dalam menekan harga pasar terhadap komoditas yang mengalami lonjakan harga.
Berdasarkan asumsi, Masyarakat Provinsi Jambi dengan populasi penduduk 3,7 juta jiwa butuh pasokan cabai sekitar 25 ton per hari. Selain berasal dari petani lokal, cabai umumnya di datangkan dari daerah penghasil cabai di wilayah Curup (Bengkulu) dan Solok Selatan (Sumbar).
"Setelah ini saya akan lapor dulu ke pak Sekda, terus bertahap kita akan menyampaikan ke bapak gubernur, nanti dinas terkait akan kita panggil untuk menentukan langkah selanjutnya. Rapat pengendalian inflasi seperti ini rutin dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas harga pangan," jelas Syamsurizal.
